Habib Muhammad Quraish Shihab
Habib Muhammad Quraish Shihab

Bersama KJRI Frankfurt, Quraish Shihab Jelaskan Makna Halal Bihalal

Islamkaffah – Habib Muhammad Quraish Shihab menghadiri forum Halal Bihalal daring yang dilaksanakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt Jerman pada Minggu (6/6). Dalam tausiyahnya, Profesor Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir kelahiran Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan ini menyampaikan makna terpendam dari Halal Bihalal. Menurutnya, Istilah Halal Bihalal ini tidak terkait dengan hukum Islam manapun.

“Saya ingin menggarisbawahi bahwa kata ini punya pengertian khusus yang hemat saya, tidak berkaitan maknanya dengan hukum Islam. Karena (dalam hukum Islam) halal terdiri dari wajib, sunnah, makruh, dan mubah,” tuturnya.

Halal yang paling dibenci Tuhan menurut pria itu adalah pemutusan hubungan antarsesama saudara. Padahal kata dia, kita menginginkan bahwa Halal Bihalal ini justru menyambung hubungan. Oleh karena itu pihaknya sering berkata bahwa kita hendaknya memahami Halal Bihalal itu dari kata yang berasal dari tiga huruf, yang antara lain bermakna menghangatkan yang dingin, mengurai yang kusut, mencairkan yang beku.

“Nah kita ingin Halal Bihalal ini dalam pengertian-pengertian tersebut. Mengapa kita perlu itu? Karena kita lebih-lebih sekarang ini sudah membuktikan secara nyata apa yang sealama ini dikatakan orang bahwa kita hidup di desa yang kecil, dunia ini telah menjadi desa. Sehingga kita bisa berhubungan dengan orang lain dalam satu keadaan yang begitu akrab,” lanjutnya.

Dalam istilah Nabi Muhammad SAW kata dia, kita (manusia) ini berada dalam satu perahu, sehingga semua harus ikut menjaga. “Kalau seandainya ada penumpang yang berada di bawah  ingin mengambil air dengan enggan naik ke atas, mengambil air dari atas, tapi membocorkan perahu, maka semua kita yang di atas dan di bawah akan tenggelam.” Lanjutnya.

Baca Juga:  Quraish Shihab Dianugerahi Bintang Kehormatan dari Pemerintah Mesir

Karena itu tambahnya, kita perlu merapatkan barisan kita, berhalal bihalal mencairkan apa yang berku, menghangatkan apa yang dingin.a Terlebih karena kita semua sebagai manusia ciptaan Allah diberi tugas untuk memakmurkan bumi ini. Kekhalifahan itu adalah tugas memakmurkan bumi.

“Al-Quran menyatakan Allah yang menciptakan kamu dari tanah ini dan menugaskan kamu memakmurkannya (Q.S  Al-Hud:61). Kamu di sini adalah seluruh manusia, bukan hanya muslim, tetapi semua manusia harus bekerjasama memakmurkan bumi. Dan supaya kita bisa  bekerjasama dengan baik, kita harus mneghilangkan rasa ketidaknyamanan, kita harus menjalin hubungan dengan mencairkan apa yang beku, meghangatkan apa yang dingin,” lanjutnya.

Selain itu, Habib Quraish juga menyampaikan bahwa tuntunan nilai-nilai agama adalah memberikan masing-masing kebebasan untuk menganut ajaran agamanya; kesempatan untuk melaksanakan cita-citanya; harapan-harapannya; dan dalam saat yang sama bekerjasama untuk mencapai beraneka kebaikan. “Saya kira inti Halal Bihalal seperti itu, jadi tidak hanya hubungan akrab antarsesama suku, tidak hanya hubungan akrab antarsesama bangsa, tapi hubungan akrab antarsesama manusia, Karena itu ada pesan, siapa yang Anda temui kalau bukan dia saudara Anda seagama, maka dai adaiah saudara Anda sekemanusiaan. Dan karena itu pula,  kemanusiaan mendahului keberagamaan.” Pungkasnya.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”