Mengenal Lebih Dekat Pendiri Madzhab: Imam Syafi’i

Mengenal Lebih Dekat Pendiri Madzhab: Imam Syafi’i (Bagian I)

Silsilah Mulia dari Keluarga Nabi

Imam Syafi’I, lahir pada tahun 150 H dan wafat tahun 204 H, nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushay. Abdi Manaf adalah kakek dari Abdul Mutthalib, sedangkan Abdul Mutthalib kakek Rasulullah. Dan dari Abdi Manaf inilah nasab Imam Syafi’I bertemu dengan Nabi Muhammad.   (Ibnu Hajar al Asqalany, Manaqib al Imam Al Syafi’I; 34, Abdul Ghani al Daqir, al Imam al Syafi’I faqihu al Sunnah al Akbar; 29).

Ibunda imam Syafi’I adalah Fatimah. Menurut para sejarahwan ibunda Imam Syafii berasal dari Azdiyah, ada juga yang menyebut Asadiyah, walaupun senyatanya dua nama tersebut adalah sebutan untuk satu kabilah. Keterangan dari bani Asad menyebutkan bahwa ibunda Imam Syafi’I ini termasuk keturunan Ali bin abi Thalib. Maka nasab Imam Syafi’I dari jalur ibunya adalah Muhammad bin Fatimah binti Abdullah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Baik dari jalur ayah maupun ibunya, nasab beliau tidak diragukan lagi. Ternyata, beliau memiliki derajat yang tinggi dan keunggulan yang hebat dari segi nasab. Hal ini menandakan bahwa salah seorang imam dari empat imam Madhab ini memiliki garis keturunan orang-orang hebat. Bapaknya nyambung ke Rasulullah dan ibunya pun demikan. (Abdul Ghani al Daqir, al Imam al Syafi’I faqihu al Sunnah al Akbar; 41).

Beliau lahir pada tahun 150 H, tepatnya pada siang hari, Jum’at  terahir di bulan Rajab. Dan ditahun ini pula,bahkan pada hari yang sama Imam Abu Hanifah, pendiri madhab Hanafi meninggal dunia. Ada silang pendapat mengenai tempat kelahiran Imam Syaf’i. yakni, Ghazzah, Asqalan, Yaman dan Mina. Tetapi kalu ditelusuri lebih lanjut, akan dijumpai kesimpulan bahwa Imam Syafi’I lahir di Ghazzah atau Asqalan.

Ghazzah dan Asqalan adalah nama untuk satu daerah; Ghazzah adalah nama sebuah desa yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah selatan Palestina. Dan  menjadi bagian dari kota Asqalan.  Fakta ini dikuatkan oleh pendapat Imam Al dzahabi yang menyatakan bahwa Imam Syafi’I lahir di Gazzah pada tahun 150 H. Imam Al Suyuti juga berpendapat demikian. (Ibnu Hajar al Asqalany, Manaqib al Imam Al Syafi’I; 51).

Baca Juga : Kisah Khalifah Ustman: Fitnah Membawa Tragedi

Bahwa beliau lahir di Ghazzah atau Asqalan adalah pendapat mayoritas ulama dan para ahli sejarah. Beliau lahir di Ghazzah, saat masih kecil dibawa ibunya ke Asqalan. Hal ini seperti apa yang diungkapkan al Hakim berdasar keterangan dari Muhammad bin Abdillah bin Abdil hakim; saya mendengar Imam Syafi’I berkata: ‘ Saya lahir di Ghazzah, lalu ibu membawaku ke Asqalan’. Setelah itu beliau dibawa oleh ibunya ke Makkah dan menetap di kota kelahiran Nabi Muhammad ini.

Andaipun Imam Syafi’I pernah bercerita bahwa dirinya lahir di Yaman, maka yang dimaksud adalah tempat salah satu suku bani asad, kerabat ibunya. (Abdul Ghani al Daqir, al Imam al Syafi’I faqihu al Sunnah al Akbar; 45).

Syafi’I Kecil: Tumbuh dan Berkembang di Makkah

Sebagaimana telah maklum, Imam Syafi’I lahir di Ghazzah salah satu desa di kota Asqalan. Tetapi, sejak kecil beliau berada di kota Makkah. Muhammad bin Abdullah bin Hakam meriwayatkan langsung dari Imam Syafi’I. Beliau berkata; ‘Saya lahir di Ghazzah pada tahun 150 H, tetapi sejak umur dua tahun ibu membawaku ke Makkah’.

Di Makkah, Syafi’I kecil bersama ibunya tinggal di dekat Syi’bu al Khaif. Ibunya mengirimnya pada seorang guru untuk belajar membaca dan menulis, sebagaimana tradisi yang ada waktu itu pelajaran pertama untuk anak yang belum dewasa adalah membaca dan menulis.

Akan tetapi niat ibunya tersebut terhalang oleh biaya,  pada saat itu ibunya tidak mampu untuk membiayai pendidikan anaknya tersebut. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Imam Syafi’I; ‘Saat itu saya adalah anak yatim yang diasuh oleh ibuku, ibuku tidak punya biaya untuk membayar guru’. Tetapi alangkah bahagianya ibunda Imam Syafi’I karena sang guru rela walaupun tidak dibayar. Hal ini disebabkan karena guru tersebut melihat kecerdasan dan kecepatan menghafal syafi’i. (Abdul Ghani al Daqir, al Imam al Syafi’I faqihu al Sunnah al Akbar; 52)

Imam Syafi’I bercerita; ‘ Di al Kuttab, madrasah tempat menghafal al qur’an, saya mendengar guru yang mengajar di situ membacakan alqu’an untuk murid-muridnya, saya ikut menghafalnya. Saya juga menghafal semua yang dia diktekan kepada murid-muridnya sesaat setelah guru tersebut selesai mendikte.

Hal itu terjadi tidak hanya sekali. Begitu selesai guru membaca dan mendikte saya langsung hafal. Hingga suatu beliau berkata kepadaku, ‘Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu’. Setelah peristiwa tersebut imam Syafi’I diangkat menjadi penggantinya untuk mengawasi murid-murid yang lain jika gurunya tidak ada.

Sosok Cerdas dan Menjadi Guru Belia

Itulah sosok Imam Syafi’I, pada usianya yang belum baligh, beliau telah menjadi guru. Setelah selesai menghafal Al Qu’an di madrasah tersebut, ia kemudian pindah ke Masjidil Haram. Di tempat ini ia rajin hadir ke majlis-majlis ilmu.

Sekalipun hidup serba kemiskinan, tekad besarnya selalu mendorong untuk menimba ilmu. Dan, masih diusianya yang belum baligh, ia telah selesai menghafal Alqur’an. Serta hafal juga kitab al Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia dua belas tahun, sebelum bertemu langsung dengan Imam Malik di Madinah.( Ibnu Hajar al Asqalany, Manaqib al Imam Al Syafi’I;55)

Beliau juga tertarik mendalami ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Sebab itulah, lalu tinggal bersama suku Hudzail di pedalaman. Suku Hudzail sangat terkenal kefasihan, kemurnian bahasanya, dan syair-syairnya. Hasilnya luar biasa, sekembalinya dari tempat ini, Imam Syafi’I berhasil menguasai kefasihan dan mampu menghafal semua syair-syair suku Hudzail. Serta mengetahui nasab-nasab orang Arab. Pujian pun mengalir dari para pakar bahasa arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Imam Syafi’I sebagai pakar bahasa arab, bukan pendekar fikih. (Abdul Ghani al Daqir, al Imam al Syafi’I faqihu al Sunnah al Akbar; 75)

Awal mula beliau tertarik untuk belajar dan mendalami ilmu fikih adalah karena mendapat nasehat dari dua orang Ulama, Muslim bin Khalid al Zanji yang menjadi mufti di kota Makkah dan Husain bin Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fikih. Bertitik dari sinilah, beliau memulai pengembaraannya mencari Ilmu.

Bersambung..

*Ahmad Sada’i

Comment

LEAVE A COMMENT