berbuat kebaikan
berbuat kebaikan

Berbuatlah Amal Kebaikan dan Buanglah Ke Laut

Setiap hamba Allah diwajibkan untuk melakukan amal kebaikan, apapun bentuknya. Mulai dari beribadah, menolong orang, meninggalkan keharaman dan lain sebagainya. Namun perlu diingat bahwa tak semua amal kebaikan itu akan diterima oleh Allah. Ada cara tertentu yang harus dimengerti oleh hamba Allah agar amal kebaikannya diterima. Salah satu cara terpentingnya ialah dengan melupakan amal kebaikan yang telah diperbuat.

لَا عَمَلَ اَرْجَى لِلقَبُولِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيْبُ عَنْكَ شُهُوْدُهُ وَيُحْتَقَرُ عِنْدَكَ وُجُوْدُهُ

“Tidak ada satu amal yang lebih diharapkan-harapkan diterima Allah Ta’ala melebihi amalmu yang terlupa keberadaan amal itu, dan remeh menurutmu.”

Pasti dibenak pembaca timbul pertanyaan, kenapa amal kebaikan yang sudah diperbuat harus dilupakan? Dalam tulisan singkat ini, penulis akan mendedah kenapa hal itu penting dilakukan oleh kita sebagai seorang hamba yang memang diciptakan hanya untuk beribadah (beramal baik).

Pikiran dan hati kita bahwa, amal kebaikan kita itu sesungguhnya tak dibutuhkan Allah. Sebab kita-lah yang membutuhkannya. Apalagi segala apa yang diupayakan oleh kita didunia ini berkat pertolongan, kekuatan dan petunjuk dari Allah. Jadi sebagai seorang hamba, pastilah wajib mendedikasikan amal kebaikan yang dilakukan itu hanya untuk Allah sang pencipta semata.

Dengan memahami kalimat-kalimat di atas, berarti bahwa kita harus menghindari orientasi-orientasi amal baik yang dilakukan itu jangan sampai untuk selain Allah. Karena jika itu terjadi, itu akan membuat kita syirik (menyekutukan Allah). Allah tak suka hal demikian. Selain itu, dalam beramal baik, kita juga tak perlu merasa sombong. Karena sebagaimana kalimat di atas, hakikatnya Allah-lah yang menggerakkan kita beramal baik. Jika Allah tak berkehendak, pasti kita tak mungkin beramal baik.

Jadi bisa dikatakan, semua yang ada di dunia itu miliknya Allah. Begitu juga dengan kita dan amal baik kita. Supaya kita memahami hal demikian, maka salah satu caranya ialah jangan pernah ingat amal kebaikan yang sudah pernah kita lakukan. Lupakan ingatan itu. Karena jika kita sering memingat itu, akan timbul rasa berharap balasan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga:  Tiga Amalan Ringan tapi Susah Dipraktekkan

Berarti itu menandakan perbuatan amal kebaikan itu orientasinya kepada balasan mendapatkan dunia atau akhirat. Itu sama saja kita beramal baik bukan untuk Allah seutuhnya. Sebaliknya, jika kita melupakan amal kebaikan, maka dampaknya adalah seakan-akan kita belum melakukan amal tersebut. Seperti pepatah orang Arab, yang mengatakan,

إِعْمَلِ الْخَيْرَ وَارْمِ فِي الْبَحْرِ

“Berbuatlah amal kebaikan dan buanglah ke laut”

Apabila hal tersebut dilakukan, maka orientasi-orientasi pada selain Allah pun akan hilang dan lama kelamaan kita akan selalu menyadari bahwa kita belum pernah melakukan amal kebaikan. Jika itu terjadi, kita akan terus bersemangat memohon ampunan dan melakukan amal kebaikan yang itu ditujukan kepada Allah sepenuhnya. Di sisi lain, konsekuensi yang timbul kalua kita terus menerus mengingat-ingat amal kebaikan, ialah kita merasa baik dan suci dari yang lain. Maka kita tak ada harapan untuk diterima di sisi Allah. Padahal Allah telah berfirman :

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Jangan kamu menganggap dirimu itu suci, Allah Maha Mengetahui siapa yang bertaqwa” (Q.S An Najm:32)

Di tambah lagi, Allah juga cuma meridloi amal kebaikan dari orang-orang yang bertaqwa, sesuai dengan firman Allah:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh Allah hanya menerima amal dari orang bertakwa.” (Q.S Al Maidah:27)

Kemudian jika kita ingin amal kebaikan itu diterima, maka kita tak boleh menggantungkan dirinya pada amalnya.akan tetapi kita wajib menggantungkan diri pada Dzat yang memberikan petunjuk untuk melakukan amal tersebut, tak lain Dzat itu adalah Allah Ta’ala. Di akhirat nanti, jika kita tercatat banyak beramal baik pun tak mampu memasukkan ke dalam surgaNya. Melainkan hanya ridlo dan kasih sayang Allah semata.

Baca Juga:  Penjelasan Gerhana Menurut Rasulullah

Kita perlu mencontoh para sufi, ulama atau wali-wali Allah. Mereka selalu khawatir dan curiga terhadap dirinya. Merasa rendah hati dan bersikeras untuk memendam sampai tak teringat amal yang sudah diperbuat. Mereka pun selalu beristighfar dan bersyukur kepada Allah atas semua yang dialami sehari-hari. Dengan demikian, marilah belajar melupakan amal kebaikan dan luruskan orientasi amal kebaikan kita hanya untuk Allah semata.

 

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

ilustrasi masjid tempat ibadah umat

Bersemangatlah dalam Beribadah (2): Cara Menghindari Kemalasan

Dalam tulisan sebelumnya, sudah dijelaskan betapa Allah SWT menganugerahkan kemurahan dan kemudahan kepada kita untuk …

ibadah

Bersemangatlah Dalam Beribadah (1): Tiada Kesukaran dalam Agama

Allah memerintahkan kita beribadah, pastilah itu bermanfaat dan baik untuk kita sendiri. Tak mungkin ada …