Hukum Mushaf Qur’an Di Android

Hukum Mushaf Qur’an Di Android

Al Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara malikat Jibril. Berbahasa arab dan memiliki makna sempurna. Kitab terakhir yang diturunkan Allah sebagai mukjizat untuk Rasulullah serta sebagai bukti bahwa beliau adalah benar-benar utusanNya.

Qur’an berfungsi untuk menuntun umat Islam serta membacanya bernilai ibadah. Kitab ini dibukukan dengan bentuk mushaf, dimulai dengan surat al Fatihah dan surat al Nas sebagai surat terakhir.

Di era masa kini, di samping berbentuk cetakan kertas, kitab al Qur’an juga bisa ditempatkan di dalam perangkat hand phone android. Sebagaimana telah maklum, bahwa teknologi yang popular dengan sebutan android ini hampir menjadi kebutuhan pokok manusia. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Lalu, bagaimana fiqih memandang mushaf al Qur’an yang terekam di dalam android?. Kita mulai pembahasan ini dengan firman Allah:

 “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”  (al Waqi’ah; 79)

Dalam tafsir al Baghawi, yang dimaksud dengan Muthahharuun, mereka yang disucikan, yakni  adalah malikat. Pendapat yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang suci dari hadas kecil dan hadas besar.

Dalam term ushul fiqih ayat ini menunjukkan larangan. Pengertiannya adalah orang yang dalam keadaan hadas, besar maupun kecil, seperti wanita haid, nifas dan orang yang tidak punya wudhu tidak boleh menyentuhnya. Ini adalah pendapat Imam Atha’, Imam Thawus, Salim dan Qasim.

Baca Juga : Apakah Panitia Kurban Berhak Menerima Upah?

Dalam tafsir Jalalain, muthahharun artinya orang-orang yang telah menyucikan dirinya dari hadas. Hadas besar dan hadas kecil. Sementara dalam kitab tafsir al Tahrir wa al Tanwir, yang dimaksud massu adalah menyentuh dan mempelajarinya.

Keterangan lain disampaikan oleh imam al Thabari dalam tafsirnya. Adapaun yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah orang yang telah disucikan oleh Allah dari segala dosa. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah malaikat.

Dalam kajian fiqih, orang yang batal wudhu, berhadas kecil, haram menyentuh mushaf meskipun dengan lapis yang tebal. Menyentuh di sini diukur dengan standar adat kebiasaan atau Urf. Artinya kalau pada biasanya hal menyentuh tersebut dianggap menyentuh pada umumnya. Pengertian mushaf di sini adalah segala sesuatu yang ada tulisan ayat-ayat al Qur’an untuk tujuan belajar, seperti batu tulis, tiang atau tembok yang ditulisi ayat-ayat al Qur’an untuk hajat belajar. Keharaman menyentuh di sini meliputi semua benda tersebut; bagian tepi serta kulit yang menempel pada benda yang ada tulisan ayat al Qur’an tersebut. (Nihayatu al Zain; 32).

Pendapat ini dikuatkan dengan argumen bahwa al Qur’an adalah kalam Allah, maka ia memiliki kedudukan yang mulia. Maka menghormati dan mengagungkannya adalah bagian dari akhlak kepada Allah. Bahkan menjadi bagian dari iman. Dalam kitab Qomiut Tughyan dijelaskan bahwa bagian dari cabang iman adalah mengagungkan dan menghormati al Qur’an. Tidak boleh meletakkan kitab dan benda lain di atas al Qur’an. Ia harus diletakkan pada posisi paling atas disaat bercampur dengan buku atau benda yang lain. Hal ini semata kerena keagungan al Qur’an. (Qomiut Tughyan; 8).

Kasus mushaf android ini bisa juga diqiyaskan pada hukum menyentuh peti tempat penyimpanan mushaf. Karena tidak akan ditemukan teks dalam kitab-kitab fiqih yang menunjuk langsung mushaf android, karena teknologi ini pada masa itu belum ada. Apabila android hanya berisi ayat-ayat al qur’an, tidak ada program yang lain, maka hukum menyentuhnya dalam keadaan tidak suci hukumnya haram. Demikian pula kalau android tersebut berisi ayat-ayat al Qur’an dan program lainnya dengan jumlah yang sama.

Tetapi, apabila pada android tersebut ada program lain yang lebih banyak dari ayat-ayat al-Qur’an, seperti tafisr dan lainnya, maka tidak haram menyentuhnya walau dalam keadaan hadas. (Fathul ‘Allam, I; 360).

Kesimpulannya, ada dua pendapat menyikapi android yang terdapat ayat-ayat al Qur’an. Pertama, haram. Pendapat ini mengedepankan nilai akhlak karena ayat-ayat al Qur’an adalah firman Allah yang wajib dihormati dan diagungkan.

Kedua, ada klasifikasi, tafshil. Kalau android hanya berisi ayat-ayat al Qur’an atau bercampur dengan program lain tetapi kapasitas ayat-ayat tersebut lebih besar maka orang yang berhadas haram menyentuhnya. Tetapi kalau program yang lain lebih besar kapasitasnya dari ayat-ayat al Qur’an maka orang yang berhadas boleh menyentuhnya.

Wllahu A’lam.

*Nur Fati Maulida

Comment

LEAVE A COMMENT