sifat allah
sifat allah

Apakah Allah Memiliki Sifat Diam? (2): Akidah Aswaja Menafikan Sifat Sukut Pada Allah

Ahlussunnah wal Jama’ah (aswaja) yang mengikuti pendapat ahlul hadits, ahluttafsir dan ulama Fiqh sepakat bahwa Allah swt wajib memiliki sifat kalam, sebab itu aswaja menafikan sifat abkam (bisu), karena sifat abkam bertentangan dengan tabiat ketuhanan serta tidak sesuai dengan nash-bash al Qur’an  dan al Hadits.

Aswaja juga sepakat bahwa kalam Allah swt adalah azalay (tanpa permulaan), serta kalam Allah swt tidak berbentuk suara, huruf dan gelombang. Intinya kalam Allah swt bukanlah makhluk sebagaimana kalam manusia. Kalam Allah swt merupakan sifat yang melekat pada Allah swt yang harus wujud pada diri Allah swt.

Sifat abkam bagi Allah swt yang ditolak oleh Aswaja bahkan dapat dikatakan ijma’ muslimin tidak menafikan perselisihan pendapat tentang sifat sukut (diam) pada Allah. Jika pada tulisan sebelumnya dijelaskan bahwa Salafi Wahabi al Musyabbihah yang mengikuti pola pikir Ibn Taimiyah menyimpulkan Allah swt juga memiliki sifat sukut setelah berfirman atau sukut terhadap memberi tahu tentang suatu hal, dan sifat ini mungkin terjadi pada Allah swt, karena sebagai kesemurnaan bagi Allah swt. kesimpulan itu tidak benar bagi Ahlussunnah wal Jama’ah. Ahlussunnah wal Jama’ah menolak secara tegas terhadap sifat sukut bagi Allah swt karena dua hal:

1.  Sifat sukut setelah melakukan suatu aktifitas atau enggan menyampaikan suatu hal adalah sifat makhluk. Menyimpulkan ada diam setelah berbicara itu muncul karena seseorang melihat kodrat manusia dimana setelah selesai berbicara kemudian ia akan diam. Ini menunjukkan keterbatasan pengetahuan manusia terhadap apa yang hanya pernah dilihatnya saja. Maka sesuatu yang tidak pernah terlihat akan disimpulkan “tidak mungkin terjadi”.

Rumus ini tentu tidak benar untuk menyimpulkan siapa Allah swt. Sebab Allah swt adalah dzat maha sempurna yang tidak terbatas. Apa yang tidak mungkin terjadi pada manusia sangat mungkin terjadi pada Allah swt. dan apa yang mungkin terjadi pada manusia tidak wajib terjadi pada Allah swt. Inilah Allah swt yang berbeda dengan makhluknya.

Begitu juga tentang sifat sukut setelah berbicara, sifat ini terjadi pada manusia namun tidak wajib terjadi dan tidak boleh terjadi pada Allah swt. Sebab yang demikian itu akan menetapkan kalam huduts (permbicaraan baru), padahal kalam Allah swt adalah bersifat qadim (dahulu), dan tidak boleh meyakini kalam Allah swt sebagai sifat huduts (baru).

Terkait dengan hal ini, Ibn Furok al Ashbahani mengatakan: “Kami (Ahlussunnah wal Jama’ah) tidak berkeyakinan Allah swt hanya berfirman pada azalinya, dan tidak berfirman lagi setelah itu/ Kami berpendapat, Allah swt senantiasa berfirman dan tidak pernah diam (sukut). Dan firman Allah swt mencakup seluruh perintah, larangan, informasi atau menjawab dari pertanyaan”[1]

2.  Tidak ada dalil baik dari al Qur’an atau al Hadits yang menyatakan Allah swt berdiam setelah berfirman. Mensifati Allah swt dengan sifat-sifat yang tidak pernah Allah swt sebutkan hukumnya haram. Al Qurtubi dengan mengutip perkataan Abu Umar berkata:

لَا يُوصَفُ إِلَّا بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ

Artinya: “Allah swt tidak boleh disifati kecuali dengan sifat yang Allah swt sendiri mensifatinya”[2]

Allah swt tidak pernah mensifati dirinya dengan sifat diam setelah berfirman. Adapaun hadits:

فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلاَلٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ

Artinya: “Apa yang Allah swt halalkan maka hukumnya halal, apa yang Allah swt haramkan maka hukumnya haram, dan apa yang tidak Allah swt jelaskan hukumnya dima’fu (ditolerir)” (HR. Abu Dawud)

Yang dimaksud sukut dalam hadits tersebut Allah swt tidak menjelaskan tentang hukum suatu hal. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh murid Utsaimin dan bin Bazz, yaitu Abdul Muhsin al Abbad bahwa sukutnya Allah swt disini tidak dipahami dengan sukut yang merupakan lawan dari kata “berbicara”. Sebab itu, ia dengan jujur mengatakan “tidak mengetahui” ketika dirinya ditanya tentang sukutnya Allah swt[3].

Syaikh al Qasthalani mengatakan: “Menurut para ahli hadits menyimulkan bahwa kalam Allah swt bukan sejenis suara atau huruf. Akan tetapi sifat azali yang berdiri bersamaan dengan dzat Allah swt, dan menafikan terhadap sukut. tanpa ada awal dan akhir”.[4]

Dari itu, maka Ahlussunnah wal Jama’ah menafikan sifat sukut bagi Allah swt. Allah swt selalu mutakalliman tanpa terikat dengan waktu dan tempat.

Wallahu a’lam


[1] Muhammad bin Hasan al Furaq al Ashbahani, Musykil al Hadits wa Bayanuh, Hal 405

[2] Al Qurtubi, Al Tamhid Lima fi al Muwatta’, Juz 23, Hal 350

[3] Abdul Muhsin al Abbad, Syarh Sunan Abi Dawud, Juz 20, Hal 89

[4] Al Asyqalany, Irsyad al Sari, Juz 10, Hal 438

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (2) : Kesesatan dalam Akidah

Menarik apa yang dikatakan oleh Syaikh As Showi Al Maliki ketika menafsirkan ayat 6 surat …

aliran sesat

Masyarakat Harus Mengetahui Kesesatan Wahabi (1) : Ciri-Ciri Aliran Sesat Secara Umum

Sebelum membahas tentang ajaran Wahabi yang sangat meresahkan di tengah umat Islam, ada baiknya kita …