Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib: Peletak Dasar Ilmu Pengetahuan Islam

Sepeninggal Khalifah Usman, kondisi umat Islam mulai tidak stabil, kalau tidak dikatakan kacau. Ada dua persoalan besar yang harus diselesaikan saat itu, yaitu mencari pengganti Usman sebagai khalifah pemimpin umat sekaligus mencari pembunuh Usman.

Dalam kondisi yang pelik tersebut, Ali bin Abi Thalib “dipaksa” untuk menjadi khalifah. Ali menolak. Ia menyarankan agar mendahulukan para senior, seperti Talhah dan Zubair. Tetapi umat Islam tetap memaksa. Akhirnya, Ali tiada kuasa menolak. Enam hari pasca meninggalnya Usman, Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah diangkat menjadi khalifah keempat. Persoalan pertama selesai, meskipun menimbulkan permasalahan berikutnya.

Ali bin Abi Thalib naik menjadi khalifah ketika umat di ujung tanduk perpecahan. Barangkali hanya Ali saja, khalifah yang tidak didukung oleh seluruh umat Islam, seperti ketiga khalifah sebelumnya. Talhah dan Zubair, kedua sahabat yang termasuk Assabiqunal Awwalun tidak mengakui kepemimpinan Ali. Mereka memiliki pengikut setia di Hijaz dan Iraq. Hal yang sama juga dilakukan Siti Aisyah, istri Rasulullah Saw. Ketiganya kemudian menggalang kekuatan, menentang pemerintahan Ali.

Dan, sejarah kemudian mencatat, terjadi perang saudara antara Ali melawan gabungan kekuatan Aisyah, Talhah dan Zubair. Pertempuran tersebut terjadi pada 9 Desember 656 M. Perang itu dikenal dengan perang Jamal (unta), karena Aisyah menunggang kuda. Pada perang tersebut, Talhah dan Zubair gugur. Hitti dalam History of The Arabs mengatakan bahwa Ali meratapi kematian Talhah dan Zubair. Ia kemudian menguburkan keduanya dengan penuh penghormatan. Sementara Aisyah yang tertangkap diperlakukan dengan sangat hati-hati. Aisyah lalu dikembalikan ke Madinah.

Perang Jamal telah usai, tapi tidak membuat kondisi pemerintahan Ali stabil. Adalah Muawiyah bin Abu Sofyan, kerabat Usman bin Affan yang begitu getol menentang pemerintahan Ali. Muawiyah yang menjadi Gubernur Suriah memiliki pengikut setia di sana. Saat itu, Muawiyah dengan cerdik memainkan emosi umat Islam. Ia menyudutkan Ali dengan dua pilihan: menyerahkan pembunuh Usman atau bertanggung jawab atas kematian Usman dengan turun dari kursi kekhalifahan. Sampai di sini, persoalan kedua yang dijelaskan di awal pembahasan, belum selesai.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir Raudhatul Irfan Fi Ma’rifati al-Qur’an, Tafsir berbahasa Sunda Karya K.H. Ahmad Sanusi

Perselisihan antara Ali dan Muawiyah semakin meruncing. Hingga akhirnya pecah perang saudara untuk kedua kalinya tahun 657 M. Perang yang dikenal dengan perang Shiffin tersebut membagi umat Islam menjadi dua, yaitu pendukung Muawiyah dan pendukung Khalifah Ali. Pada perang itu, Ali membawa 50.000 pasukan orang Irak, sementara Muawiyah membawa pasukan dari Suriah. Pasukan Ali hampir menang. Tetapi, pemimpin pasukan Muawiyah, Amru bin Ash dengan cerdik–kalau  tidak dikatakan licik–mengangkat  mushaf al-Qur’an dengan tombaknya. Artinya, perang harus berhenti dan mengikuti keputusan al-Qur’an.

Ali kemudian menerima tawaran pihak Muawiyah. Ia bersedia berunding untuk menyelesaikan persoalan di antara mereka dan menyelamatkan nyawa banyak umat Islam. Perundingan tersebut pada akhirnya membawa persoalan yang lebih rumit lagi. Benar bahwa perundingan itu mengakhiri perang Shiffin, tapi di sisi lain sekaligus menjadi tanda berakhirnya kepemimpinan Ali sebagai Khalifah. Belum lagi, pasca peristiwa arbitrase tersebut, Ali kehilangan banyak pengikut. Mereka keluar dari barisan Ali dan menamakan diri Khawarij. Kaum khawarij ini nantinya yang menjadi duri bagi kekhilafahan hingga masa Dinasti Abbasiyah.

Dalam catatan Hitti, pada 24 Januari 661, Ali yang sedang dalam perjalanan menuju Masjid Kuffah, terkena sabetan pedang beracun di dahinya. Sabetan tersebut diayunkan oleh kaum Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Ali bin Abi Thalib akhirnya wafat. Ia adalah khalifah ketiga dari Khulafaur Rasyidun yang meninggal karena dibunuh, setelah Umar dan Usman.

Menginisiasi Ilmu Nahwu

Ali bin Abi Thalib memang menjadi khalifah dalam kondisi yang tidak tepat. Bibit-bibit perpecahan umat Islam yang sudah ada pada masa Usman, kemudian memuncak pada masa Ali. Meskipun demikian, Ali bin Abi Thalib masih sempat memikirkan perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Tanpa mengurangi peran khalifah sebelumnya, dari ketiga khalifah lainnya, mungkin hanya Ali yang memiliki fokus terhadap pengembangan ilmu-ilmu Islam, utamanya ilmu nahwu.

Baca Juga:  Viral Lagu Aisyah Istri Rasulullah : Ini Fakta-Fakta tentang Sayyidah Aisyah yang Wajib Kamu Ketahui (2)

Pada masa kepemimpinannya, Ali memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah, Irak. Ia menjadikan Kufah sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam seperti nahwu, tafsir, dan hadits. Pada masanya juga, wilayah Islam sudah terbentang luas, meliputi berbagai wilayah. Agama Islam tidak hanya dipeluk oleh masyarakat Jazirah Arab saja. Tentu, banyak yang tidak paham tata bahasa arab. Apalagi, dulu belum ada harakat di huruf Arab.

Mengantisipasi kesalahan dalam memahami bahasa Arab, Khalifah Ali meminta Abul Aswad ad-Dualy untuk membuat tata bahasa Arab. Siapa Abul Aswad ad-Dualy? Ia murid dari sang khalifah Ali. Nama aslinya Dzalam bin Amru bin Sufyan bin Jandal bin Yu’mar bin Du’ali. Ia mendapatkan amanat dari Ali untuk merumuskan ilmu nahwu dan membuat tata kaidah bahasa Arab. Ia pula yang memberikan tanda baca di ayat-ayat al-Qur’an.

Hanya saja, saat itu tanda baca al-Qur’an masih sangat sederhana berupa titik berwarna merah sebagai syakal kalimat. Titik di atas huruf dimaknai “a”, satu titik di bawah huruf dibaca “i” dan satu titik di sebelah kiri huruf bermakna “u”. Sementara untuk tanwin, tinggal menambahi satu titik lagi hingga menjadi dua buah. Pada perkembangan selanjutnya, sistem yang dibuat oleh Abul Aswad atas perintah Khalifah Ali dilanjutkan oleh murid-muridnya menjadi seperti yang kita kenal saat ini.

Demikianlah peran Khalifah Ali sebagai peletak dasar ilmu pengetahuan Islam, utamanya ilmu Nahwu. Dari ilmu nahwu, ilmu-ilmu keislaman lainnya kemudian lahir. Sebagaimana diketahui, Ilmu sharaf adalah induknya ilmu, sedangkan ilmu nahwu adalah bapaknya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Nur Rokhim

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY