Syeikh Ihsan Muhammad Dahlan Al Jampesi Kediri: Sosok Al Ghazali Kecil Dari Kediri

Syeikh Ihsan Muhammad Dahlan Al Jampesi Kediri: Sosok Al Ghazali Kecil Dari Kediri

KH. Ihsan lahir pada tahun 1901 M. Di masa kecilnya beliau bernama Bakri. Beliau adalah putra dari keluarga terpandang, bernuansa keagamaan dan keilmuan yang tinggi. Ayahnya adalah seorang tokoh agama bernama KH. Dahlan, seorang kiai yang tersohor pada masanya dan yang pertama kali merintis berdirinya pondok pesantren Jampes pada tahun 1888M. sedangkan ibunya bernama  Nyai Artimah.[1]

 

Ia adalah anak kedua dari KH. Dahlan dan Nyai Artimah, kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih berumur 5 tahun, ibunya kembali ke desanya Banjarmelati kota Kediri. Bersama adiknya, Dasuki ia dibesarkan oleh neneknya di Jampes. Sedangkan adiknya yang bernama Marzuqi (lahir beberapa bulan setelah perceraian kedua orang tuanya) ikut dengan ibunya.

 

Bakri dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pesantren, walaupun begitu ia tidak hanya bergaul dengan kalangan anak-anak pesantren dan keluarga kyai, tetapi juga dengan orang-orang komunitas luar pesantren. Semenjak kecil, Bakri mempunyai kecerdasan fikiran dan daya ingat yang mengagumkan.

 

Pada masa remajanya, Bakri menggemari bidang seni dan sastra jawa. Ia sangat gemar nonton pertunjukan wayang kulit. Di manapun ada pertunjukan kesenian Jawa ini, di situ Bakri berada. Tak pernah ada pertunjukan wayang di daerahnya yang terlewatkan begitu saja tanpa ia tonton. Baik yang dipentaskan oleh dalang-dalang senior maupun para dalang pemula yang baru saja bisa berpentas.


Baca Juga : Perjalanan Imam Al-Ghazali Dalam Mencari Ilmu

 

Sangat wajar kalau kemudian ia menjadi faham betul akan cerita-cerita perwayangan dan karakter dari tokoh-tokohnya. Begitu suka dan senangnya ia kepada kesenian yang konon pernah disempurnakan oleh sunan Kalijaga itu, sehingga ia punya hobi mengumpulkan beberapa anak wayang dan dengan koleksi anak-anak wayangnya itu seirngkali ia mempertunjukkan kemampuan mendalang di hadapan kawan-kawannya.[2]

 

Pendidikan Ihsan Muhammad Dahlan Jempesi


Bakri yang selama ini mendapatkan pendidikan agama hanya dari keluarganya, terutama nenek dan ayahnya, kemudian mulai belajar ilmu-ilmu agama melalui lembaga pesantren. Untuk yang pertama kali, ia belajar di pondok pesantren Bendo Pare Kediri yang diasuh oleh pamannya sendiri, KH. Khozin, kemudian pindah ke pesantren lain dan selanjutnya beberapa kali pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya.

 

Beberapa pesantren yang Bakri tempuh dalam menimba Ilmu di antaranya adalah:

1.      Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (Paman Bakri sendiri)

2.      Pondok Pesantren Jamseran Solo

3.      Pondok Pesantren Asuhan KH. Dahlan Semarang

4.      Pondok Pesantren Mangkang Semarang

5.      Pondok Pesantren Punduh Magelang

6.      Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk

7.      Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’

 

Pada 1926, Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, namanya diganti menjadi Ihsan. Dua tahun kemudian, Ihsan berduka karena sang ayah, KH. Dahlan, dipanggil oleh Allah. Semenjak itu, kepemimpinan PP (Pondok Pesantren) Jampes dipercayakan kepada adik KH. Dahlan, yakni KH. Kholil. Akan tetapi, dia mengasuh Pesantren Jampes hanya selama empat tahun. Pada 1932, dengan suka rela kepemimpinan Pesantren Jampes diserahkannya kepada Ihsan. Sejak saat itulah Ihsan terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes.

 

Ada banyak perkembangan signifikan di Pesantren Jampes setelah Syaikh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga PP Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942.

 

Karya-Karya Ihsan Muhammad Dahlan Jempesi[3]


1.      Tasrih Al ‘Ibarat, kitab ini menjelaskan tentang cara penggunaan kuadran/rubu’, suatu alat kuno perlengkapan ilmu falak yang berbentuk seperempat lingkaran dengan sisi lengkung 90 drajat. Pada bab akhri kitab ini, kuadran tersebut digunakan untuk mengetahui awal dan akhir waktu-waktu 5 shalat fardhu.


2.      Siraj Al Thalibin, kitab ini merupakan syarah dari kitab karangan terakhir Imam Al Ghazali: Minhaj Al ‘Abidin.


3.      Manahij Al Imdad, kitab ini menguraikan tiga pokok ajaran islam yaitu keimanan, hukum-hukum syari’ah dan tasawuf/akhlak.


4.      Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan, kitab ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

 

Pemikiran Ihsan Muhammad Dahlan Jempesi


1.   Dalam kitab beliau “Sirajutolibin” syarah minhajul ’abidin, beliau mengatakan, “Bahwa saat ini banyak orang bodoh tapi berani mengatakan dirinya bisa sampai kepada maqom makrifat, mukasyafah dan mendapat karomat. Padahal, mereka samasekali tidak mengerti syariat, bagaimana mungkin hal itu terjadi (assufiyah al-maghrurin fi asrihi).


2. Pemikiran beliau tentang Uzlah (mengasingkan diri), pengertian tentang uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari uzlah di era sekarang adalah bukan lagi menyepi, tapi membaur dalam masyarakat majemuk, namun tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawian. Luar biasa, sebuah  pemikiran yang luar biasa dari seorang pemikir syaikh Ihsan Jampes. Inilah konsep yang sangat bijaksana, di saat lingkungan, di saat masyarakat jauh dari tuntunan, bukan berarti mereka harus ditinggalkan untuk mengasingkan diri, akan tetapi kita harus tetap ada di tengah-tengah mereka untuk membangun dan menyadarkan mereka ke jalan yang lurus. Dan tentunya pemikiran beliau senada dengan konsep hijrah yang bukan berrti keharusan hijrah adalah hijrah tempat, kan tetapi hijrah pemikiran, hijrah akidah dan hijrah pergaulan. Kita ada di tengah masyarakatyang rusak bukan untuk ikut rusak, akan tetapi untuk tetap istiqomah sambil membenahi ummat. Dan pemikiran  inilah yang saat ini sedang di jalankan oleh para da’i ilalloh. Membangun generasi dan membangun negeri bersama para da’i.


3.  Konsep zuhud diartikan sebagai tapa dunia atau menghindari harta benda. Syekh Ihsan mengajarkan bahwa orang yang zuhud sebenarnya adalah mereka yang dikejar harta, namun tak merasa memiliki harta itu sama sekali. ”Jadi zuhud adalah tapa dunia tapi malah kaya. Nah kalau sudah kaya lantas mencari jalan yang terbaik dalam menafkahkan hartanya itu.


Inilah zuhud yang sebenarnya,  tanpa  meninggalkan harta namun tanpa mendewakan harta. Dunia adalah  keniscayaan, untuk kehidupan juga untuk ibadah yang berhubungan dengan materi. Ada zakat, sedekah,  haji, umroh dan lain-lain. Pemikiran beliau memberikan pemahaman kepada kita bahwa dunia bolehdicari dan boleh di miliki, tapi ingat..!! dapatkan dengan cara halal dan belanjakan pada yang halal.

 

WAFAT, JASA DAN WARISAN SYAIKH IHSAN

Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. beliau meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam suthur (kertas: karya-karyanya yang ‘abadi’) maupun dalam shudur (memori: murid-muridnya).

 

Dan inilah warisan yang tak akan pernah habis, bahkan Rosululloh menyebutkan bahwa para Nabi tidaklah mewariskan apapun kecuali ilmu, dan barangsiapa mengambil warisan tersebut maka dia telah mendapatakan bagian yang amat banyak.

Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah:


1.      Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban

2.      KH. Zubaidi di Mantenan Blitar

3.      KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap

4.      KH. Busyairi di Sampang Madura

5.      K. Hambili di Plumbon Cirebon

6.      K. Khazin di Tegal.

 

Sumbangan Syaikh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya masterpiecenya, siraj ath-Thalibin, terutama ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab- al-Halab. Sayangnya, di antara kitab-kitab karangan Syaikh Ihsan, baru siraj ath-Thalibinlah yang mudah didapat. Itu pun baru dapat dikonsumsi oleh masyarakat pesantren sebab belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia



[1] Syeikh Ihsan Dahlan, pengantar buku terjemahan buku kitab, kopi dan rokok, (Jogjakarta: Pustaka Pesantren, 2009) cet. 1, hal. xv

[2] KH. Busrol Karim A Mughni, Syekh Ihsan Bin Dahlan Jampes Kediri (Jampes Kediri: Cetekan ke-9 oktober 2012) hal 23-24

[3] Abu An’im, Petuah Kyai Sepuh (Kediri: Cv.Sumenang, 2010), 38.  

Comment

LEAVE A COMMENT