Aku atau Anda Pengikut Salafi?

0
1548
pengikut salaf

Seringkali dalam mimbar dakwah di masjid, mushalla, majlis taklim, perkumpulan pengajian dan yang tersebar melalui platform media sosial, para ustadz maupun ustadzah mengaku sebagai bagian dari pengikut ulama salaf. Namun, setelah mendengarkan isi ceramahnya banyak sekali yang menyimpang bahkan sama sekali tidak mencerminkan dari ajaran para ulama salafus shalih tersebut.

Dalam hal, ini banyak sekali mereka mengklaim sebagai pengikut ulama salaf, tetapi tidak dengan yang diajarkan. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan penceramah tentang sejarah dari salafus shalih itu sendiri. Agar tidak terjadi disinformasi maupun ketersesatan dalam mendalami ilmu agama, baiknya mengetahui sejarah dari salafus shalih dan siapa saja yang termasuk dalam ulama salaf.

Siapa Ulama Salaf?

Salaf adalah nama “zaman” yaitu merujuk kepada golongan ulama yang hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad SAW hingga 300 Hijriyah. Tiga kurun pertama bisa diartikan tiga abad pertama (0-300 H). Golongan pertama atau orang-orang yang hidup semasa dengan Nabi disebut “Sahabat Nabi” karena mereka bertemu dan bergaul dengan Nabi SAW.

Generasi kedua disebut “Tabi’in” yaitu golongan orang yang bertemu dengan sahabat Nabi dan mereka tidak pernah bertemu dengan Nabi SAW. Lalu generasi ketiga disebut sebagai “Tabi’ Tabi’in” yaitu, orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan sahabat Nabi, namun mereka berjumpa dengan Tabi’in.

Imam Abu Hanifah lahir 80 H (Pendiri Mazhab Hanafi) merupakah salah satu ulama yang berjumpa dan bahkan berguru dengan salah seorang Tabi’in terkenal di kota Makkah yaitu Atha bin Abi Rabah. Beberapa ilmuwan dan ulama juga mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah sempat berjumpa dengan sahabat Nabi di antaranya Anas bin Malik, Sahl bin Sa’d dan Jabir bin Abdullah.

Sementara tiga imam pendiri mazhab lainya yaitu Imam Maliki (93 H), Imam Syafi’ie (150 H) dan Imam Hanbali (164 H) merupakan Tabi’it Tabi’in karena hanya berjumpa dengan para Tabi’in. Keempat imam dan pendiri mazhab inilah yang merupakan golongan salaf dan pengikut mereka yang kemudian sangat layak digelari “Salafi” atau “Salafiyah” karena “Salafi” maksudnya adalah pengikut dari golongan ulama Salaf.

Di beberapa negara muslim keempat imam tersebut menjadi rujukan. Di Indonesia keempat madzhab menjadi rujukan, meskipun mazhab yang paling banyak dijadikan manhaj adalah mazhab Syafi’i yang sanad keilmuanya langsung kepada tabi’in, sahabat hingga ke Rasulullah.

Lalu, Bagaimana dengan Ulama Rujukan “Salafi”?

Sekarang mulai banyak muncul pendakwah yang selalu membid’ahkan amalan-amalan orang yang bermazhab Syafi’i. Mereka berpandangan bahwa ritualitas ibadah yang tidak ada pada zaman rasulullah merupakan bid’ah yang mendatangkan dosa hingga haram untuk diikuti. Mereka ini kemudian mengklaim diri sebagai pengikut salaf atau dikenal salafi.

Sebenarnya apabila ditelusuri, golongan ini adalah para pengikut ulama abad pertengahan yang tidak berjumpa dengan para tabi’it tabi’in, apalagi berjumpa dengan sahabat dan Rasulullah. Ulama yang seringkali menjadi rujukan adalah Ibnu Taimiyah, lahir (661 H). Kelahiran Ibnu Taimiyah jauh setelah berakhirnya era salaf yaitu 361 tahun.

Selanjutnya adalah Nashiruddin Al-Albani lahir (1333 H) 1033 tahun setelah berakhirnya zaman salaf. Lalu Muhammad Abdul Wahhab, tokoh pendiri gerakan Wahabi yang Lahir (1115 H) 815 tahun setelah berakhirnya masa era salaf. Lalu ada pula Bin baz lahir 1330 H, artinya 1030 tahun setelah era salaf, dan Al-Utsaimin lahir 1928 Masehi wafat tahun 2001. Semua ulama tersebut hidup di akhir zaman kecuali Ibnu Taimiyah yang hidup diantara zaman ulama salaf dan periode akhir zaman.

Terlihat sangat pongah dan sombong jika golongan “salafi” ini menisbahkan diri pengikut ulama salaf, sementara mereka memutus diri dengan khazanah pemikiran dan kitab yang dikarang oleh ulama salaf yang sebenarnya. Mereka kadang menolak bermadzhab, tetapi menjadikan tokohnya sebagai idola melebihi bermadzhab.

Berteriak-teriak memurnikan ajaran Islam seolah ulama madzhab yang tergolong salaf sudah mengotori ajaran Islam. Berteriak kembali ke Qur’an dan hadist seolah-olah ulama madzhab salaf tidak menggali kepada Qur’an dan hadist.

Mereka ulama madzhab salaf dan pengikutnya sudah berada dan lama berkecimpung dengan hadist. Mereka tidak perlu slogan kembali Qur’an dan hadist. Slogan ini hanya cocok bagi yang sudah lama melupakan Qur’an dan hadist. Sementara sumber air hukum mahdzhab adalah Qur’an dan hadist.

Dengan mengetahui periodisasi dan sejarah lahirnya para ulama Salaf, maka dapat diketahui dengan jelas siapa sebenarnya pengikut ulama Salaf, Aku atau Anda!