rekaman adzan
rekaman adzan

Apakah Sunnah Menjawab Rekaman Adzan ?

Hukum asal menjawab adzan adalah sunnah, karena ada hadits:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

Artinya: “Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah yang sama dengan diucapkan orang yang adzan” (HR. Bukhari dan lainnya)

Berdasarkan hadits ini pula, ulama’ fiqh sepakat bahwa menjawab adzan hukumnya sunnah dalam kondisi apa pun. Bahkan menurut jumhur fuqaha’ sekalipun dalam keadaan shalat, hukumnya tetap sunnah menjawab adzan. Kecuali pada keadaan di mana kalimat-kalimat adzan tidak layak diucapkan oleh orang yang mendengar tersebut, seperti ketika berada di WC atau sedang jimak dengan istrinya[1].

Adzan untuk shalat memiliki dua peran penting, pertama sebagai penanda masuknya waktu shalat dan kedua sebagai ibadah. Adzan sebagai informasi masuknya waktu shalat dapat dijadikan rujukan dalam ibadah yang berkaitan dengan shalat, seperti puasa. Dan adzan berperan sebagai ibadah menjadikan orang yang malakukannya mendapat pahala, begitu juga yang mendengarkan dan menjawab adzan.

Jika pada masa Nabi Muhammad saw, Bilal bin Rabah ra yang ditunjuk menjadi muadzzin (orang yang adzan) perlu naik ke tempat yang tinggi dan melantangkan suaranya agar dapat didengar ke mana-mana sehingga ummat Islam saat itu mengetahui bahwa waktu itu sudah masuk waktu shalat. Begitu juga ratusan abad setelahnya, dilakukan secara manual sekalipun tidak perlu ke tempat tinggi dan berteriak dengan keras, karena sudah ada pengeras suara.

Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan pesatnya kecanggihan media elektronika, adzan tidak lagi dilakukan dengan berteriak untuk memanggil orang agar melakukan shalat sebagaimana dilakukan beberapa tahun silam, tetapi cukup dengan pita rekaman yang dapat diputar pada saat waktu shalat sudah masuk. Bahkan adzan kecanggihan teknologi pun semakin meningkat di mana adzan bisa berbunyi di gadget kita setiap memasuki waktu shalat.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Mempertahankan Lebih Mudah dari pada Memulai

Kalau kita melihat kepada substansi adzan sebagai media informasi masuknya waktu shalat maka tidak ada masalah, karena ghayatul maqsud (tujuan utama) dari adzan sudah diperoleh dengan mendengarnya orang dari rekaman adzan tersebut. Tetapi menjadi masalah manakala adzan yang diperoleh dari rekaman tersebut dalam aspek ibadah, apakah masih berstatus hukum sunnah atau tidak ? Begitu juga bagi yang mendengarkannya, apakah sunnah menjawab adzan dari rekaman yang diputar ketika mau masuk waktu shalat, atau tidak sunnah lagi karena tidak bernilai ibadah ?

Syaikh Ismail Zain pernah ditanyakan tentang hal tersebut. Dalam kitab Qurratul Ain bi Fatawa Ismail Zain yang merupakan kumpulan fatwa-fatwa Syaikh Ismail Zain, ia menjawab tentang adzan hasil rekaman:

يُسَنُّ اِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ الْمَذْكُوْرِ وَالْمُكَبَّرُ غَايَةُ مَا فِيْهِ أَنَّهُ يَقْوِى الصَّوْتَ وَيُبَلِّغُهُ إِلَى مَدَى بَعِيْدٍ. هَذَا اِذَا كَانَ الْأَذَانُ مَنْقُوْلًا بِوَاسِطَةِ الْمُكَبَّرِ عَنْ مُؤَذِّنٍ يُؤَذِّنُ بِالْفِعْلِ. أَمَّا إِذَا كَانَ الْأَذَانُ فِي الشَّرِيْطِ اْلمُسَجَّلِ فَلَا تُسَنُّ إِجَابَتُهُ لِأَنَّهُ حَاكٍ وَالْحَاكِيْ لَا يُحَاكَى

Artinya: “Sunnah menjawab orang yang adzan seperti yang telah disebutkan. Pengeras suara merupakan puncak kekuatan suara yang dapat menyampaikan ke daerah yang jauh. Kesunnahan ini jika pengeras suara diperoleh dari orang yang adzan yang sedang melakukannya. Akan tetapi jika adzan itu diperoleh dari pita rekaman maka tidak sunnah menjawabnya, karena pita rekaman hanya sekedar alat tiru, dan alat tiru tidak perlu ditiru”[2].

Dari pendapat Syeikh Ismail Zain di atas, adzan yang menggunakan pita rekaman hukumnya tidak sunnah, karena tidak dinilai sebagai melakukan ibadah. Begitu juga menjawabnya, ketika adzan tidak bernilai sunnah, maka tidak sunnah juga menjawab remakan adzan. Karena kesunnahan menjawab adzan ketika adzan  sendiri bernilai ibadah. Ketika nilai ibadah adzan sudah hilang, maka hilang juga kesunnahan menjawabnya.

Baca Juga:  Pemahaman Tentang Tangan Allah Swt (1) : Bukti Salafi Wahabi Meyakini Allah Swt Memiliki Tangan

اِذَا سَقَطَ الْمَتْبُوْعُ سَقَطَ التَّابِعُ

Artinya: “Apabila yang diikuti sudah gugur, maka yang mengikuti juga gugur”

Adzan untuk shalat merupakan matbu’ (yang diikuti) dalam hal ini sementara menjawab adzan adalah tabi’ (yang ikut), sehingga nilai tabi’ menjadi hilang manakala matbu’nya hilang.

Dengan demikian hukum orang adzan tidak sama dengan rekaman adzan. Hukum adzan ini jika dilihat dari aspek sebagai ibadah, tetapi dari aspek peran I’lam (memberi informasi), maka hukumnya tetap sama antara orang yang adzan dengan rekaman adzan, artinya tetap sama-sama sah mengamalkan berdasarkan orang yang adzan atau rekaman adzan.


[1] Syarf al Nawawi, Syarh Nawawi Ala al Muslim, Juz 2, Hal 111

[2] Ismail Zain, Qurrah al Ain bi Fatawa Ismail Zain, Hal 52

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …