takbiran
takbiran

Anjuran Memulai Takbiran Memasuki Bulan Dzulhijjah : Kenali Dua Jenis Takbir Hari Raya Idul Adha Ini

Mayoritas umat Islam, terutama yang awam pengetahuan hukum fikih, berasumsi bahwa takbir pada hari raya idul adha di waktu malam hari raya dan pagi sebelum shalat sunnah idul adha. Di perayaan tersebut membaca takbir lazim di kenal dengan takbiran dengan mengeraskan suara dan bersama-sama memeriahkan perayaan Idul Adha.

Namun, sejatinya bertakbir yang sangat dianjurkan ketika memasuki bulan Dzulhijjah dimulai sejak pertama kali kita memasuki bulan tersebut. Lalu, bagaimana keutamaan dan caranya?

Memang ada perbedaan waktu sunnah takbir antara idul fitri dan idul adha. Pada hari raya idul fitri waktu sunnah bertakbir dimulai pada saat matahari tenggelam pada hari terakhir bulan Ramadhan hingga shalat idul fitri. Waktunya relatif singkat.

Sedangkan waktu sunnah takbir hari raya idul adha berbeda dengan waktu takbir idul fitri. Pada hari raya yang juga biasa disebut idul qurban ini ada dua model takbir yang disyariatkan. Meski redaksinya sama. Yakni, takbir mutlak dan takbir muqayyad.

Takbir mutlak adalah takbir yang bisa dikumandangkan kapan saja, di manapun dan dalam keadaan apapun, seperti sambil bekerja, berdiri, duduk, berbaring, dalam kendaraan, dan kondisi yang lain. Bisa dilakukan di rumah, kantor, pasar, masjid dan lain-lain selama bentang waktu yang telah ditentukan. Dimulai pada tanggal satu Dzulhijjah sampai waktu shalat ashar tanggal tiga belas bulan yang sama.

Allah berfirman, “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang”. (QS. Al Baqarah: 203).

Dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, “Supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan”. (QS. al Hajj: 28)

Menurut mayoritas ulama tafsir, yang dimaksud dzikir pada dua ayat di atas adalah bertakbir yang dalam tradisi di Nusantara diistilahkan dengan takbiran.

Baca Juga:  Wapres: Ormas Islam Sepakat Salat Idul Adha di Rumah Masing-masing

Dalam sebuah hadis diceritakan,  menurut Ibnu Abbas yang dimaksud hari yang telah ditentukan adalah tanggal satu sampai sepuluh bulan Dzulhijjah. Sedangkan tafsiran ‘beberapa hari yang terbilang’ adalah hari tasyrik tanggal sebelas, dua belas dan tiga belas Dzulhijjah”. (HR. Bukhari secara Mu’allaq)

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menulis, Daruquthni meriwayatkan, “Dulu Abu Ja’far al Baqir (cucu Ali bin Abi Thalib) bertakbir setiap selesai shalat sunnah di Mina”.

Hal ini sebagaimana anjuran Rasulullah yang memerintahkan umat Islam sejak tanggal pertama Dzulhijjah bertakbir sendiri-sendiri. Bagi laki-laki takbir mutlak ini sunnah dengan suara keras ketika berada di tempat keramaian. Seperti di pasar dan tempat biasa orang berkumpul.

Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu amalanpun yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal satu sampai sepuluh Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut”.  (HR. Daruquthni)

Ibnu Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. Yakni, sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan pada hari-hari tasyrik”.

Di samping hadis-hadis di atas, masih banyak hadis lain walaupun dengan redaksi yang sedikit berbeda tentang keutamaan takbir mutlak yang dimulai sejak memasuki hari pertama bulan Dzulhijjah sampai hari raya idul adha tanggal sepuluh.

Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang terikat waktu. Yaitu takbir setelah shalat berjamaah. Khusus takbir ini ada sedikit perbedaan antara mereka yang sedang mengerjakan ibadah haji dan tidak. Untuk yang sedang menunaikan rukun Islam yang kelima takbir muqayyad ini sunnah dikumandangkan sejak masuk waktu dhuhur pada saat hari raya idul adha sampai akhir hari tasyrik. Sedangkan bagi yang tidak berhaji sunnah dimulai sejak waktu subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai berakhirnya hari tasyrik tanggal 13 setelah shalat ashar.

Baca Juga:  Memahami Makna Berkah di Balik Sahur

Ada beberapa hadis yang manjadi dasar takbir muqayyad ini. Diantaranya, dari Umar bin Khattab, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dhuhur tanggal 13 Dzulhijjah”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).

Dari Ibnu Abbas, bahwa beliau bertakbir setelah shalat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzulhijjah)”. HR. Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mc perempuan

Kasus MC Perempuan dan Sikap Islam Terhadap Kesetaraan Gender

Belum lama berlalu, media ramai membicarakan kasus MC perempuan di Bali yang diwajibkan melakoni pekerjaannya …

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …