Kh Abdullah Faqih Al Hafidz
Kh Abdullah Faqih Al Hafidz

Tahun ini kerajaan Arab Saudi tidak menerima jama’ah haji dari negara manapun. Hal ini dilakukan untuk mencegah terus menularnya virus Corona yang memang sudah mewabah di hampir seluruh negara di dunia.

Kabar batalnya pemberangkatan jama’ah haji membuat sebagian besar jama’ah yang sedianya akan berangkat tahun ini merasa sangat sedih. Betapa tidak, mereka sudah menunggu bertahun-tahun agar bisa berangkat haji tetapi kenyataannya sekarang mereka belum bisa diberangkatkan. Ini semua sesungguhnya sudah taqdir Allah SWT. Masih ada tahun depan.

Melihat animo masyarakat Indonesia untuk berhaji memang sangat tinggi sekali, berakibat antrian tunggu dibeberapa daerah menjadi sangat lama. Ada yang 8 -15 tahun antriannya. Perlu diketahui Bersama bahwa salah satu syarat berangkat haji adalah orangnya mampu. Mampu secara fisik dan finansial.

Di era modern ini, ada beberapa cara agar seseorang bisa berangkat haji. Cara yang paling mainstream yakni dengan cara membayar uang untuk berangkat haji kisaran 35-40 juta. Cara ini sangat mudah sekali untuk orang yang kaya secara finansial. Ataupun orang yang kurang mampu bisa menabung bertahun-tahun untuk membayar sejumlah uang diatas.

Cara yang kedua mungkin ini bisa ditempuh oleh orang-orang tertentu, semisal panitia haji atau orang yang ditugasi untuk mengatur jalannya ibadah haji para jama’ah di Indonesia yang kemudian sama-sama berangkat berhaji di Arab Saudi. Bisa juga dengan jalur prestasi.

Mengingat banyak sekali perlombaan yang hadiahnya berangkat haji/umroh, seperti lomba tahfidz dan lain sebagainya. Mungkin bisa kita berangkat haji melalui pemberian orang lain misalnya atas dasar dedikasi kita. Tetapi hal ini untuk orang-orang yang beruntung saja.

Bagi orang yang tidak termasuk kategori-kategori diatas, tidak kaya, tidak punya prestasi ataupun tidak punya dedikasi yang diperhitungkan, tetapi sangat ingin berhaji juga, mungkin bias lakukan amalan seperti yang dilakukan oleh KH. Abdullah Faqih al-Hafidz Malang.

Beliau adalah santri kesayangan KH. Arwani saat nyantri di Pondok Yanbu’ul Qur’an Kudus. Dalam kesehariannya beliau terkenal menjaga hafalan al-qur’annya dengan sangat baik, bersahaja dermawan. Habib Luthfi bin Yahya pun mengenal KH. Abdullah Faqih al-Hafidz dengan keikhlasannya dalam segala hal.

Di antara pesan-pesan beliau kepada santrinya tentang trik menjaga Al-Quran. Yakni Pertama, untuk menghafal Al-Quran, seorang (guru) harus menjaga diri dan santrinya dari makanan-makanan yang tidak jelas (haram/syubhat). 

Kedua, jaga juga lingkungan dengan baik, jangan sampai lingkungan pesantren itu ada ikhtilat (campur antara wanita dan laki). Jika terjadi ikhtilat (campur), maka santrinya kerasan (betah) dan Al-Qur’annya yang akan pergi. 

Ketiga, seseorang yang sedang menghafal Al-Quran juga harus menjaga pergaulan dengan baik. Sebab, pergaulan yang tidak baik, seperti; kebiasan berboncengan antara laki-laki dan wanita sebelum menikah, maka Al-Quran dijamin tidak betah.

Menjaga Al-Quran itu kata beliau, sama dengan menjaga Allah SWT. Karena sesungguhnya Al-Quran itu adalah Kalamullah. Tidak akan mendapatkan kemudahan menghafal Al-Quran jika makanan, perilaku, dan pergaulan tidak sesuai dengan anjuran Al-Quran. Bukankah Nabi SAW mengatakan: ”sesungguhnya Allah itu baik, tidak akan menerima kecuali yang baik”.

Dalam konteks berhaji, beliau ini sudah berangkat haji 7 kali. Lebih hebatnya lagi beliau tidak pernah mendaftar sendiri di kantor urusan Haji. Itu menurut cerita beliau sendiri kepada salah satu santrinya. Dengan heran santrinya bertanya kepada beliau, “kok bisa bah?”

Beliau menjawab dengan senyum khasnya, “aku ndak ndaftar ke pemerintah tapi aku mendaftar langsung kepada Allah swt.”

“caranya bagaimana bah?”,sahut santri itu semakin penasaran.

Jawab beliau,”Dengan membaca Al Qur’an..!”

“aku pernah dikasih resep oleh guruku:

Barangsiapa yang mewiridkan bacaan al Qur’an seminggu hatam, maka tidak sampai 3 tahun insya allah berangkat Haji.”

cara wiridnya :

Jum’at : mulai QS. Al fatihah – sebelum surat Maidah.

Sabtu : mulai QS Al maidah – sebelum surut Yunus.

Ahad : mulai QS Yunus – sebelum surat Bani Israil.

Senin : mulai QS Bani Israil – sebelum Surat Syu’aro.

Selasa : mulai QS Syu’aro – sebelum as Shoffat.

Rabu : mulai Q.S as Shoffat – sebelum Qoff.

Kamis : mulai Q.S Qoff – an_Nas.

Dengan rutin mengamalkan seperti itu,beliau bisa berhaji berulang kali tanpa membayar sendiri..

Mengingat antusiasnya masyarakat Indonesia untuk berangkat haji membuat sebagian orang pergi dahulu ke seorang kiai atau ulama’ untuk meminta amalan atau resep cepat berangkat haji. Fenomena ini sudah dari dulu lazim dilakukan oleh kalangan santri.

Ada banyak sekali amalan-amalan agar cepat berangkat haji dengan mudah dari para kiai atau ulama’. Salah satunya amalan runtin mengkhatamkan al-Qur’an setiap minggu dengan runtutan seperti yang sudah disebutkan diatas. KH. Abdullah Faqih al-Hafidz pun sudah menjalankan amalan itu sesuai dawuh gurunya, mbah Arwani Kudus. Yang demikian, bisa disebut haji yang benar-benar diundang oleh Allah SWT