mualaf ilustrasi
mualaf ilustrasi

Begini Kisah Pendeta Yahudi yang Masuk Islam

JAKARTA – Allah SWT memberikan hidayah kepada hambanya tanpa melihat status sosial maupun kondisi kehidupannya, bahkan seseorang yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad saw tidak masuk menjadi seorang muslim karena Allah tidak memberikan hidayah Islam.

Cerita tentang seseorang yang mendapatkan hidayah dengan berbagai jalan telah begitu banyak diceritakan bahkan menjadi satu inspirasi untuk menjadi muslim yang terbaik. Kisah Ka’ab al-Ahbar yang merupakan seorang pendeta dan sezaman dengan Rasulullah menjadi satu kisah yang dapat diambil hikmahnya.

Pada zaman sahabat dan tabiin, tidak banyak kaum Yahudi yang masuk Islam. Namun, ada seorang pendeta yang mendapatkan hidayah dan masuk Islam, yaitu Ka’ab al-Ahbar. Dia mendapat julukan Abu Ishaw dan dipanggil dengan Ahbar atau Hibru dan Habru, yang artinya tinta atau orang alim karena keluasan ilmunya. Seperti dilansir dari laman republika.co.id pada Rabu, (08/09/21)

Sebelum masuk Islam Ka’ab tinggal di Yaman dan menganut agama Yahudi. Ka’ab hidup di zaman Nabi Muhammad, tapi ia tidak pernah bertemu dengan nabi. Setelah Rasulullah wafat, baru ia mengikrarkan dirinya sebagai seorang Muslim.

Setelah memeluk Islam, kemudian Ka’ab banyak belajar Alqur’an dan hadis pada para sahabat, sampai akhirnya berhasil menjadi salah satu pembesar ulama Islam dan banyak menyampaikan berita israiliyyat.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah menjelaskan, Ka’ab meriwayatkan beberapa hadis Nabi secara mursal, dan juga meriwayatkan hadis dari para sahabat seperti dari Umar bin Khattab, Syuhaib, dan Aisyah.

Dikutip dari kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani, Ka’ab al-Ahbar merupakan seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam pada masa Umar bin Khataab radhiyallahu anhu. Dalam kitabnya, Syekh Nawawi juga mengutip kiat-kiat dari Ka’ab agar aman dari gangguan setan.

Baca Juga:  “Malam Harmoni Bogor” Doa dan Dzikir Rayakan Tahun Baru 2020

“Benteng orang mukmin dari gangguan setan itu ada tiga, masjid, berdzikir kepada Allah, dan membaca Alqur’an,” Kata Ka’ab.

Alasan Ka’ab masuk Islam telah dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah fi Tamyiizi ash-Shahabah. Ibnu Hajar menceritakan bahwa suatu hari Abbas bertanya pada Ka’ab,

“Apa yang menghalangimu, sehingga tidak memeluk Islam semenjak zaman Rasululah Saw dan Abu Bakar?”

Ka’ab menjawab, “Suatu hari ayahku menulis sebuah kitab untukku dari Taurat, dan berpesan, ‘Amalkanlah kitab ini!’ Ayah kemudian menyegel kitab itu, sementara kitab-kitab lain tidak ada yang disegel. Ayah memintaku berjanji atas nama hak ayah terhadap anaknya agar tidak membuka segel kitab tersebut. Ketika aku melihat Islam telah menyebar ke berbagai daerah, aku berkata dalam hati, “Mungkin ayah menyembunyikan sebuah ilmu dariku.” Maka segel itu aku buka, ternyata isinya adalah tentang ciri-ciri Nabi Muhammad dan umatnya.”

Ka’ab lalu berkata pada Abbas, “Maka sekarang aku datang sebagai seorang muslim.”

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …