Pentingnya Niat dalam Ibadah

Pentingnya Niat dalam Ibadah

Niat berasal dari bahasa Arab yang berarti keinginan dan tekad hati untuk melakukan sesuatu tanpa ada keraguan. Secara istilah syara’ niat merupakan tekad hati untuk melakukan fardlu atau ibadah lainnya.

Setiap perbuatan yang dilakukan orang berakal dalam keadaan sadar dan inisiatif sendiri pasti disertai dengan niat. Sebaliknya perbuatan yang tidak disertai niat dianggap perbuatan yang lalai, tidak diakui dan tidak ada sangkut pautnya dengan hukum syara’. Perbuatan orang gila, tidur, lupa atau keadaan terpaksa itu tidak masuk dalam obyek hukum.

Pertanyaannya, kenapa penting berniat dalam ibadah dan amalanya lainnya? Tujuan niat pada dasarnya memiliki dua makna; pertama, untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya dan untuk membedakan antara ibadah dengan adat istiadat atau kebiasaan. Misalnya niat dibutuhkan untuk membedakan antara semisal mandi junub dengan mandi karena maksud kesegaran.

Baca juga : Tata Cara mandi Junub

Kedua, untuk menunjukkan kikhlasan dalam ibadah. Apakah ibadah hanya amalan dengan ridho allah atau hanya untuk lainnya? Inilah sebenarnya kehati-hatian para ulama salaf yang mewajibkan niat dalam persoalan ibadah karena untuk meletakkan ibadah hanya untuk Allah.

Hukum Kewajiban Niat

Hukum niat menurut jumhur fuqaha’ (selain madhab Hanafi) adalah wajib dalam ibadah yang menuntut adanya niat seperti wudlu, mandi, tayamum, shalat, zakat, puasa, haji, umrah dan sebagainya. Namun, untuk perbuatan yang tidak menuntut niat, maka hukum niat adalah Sunnah semisal dalam perkara mubah.

Dalil pentingnya niat disandarkan pada Qur’an :

Padahal mereka hanya diperintah menyembah allah, dengan ikhlas menaatinya sema-ata karena agama dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS Al Bayyinah: 5).

Sementara dasar hadistnya adalah sabda Nabi yang disepakati kesahihannya oleh Imam bukhori, muslim, abu dawud, timidizi, an-nasai ibnu majah dan imam ahmad yang bersumber dari sahabat umar:

Sesungguhnya amal perbuatan adalah hanya tergantung pada niatnya

Kapan dan Di Mana Niat?

Semua ulama sepakat bahwa niat adalah tempatnya di dalam hati. Niat dengan melafalkan saja tidak cukup. Melafalkan niat bukan syarat, tetapi disunnahkan oleh jumur ulama selain madzhab Maliki.  Pelafalan niat dimaksudkan untuk membantu hati dalam menghadirkan niat.

Untuk waktu niat secara umum adalah di awal melakukan ibadah kecuali dalam beberapa pengecualian. Namun secara teknis terdapat perbedaan dalam praktek ibadah semisal wudhu kapan harus niat ada yang mengatakan ketika membasuh muka, Hambali misalnya mewajibkan niat ketika amalan wajib pertama ketika membaca basmalah. Perbedaan ini muncul berkaitan dengan perbedaan rukun wudlu menurut madzhab yang berbeda-beda. Namun, secara sederhana niat dilakukan saat memulai ibadah.

Sementara untuk pengecualian niat yang tidak dibarengi bersamaan ibadah misalnya puasa, yang dibolehkan niat sebelum mulai puasa atau di malam harinya. Demikian pula haji yang dilakukan saat ihram. Begitu pula ibadah zakat boleh mendahului niatnya sebelum memberikan benda zakat kepada yang berhak.

Comment

LEAVE A COMMENT