sifat allah
sifat allah

Akidah Aswaja : Kalamullah tanpa Suara dan Huruf

Di dalam al Qur’an, Allah swt mensifati dirinya dengan sifat kalam (berbicara). Dalam hal ini, hampir semua ummat Islam tidak ada yang mengingkarinya. Begitu juga Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan kalam sebagai sifat Allah swt. Bahkan, Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan sifat kalam sebagai sifat wajib yang harus ada pada Allah swt.

Adapun dalil sifat kalam diantaranya yaitu:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Artinya: “Dan Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as dengan benar-benar berfirman” (QS. An Nisa: 164)

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Utusan-utusan itu sebagian kami mulyakan atas sebagian yang lain, dan sebagian Allah swt berfirman kepadanya dan mengangkat derajatnya” (QS. 253)

Ayat-ayat tersebut menetapkan bahwa Allah swt benar-benar berfirman. Hanya saja yang menjadi persoalan berikut, Apakah Allah swt dalam berfirman mengandung huruf dan suara atau tidak ?

Di sinilah kemudin perdebatan mulai menjadi panjang lebar. Bahkan satu sama lain saling mengkafir-kafirkan.

Menurut orang-orang yang beraqidah tajsim dan tasybih, seperti Salafy Wahaby, mengatakan kalam Allah swt terdiri dari huruf dan suara. Karena sebuah ucapan pasti berbentuk suara dan mengandung huruf-huruf. Hanya saja suara dan hurufnya Allah swt tidak sama dengan suara dan hurufnya makhluk.

Ibn Taimiyah salah satu ulama Salafy Wahaby yang hidup di abad ke 7 mengatakan:

وَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَتَكَلَّمُ بِصَوْتِ كَمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ الصِّحَاحُ وَلَيْسَ ذَلِكَ كَأَصْوَاتِ الْعِبَادِ لَا صَوْتِ الْقَارِئِ وَلَا غَيْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah ta’ala berbicara menggunakan suara sebagaimana diterangkan hadits-hadits shahih. Dan suara Allah swt tidak sama dengan suara hamba-hambanya, tidak sama juga dengan suaranya orang yang membaca tidak pula dengan lainnya”[1]

Begitu juga Utsaimin ulama’ Salafy Wahaby yang hidup pada akhir abad ke 14 dan awal abad ke 15 berkata:

وَفِي قَوْلِهِ : “فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ” فِي هَذَا إِثْبَاتُ الْقَوْلِ لِلّٰهِ وَأَنَّهُ بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ. لِأَنَّ أَصْلَ الْقَوْلِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ بِصَوْتٍ

Artinya: “Pada perkataan “lalu Allah swt berkata: Barang siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan mengabulkannya”. Pada hadits ini bukti penetapan firman Allah swt, dan pada firman Allah swt menggunakan huruf dan suara. Karena hukum asal dari berbicara harus ada suara”[2]

Apa yang dikatakan kedua ulama’ Salafy Wahaby di atas menunjukkan akidah mereka bertentangan dengan akal sehat manusia. Sebab suara dan huruf adalah makhluk, sementara makhluk bersifat huduts (baru). Sehingga tidak boleh suara atau huruf dijadikan sifat atau bagian dari diri Allah swt. Mengatakan Allah swt bersuara dan berhuruf sekalipun tidak sama dengan suara dan hurufnya makhluk tetap saja menggambarkan Allah swt dengan sebuah jisim. Sedangkan menggambarkan Allah swt memiliki jisim sudah jelas menggambarkan sosok Allah swt sama dengan ciptaan_Nya.

Begitu juga ketika dikatakan bahwa setiap pembicaraan pasti mengandung suara dan huruf dan tidak mungkin ada pembicaraan yang tidak mengandung kedua unsur tersebut, adalah pernyataan yang bathil, yang seharusnya tidak muncul dari orang berakal. Dan ini menunjukkan bagaimana sebenarnya mereka menggambarkan Allah swt dengan sifat-sifat manusia. Karena secara dhahir, manusia berbicara mengandung suara dan huruf. Padahal di sisi lain, manusia pun menyadari bahwa berbicara ada dua; 1) Berbicara menggunakan lisan dan 2) Berbicara menggunakan hati. Berbicara yang mengandung unsur suara dan huruf jika berbicara menggunakan lisan. Jika berbicara menggunakan hati maka tidak perlu ada suara dan huruf.

Jika manusia saja menyadari bahwa dirinya dapat berbicara tanpa suara dan huruf, jelas sangat mungkin bagi Allah swt berbicara tanpa suara dan tanpa huruf. Sebab itulah Ahlussunnah wal Jama’ah berpendapat Allah swt berfirman tanpa suara dan huruf.

Sebab itulah Ahlussunnah wal Jama’ah tetap konsisten dengan keyakinannya bahwa Allah swt suci dari jisim, suci sama dengan makhluknya serta suci dari sifat butuh kepada yang selainnya. Ahlussunnah wal Jama’ah juga meyakini bahwa kalam Allah swt bukan makhluk. Sebab itu, kalam Allah swt tidak ada yang lebih awal dan yang lebih akhir. Kalam Allah swt harus bersih dari unsur-unsur makhluk seperti adanya huruf dan suara. Karena yang demikian pasti bersifat baru (huduts) dan tentu ada yang mendahuluinya. Padahal Allah swt sendiri berfirman:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْأَخِرُ

Artinya: “Dialah Allah yang awal dan yang akhir” (QS. Al Hadid: 3)

Imam besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal dengan Imam al Haramain berkata: “Tuhan maha suci dari penerimaan terhadap sifat-sifat baru. Seluruh golongan agama dan aliran sepakat terhadap hal ini”

Pendapat yang mengatakan bahwa kalam Allah swt tidak bersuara dan berhuruf sebenarnya pendapatnya ulama’-ulama’ hadits. Imam al Qasthalani mengatakan: Tidaklah berbeda dalam hal itu (adanya kalamullah) satu pun dari berbagai sekte dan mazhab. Perbedaan pendapat hanyalah dalam hal makna kalamullah, tidak-berawalnya kalamullah, dan kebaruannya. Adapun menurut para Ahli Hadits bahwasanya kalamullah tidaklah berupa jenis suara dan huruf tetapi merupakan sifat yang ada tanpa awal mula (azali) yang berada pada Dzat Allah Ta’ala yang meniadakan adanya diam yang nota bene meninggalkan kalam padahal mampu.”[3]

Jadi jelas bahwa ummat Islam sejak zaman dahulu yang diprakarsai dari ahlulhadits sepakat bahwa Allah swt berfirman tidak bersuara dan menggunakan huruf.

Wallahu a’lam


[1] Ibn Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, Juz 12, Hal 244

[2] Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasail Utsaimin, Juz 1, Hal 212

[3] Al Qasthalany, Irsyad al Sari, Juz 10, Hal 428

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (3) : Wahabi Beraqidah Mujassimah dan Musyabbihah

Mujassimah adalah berkeyakinan bahwa Allah swt terdapat jizim (anggota tubuh) sekalipun jizim tersebut tidak sama …

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (2) : Kesesatan dalam Akidah

Menarik apa yang dikatakan oleh Syaikh As Showi Al Maliki ketika menafsirkan ayat 6 surat …