sifat allah
sifat allah

Akidah Aswaja tentang Sifat Allah (1) : Mengenal Sifat-Sifat Wajib bagi Allah

Di antara kewajiban seorang muslim adalah mengetahui sifat-sifat wajib bagi Allah swt. Sifat wajib bagi Allah swt artinya sifat yang harus ada pada diri Allah swt sebagai Tuhan, bukan berarti bahwa Allah harus melakukan suatu hal sebagaimana dalam Fiqh. Karena menciptakan dan meniadakan suatu hal tidak wajib sama sekali bagi Allah swt.

Dalam akidah Ahlussunah wal Jama’ah (aswaja) sifat yang wajib bagi Allah swt ada dua puluh sifat. Dua puluh sifat tersebut yaitu:

1. Wujud artinya ada

2. Qidam artinya dahulu

3. Baqa’ artinya kekal selamanya

4. Mukhalafatuhu lil hawadits artinya berbeda dengan hal yang baru (makhluk)

5. Qiyamuhu binafsihi artinya ada dengan sendirinya

6. Wahdaniyat artinya esa, tidak ada yang lain

7. Qudrat artinya kuasa

8. Iradah artinya berkehendak

9. Ilmu artinya mengetahui

10. Hayah artinya hidup

11. Sama’ artinya mendengar

12. Bashar artinya melihat

13. Kalam artinya Berfirman

14. Qadiran artinya yang maha berkuasa

15. Muridan artinya yang maha berkehendak

16. Aliman artinya yang maha mengetahui

17. Hayyan artinya yang maha hidup

18. Samian artinya yang maha mendengar

19. Bashiran artinya yang maha melihat

20. Mutakalliman artinya yang maha berfirman

Kedua puluh sifat ini merupakan sifat esensial yang harus dimiliki oleh Allah swt sebagai Tuhan. Seandainya satu saja dari sifat-sifat di atas tidak terpenuhi maka tidak layak dikatakan sebagai Tuhan yang wajib disembah. Sebab itu, sifat-sifat yang menjadi kebalikan dari sifat-sifat wajib di atas menjadi mustahil berada pada Allah swt. Seperti sifat bisu sebagai lawan dari sifat kalam (berfirman).

Sangat mustahil bagi Allah swt sebagai Tuhan yang mengatur kehidupan seluruh jagat namun ia tidak mampu menyampaikan aturan-aturannya kepada ciptaannya. Sifat bodoh, tidak mengetahui suatu hal sebagai lawan dari sifat ilmu (mengetahui). Mustahil bagi Allah swt memiliki sifat bodoh. Lalu bagaimana Allah swt akan memberikan kemaslahatan kepada kehidupan jika ia sendiri tidak paham apa yang harus diperbuat. Begitu juga sifat-sifat selanjutnya.

Baca Juga:  Smart Pakem: Celah Gerakan Intoleransi & Radikalisme ???

Dalam Ahlussunnah wal Jama’ah ke dua puluh sifat wajib bagi Allah swt diklarifikasi menjadi empat kategori:

Pertama, Sifat Nafsiyah. Sifat Nafsiyah adalah sifat yang harus ada pada diri Allah swt tanpa perlu bergantung kepada sifat lainnya. Sifat ini berkaitan langsung dengan eksistensi dzat Allah swt. berbeda dengan sifat Ma’nawiyah, misal, masih bergantung kepada sifat Ma’any.

Sifat Nafsiyah ini hanya ada satu dari dua puluh sifat wajib bagi Allah swt, yaitu sifat wujud (ada).

Kedua, Sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat yang meniadakan sifat-sifat yang tidak layak kepada Allah swt. Seperti Qidam (dahulu) yang meniadakan sifat baru. Dan Baqa’ yang meniadakan sifat akhir.

Sifat Salbiyah ini ada lima sifat, yaitu: 1) Qidam, 2) Baqa’, 3) Mukhalafatuhu Lil Hawadits, 4) Qiyamuhu binafsihi, dan 5) Wahdaniyah.

Ketiga, Sifat Ma’any. Sifat Ma’any adalah sifat-sifat yang menunjukkan adanya kesempurnaan pada dzat Allah swt. Seperti Qudrat (berkuasa), artinya Allah swt berkuasa terhadap apapun. Dia mampu mewujudkan dan meniadakannya.

Sifat Ma’any ada tujuh sifat, yaitu: 1) Qudrat, 2) Iradat, 3) Ilmu, 4) Hayah, 5) Sama’, 6) Bashar dan 7) Kalam.

Keempat, Sifat Ma’nawiyah, yaitu sifat-sifat yang menjadi konsekwensi dari sifat Ma’’any. Sifat Ma’nawiyah muncul karena adanya sifat Ma’any. Ketika Allah swt memiliki sifat Qudrat yang artinya berkuasa terhadap apapun, maka berarti Allah swt maha kuasa dari apapun dan siapapun. Sebab tidak ada yang lebih berkuasa selain Allah swt.

Sifat Ma’nawiyah ini ada tujuah, yaitu 1) Qadiran, 2) Muridan, 3) Aliman, 4) Hayyan, 5) Sami’an, 6) Bashiran dan 7) Mutakalliman.

Demikian sifat-sifat yang wajib diketahui oleh seorang muslim sebelum mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya. Sebab itu orang tua wajib menanamkan aqidah sebelum mengajarinya kewajiban-kewajiban yang lain[1]. Penanaman aqidah ini sudah berlaku sejak anak menginjak usia tamyiz.

Baca Juga:  Sesajen, Pastikah Syirik ?

Sejak itulah orang tua memiliki beban tanggung jawab besar terhadap anaknya untuk memperkenalkan siapa Tuhannya. Sebagai konsekwensinya, maka orang tua menjadi berdosa jika lalai terhadap kewajiban ini. Diantara aqidah yang mutlak harus ditanamkan kepada anak adalah mengetahui sifat wajib bagi Allah swt yang dua puluh beserta lawan dari sifat-sifat wajib tersebut.

Wallahu a’lam


[1] Muhammad Syatha al Dimyati, Hasyiah I’anah al Thalibin, Juz 1, Hal 35

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …