Sungguh miris jika melihat seseorang hanya berbekal semangat dalam beribadah, tetapi tidak memahami cara beribadah. Seolah ketaatan adalah hal paling utama sementara ia tidak memahami cara melakukan ketaatan dengan benar.

Setiap ibadah mempunyai rukun, syarat, dan hal yang membatalkan bahkan ada larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan saat beribadah. Tidak berarti saat melakukan ibadah berarti lepas syarat, rukun dan aturan yang harus dipenuhi.

Contoh sederhana, apakah kita pernah melihat seorang yang sedang haid melakukan shalat dan puasa? Dalam kasus tersebut bukan saja tidak diterima ibadahnya, bahkan perempuan haram melakukan ibadah ketika haid, sekalipun berniat ingin melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri pada Allah.

Ketika seseorang melupakan jika dalam ibadah ada aturannya bukan tidak mungkin dia akan salah dalam melaksanakan ibadah. Dan paling buruk adalah justru memberikan citra buruk terhadap ibadah itu sendiri.

Contoh paling kentara, seseorang ingin melaksanakan perang dengan memahami sebagai bagian dari ibadah jihad. Namun, apa yang dia tidak pahami bahwa dalam jihad perang ada banyak aturan yang harus dipenuhi bahkan larangan yang harus dihindari ketika perang. Gagal memahami ibadah ini justru akan memperburuk citra jihad itu sendiri.

Selanjutnya, penting untuk dipahami bahwa selain memahami aturan ibadah, terkadang ibadah sangat terikat dengan kondisi yang akan merubah status hukum ibadah. Karena kondisi tertentu ibadah akan mengalami status hukum tertentu.

Contoh sederhana adalah ketika kondisi sakit atau dalam perjalanan. Pada mulanya hukum puasa adalah wajib dilaksanakan, tetapi karena kondisi sakit dan perjalanan hukum tersebut diringankan. Seseorang boleh tidak berpuasa dengan cara menggantinya di lain hari.

Ketika seseorang memaksakan diri beribadah dengan kondisi yang sangat sulit bukan saja akan membinasakan diri sendiri, tetapi juga menyalahi aturan kemudahan yang diberikan Allah. Lebih parahnya, tentu saja seseorang akan jatuh dalam kondisi yang berlebihan dalam beribadah.

Contoh paling kentara adalah ketika kondisi covid-19 sangat meresahkan dan semua negara, termasuk negara muslim melarang aktifitas berkerumun dalam ibadah dilakukan, bahkan Arab Saudi pun memberhentikan ibadah penting bernama umroh. Memilih ibadah dengan berkerumun atas nama ketaatan justru ingin menjatuhkan dalam kebinasaan.

Hal terakhir yang penting yang menjadi landasan dari dua hal di atas bahwa ilmu adalah landasan dalam beribadah. Tidak salah jika dikatakan bahwa ilmu adalah pemimpin amal. Orang tidak bisa beribadah dengan benar jika tidak mempunyai ilmu yang benar, apalagi jika tidak memiliki ilmu sama sekali.

Berbekal ketaatan saja tidak cukup. Ketaatan memiliki cara yang benar. Dan Cara ketaatan itu adalah bersumber dari ilmu. Tidak cukup berbekal semangat dalam beribadah, tetapi juga harus berbekal ilmu yang memadai.

Nabi Muhammad bersabda : “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemahaman dan ilmu agama menjadi sangat penting sebelum menjalankan ibadah. Bahkan dalam suatu hadist, Iblis lebih takut kepada orang yang berilmu dari pada orang yang sedang beribadah.


1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.