Kaidah Fikih Mudharat

Kaidah Fikih Induk Ketiga: Mudharat

Kaidah fikih induk (qawaid al-asasiyah al-kubra) yang ketiga berbunyi:

أَلضَّرَرُ يُزَالُ.

(al-dlarar yuzal)

“Kemudharatan harus dihilangkan”

Kaidah ini merujuk pada hadis riwayat Ibnu Majah, bahkan sebagian ulama’ mencantumkan hadis ini langsung sebagai bunyi kaidah induk ketiga:

لاَضَرَرَ وَلاَضِرَارَ.

Artinya: “Tidak boleh membuat mudarat (orang lain) dan tidak boleh membalas mudarat (yang dilakukan orang lain)”. (HR. Ibnu Majah, No: 2340).

Makna hadis ini adalah bahwa seseorang tidak boleh membuat mudarat terhadap orang lain sebagai permulaan, dan juga tidak diperkenankan melakukan kemudaratn sebagai balasan atas perlakuan mudarat orang lain. Dengan demikian, segala sesuatu yang akan menimbulkan mudarat harus dicegah, kemudian jika mudarat itu sudah terjadi maka harus disingkirkan.

Baca juga : Kaidah Fikih Induk Pertama: Niat 

Menurut Imam Suyuthi sangat banyak persoalan-persoalan fikih yang didasarkan kepada kaidah ini. Di samping itu banyak kaidah yang menjadi cabang yang berinduk pada kaidah ini.

Kaidah ketiga ini menjadi dasar yang sangat prinsip untuk mencegah perbuatan yang menimbulkan mafsadah, kerugian, keburukan dan ketidaknyamanan, sehingga nantinya akan mewujudkan terciptanya kemaslahatan dan mencegah mafsadah (jalb al-mashalih wa dar al-mafasid). Namun kaidah ini diberi cacatan senyampang kemudaratan tersebut bukanlah hal yang mendapatkan legitimasi syara’. Memang ada kemudaratan yang diakibatkan oleh pemberlakuan syara’ seperti qishas, had, dan sanksi-sanksi lain. Meskipun demikian, kemudaratan dalam sanksi tersebut, pada prinsipnya bertujuan untuk mencegah kemudaratan lain yang lebih besar.

Berdasarkan kaidah ini para ahli fikih menetapkan berbagai hukum yang tersebar dalam kajian fikih antara lain adanya hak khiar bagi pembeli untuk menghindari terjadinya kerugian sepihak. Menahan orang atau kelompok yang selalu membuat onar dan kerusakan untuk menjaga stabilitas kehidupan bernegara dan memelihara kehidupan masyarakat agar tetap kondusif.

Contoh aplikasi kaidah ini misalnya di lingkungan tempat kita terdapat segerombolan anak muda yang sering nongkrong hingga larut malam, bahkan terkadang mabuk-mabukan. Hal ini tentunya menimbulkan keresahan di masyarakat, maka tokoh masyarakat dan aparat pemerintah setempat harus menghentikan kebiasaan ini dengan cara-cara yang persuasif.

Baca juga : Kaidah Fikih Induk Kedua Keyakinan vs Keraguan 

Hikmah kaidah ini jangan pernah membiarkan segala sesuatu yang mengakibatkan keburukan, kerusakan, mafsadah, dan ketidak-nyamanan tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kita. Mulailah mencegah dari hal-hal kecil di lingkup kecil, diri sendiri, keluarga, teman, dan masayarakat di lingkungan kita hidup.

Prinsip kaidah ini menegaskan bahwa ajaran Islam secara subtansial diturunkan untuk menghilangkan kemudharatan, kesulitan dan keburukan dalam kehidupan manusia. Karena itulah, ajaran Islam sejatinya menjadi pencegah dari berbagai keburukan, kesulitan dan kerusakan dalam kehidupan manusia. Kaidah ini menjadi pedoman tidak hanya dalam membedah dan menggali hukum Islam, tetapi dalam bentuk kehidupan masyarakat bahwa kerusakan harus dicegah.

[]

Wallahu ‘alam

 

*Zainol Huda, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAIM Sumenep.

Comment

LEAVE A COMMENT