pembatasan haji
pembatasan haji

Belajar dari Peletakan Hajar Aswad : Praktek Demokrasi Ala Nabi

Pada saat ini banyak Negara islam ataupun Negara yang mayoritasnya adalah muslim turut mengadaptasi sistem demokrasi begitupun Negara Indonesia. Adapula Negara islam yang meninggalkan sistem pemerintahan sebelumnya dan menggantinya dengan sistem demokrasi dengan anggapan bahwa demokrasi adalah islam itu sendiri.

Demokrasi sendiri bermakna pemerintahan atau kekuatan rakyat (power of strength of the people), atau pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat (government of the people, by the people, for the people).

Islam merupakan agama yang tidak hanya mengurusi urusan ibadah semata, akan tetapi segala aspek termasuk menetapkan hukum dan pemerintahan islam telah mengaturnya. Mengenai demokrasi, sebenarnya sejak 1400 tahun lalu Rasulullah SAW pun sudah mengajarkannya.

Selain Baitul Aqobah I dan II, jauh sebelum itu Rasulullah pun telah menerapkan sistem ini ketika proses peletakkan Hajar Aswad. Hajar Aswad adalah sebuah batu yang diturunkan oleh Allah SWT. dari surga. Dulu batu itu berwarna putih, namun karena dosa-dosa anak Adam, maka batu itu pun berubah menjadi berwarna hitam.

Nama Hajar Aswad sendiri kalau diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah batu hitam. Hajar Aswad diletakkan di sudut timur Ka’bah. Mengenai asal usul keberadaan Hajar Aswad banyak berselisih pendapat apakah sudah ada dari zaman Nabi Adam atau baru muncul di zaman Nabi Ibrahim.

Ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka berselisih sampai empat atau lima hari. Perselisihan ini bahkan hampir menyebabkan pertumpahan darah.

Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi kemudian memberikan saran kepada mereka agar menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali lewat pintu masjid. Ternyata  Bangsa Quraisy pun menyetujui ide ini.

Baca Juga:  Inilah Dasar Tarekat Ahlussunah Wal Jama’ah

Allah SWT  kemudian menakdirkan bahwa orang yang pertama kali lewat pintu masjid adalah Rasulullah SAW. Orang-orang Quraisy pun ridha dengan diri beliau sebagai penentu keputusan dalam permasalahan tersebut.

Rasulullah SAW pun kemudian menyarankan suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Demi mencegah terjadinya pertumpahan darah, maka Beliau mengambil selembar kain yang kemudian kain itu dibentangkannya di atas tanah.

Lalu diambilnya Hajar Aswad itu lalu diletakkannya di atas kain itu, seraya berkata: Hendaklah sesepuh dan masing-masing kabilah memegang pinggir kain dan mengangkat Hajar Aswad yang diatasnya bersama-sama menuju ke tempatnya.

Mereka kemudian mengangkat Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah SAW lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut. Kemudian Rasulullah SAW menempatkan Hajar Aswad itu di tempatnya dengan kedua tangannya dan selesailah sudah pekerjaan itu. 

Ini merupakan jalan keluar yang terbaik. Seluruh kabilah setuju dan meridhai jalan keluar ini. Mereka pun tidak jadi saling menumpahkan darah. Ini pula menunjukkan bukti bahwa Rasulullah SAW bukan hanya terkenal dengan kebijaksanaannya, namun pada dasarnya Beliau pun selalu mengajarkan tentang berdemokrasi.

Andai kata saat proses peletakan Batu hajar Aswad itu Rasulullah SAW tidak menggunakan sistem demokrasi, maka sudah pasti pertumpahan darah tak mungkin dapat terhindarkan.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Cahyo

Avatar of Ahmad Cahyo
Mahasiswa Program S2 PTIQ Jakarta

Check Also

sakratul maut

Inilah Jawaban Lima Anggota Tubuh Orang Mukmin Ketika Malaikat Izrail Hendak Mencabut Ruhnya

Kematian merupakan suatu keniscayaan yang akan dialami oleh setiap individu. Ketika kematian datang, tak satupun …

indonesia

Menuduh Indonesia Negara Kafir : Bukti Kegagalan Memahami Konsep Demokrasi dalam Islam

Setiap negara tentunya memiliki cara tersendiri dalam berusaha mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan rakyatnya. Begitu pun …