TGKH. Muhammad Zainudin: Sang Mujahid Sejati dan Ulama Nasionalis dari Pulau Sasak

TGKH. Muhammad Zainudin: Sang Mujahid Sejati dan Ulama Nasionalis dari Pulau Sasak

“Perjuangan ibarat dua mata sisi uang logam yang tidak dapat terpisahkan, yaitu Keindonesiaan dan Keislaman”.

Tuan Guru Kyiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan salah salah ulama kharismatik dari pulau sasak, Lombok. Pada tanggal 10 November pemerintah secara resmi memberikan gelar pahlawan Nasional. Pemberian tanda jasa sebagai pahlawan nasional bukan tanpa pertimbangan matang. Namun, TGKH. Muhammad Zainudin mmemang merupakan sosok ulama yang sangat gigih berjuang dalam menggerakkan masyarakat lombok untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan beliua merupakan satu – satunya putra asli lombok yang pertama mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir terlahir dengan nama Muhammad Saggaf, dari pasangan Tuan Guru Haji Abdul Madjid dengan Hajjah Halimah Al-Sa’diyyah di kampung Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, NTB. Pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1316 bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 Masehi. Nama Saggaf diambilkan dari nama dua orang waliyullah dari Hadramaut yang sedang berkunjung ke Lombok untuk menemui ayahandanya. Baru setelah berhaji nama nya diganti menjadi Muhammad Zainuddin yang diambilkan dari nama ulama besar yang mengajar di Masjidil Haram. Nama ulama tersebut adalah Syeh Muhammad Zainuddin Serawak, berasal dari Malaysia. sedangkan nama Abdul Madjid diambil dari nama ayahanda beliau.

Selain panggilan Tuan Guru, masyarakat sasak di Lombok juga memanggil dengan sebutan maulana syeh atau tuan guru Pancor, panggilan tersebut sebagai bentuk ketawaddu’an dan penghormatan masyarakat sasak untuk TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dari beberapa cerita yang terdengar di masyarakat, sejak kecil beliau memang terkenal cerdas sehingga tidaklah heran bila ayahanda dan ibundanya memberikan perhatian yang besar, bahkan ketika menginjak usia 9 tahun beliau berangkat ke Mekkah untuk menimba ilmu.

Baca juga : TGH. Saleh Hambali : Sang Guru Dari Tanah Sasak, Karya Dan Kiprahnya Dalam Menyebarkan Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah

Bila kebanyakan anak-anak muda yang berangkat menimba ilmu ke Mekkah berangkat sendiri atau bersama teman seperjalanan maka Muhammad Zainuddin justru ditemani langsung oleh ayahanda dan ibundanya. Setelah selama tiga setengah tahun bermukim di Mekkah, ibunda beliau wafat di mekkah dan di makamkan di Ma’la, Makkah.

Sebelum berangkat menimba ilmu ke Mekkah, Muhammad Zainuddin digembleng dan ditempa terlebih dahulu dibawah asuhan ayahandanya, beliau juga berguru pada ulama setempat diantaranya TGH. Syarafuddin, TGH. Muhammad Sa’id dan Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari desa Kelayu, Lombok Timur.

Sesampainya di Mekkah, ayahnada beliau sangat berhati-hati dalam memilihkan guru untuk anaknya yaitu Muhammad Zainuddin, maka guru pertama beliau di Mekkah adalah seorang ulama keturunan Arab – Palembang yang bernama Syech Marzuki, selain kepada Syech Marzuki beliau juga belajar sastra kepada Syech Muhammad Amin al-Quthbi. Selang belajar beberapa tahun Muhammad Zainuddin kemudian berkenalan dengan seseorang yang bernama Mawardi berasal dari Jakarta, beliaulah yang kemudian mengajak Muhammad Zainuddin untuk menimba ilmu di madrasah al-shaulatiyah, yang dipimpin oleh Syech Salim Rahimatullah.

Muhammad Zainuddin masuk ke madrasah al-Shaulatiyah berkisar tahun 1342 H (1927 M) dibawah pimpinan Syeh Salim Rahimatullah selaku Mudir/Direktur. Sebuah kebiasaan di al-Shaulatiyah bahwa setiap murid baru yang akan masuk maka wajib mengikuti test dan setelah mengikuti test ternyata Muhammad Zainuddin mampu langsung masuk ke kelas 3, namun beliau meminta kepada pimpinan madrasah untuk ditempatkan di kelas 2 agar dapat memperdalam ilmu Nahwu dan Sharaf, berkat kecerdasanya beliau mampu menyelesaikan pendidikan dalam waktu relatif singkat yaitu 6 tahun yang biasanya ditempuh dalam waktu 9 tahun.

Sahabat sekelas TGKH. Muhammad Zainuddin bernama Syaikh Zakaria Abdullah Bila, mengakui kejeniusannya dan mengatakan : Syaikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kejeniusannya yang tinggi dan luar biasa dan saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, dan kawan sekelasku dan saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi pada waktu saya bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah Al-Shaulatiyah Mekah.

Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah Al-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Mekah, yaitu Al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah al-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah. Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studi di Madrasah al-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H dengan predikat "mumtaz" (Summa Cumlaude).

Setelah selesai menuntut ilmu di Mekah dan kembali ke tanah air, TGKH. Muhammad Zainuddin langsung melakukan dakwah ke berbagai pelosok di pulau Lombok, sehingga beliau cepat dikenal secara luas oleh masyarakat. Masyarakat kemudian memberikan panggilan 'Tuan Guru Bajang', pada tahun 1934 beliau mendirikan pesantren al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama dan selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941.

Pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau mendirikan lagi madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok yang merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara khusus nama madrasah tersebut beliau adikan menjadi nama pondok pesantren 'Dar al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan'. Istilah 'Nahdlatain' beliau ambil dari kedua madrasah tersebut.

 Pada saat penjajahan, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng pemuda dan pemudi yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan secara khusus TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk  gerakan yang diberi nama "Gerakan al-Mujahidin". Gerakan al-Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa Indonesia. Pada tanggal 7 Juli 1946, TGH. Muhammad Faizal Abdul Majid adik kandung TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memimpin penyerbuan tanksi militer NICA di Selong. Namun, dalam penyerbuan gugurlah TGH. Muhammad Faisal Abdul Madjid bersama dua orang santri NWDI sebagai Syuhada'.

Kecintaan Tuan Guru Pancor terhadap negara dan bangsanya tidak hanya diimplementasikan dalam bentuk perlawanan terhadap penjajah yang mengakibatkan saudara kandungnya gugur, namun juga terimplementasi dan tercermin dari nama organisasi yang beliau dirikan yaitu Nahdatul Wathan yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti “Kebangkitan Tanah Air”. Tuan Guru Pancor selalu menekankan bahwa perjuangan ibarat dua mata sisi uang logam yang tidak dapat terpisahkan, yaitu Keindonesiaan dan Keislaman.

Sebagaimana kebanyakan ulama dahulu, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga sangat piawai menulis sehingga ditengah kesibukanya mengajar dan melayani masyarakat masih menyempatkan untuk menulis beberapa kitab baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Sasak, diantaranya : Risalah al-Tauhid, Sullam al-Hija Syarah Safinah al-Naja, Nahdlah al-Zainiah, At Tuhfah al-Amfenaniyah, Al Fawakih al-Nahdliyah, Mi'raj al-Shibyan ila Sama'i Ilm al-Bayan, Al-Nafahat ‘ala al-Taqrirah al-Saniyah, Nail al-Anfal, Hizib Nahdlatul Wathan, Hizib Nahdlatul Banat, Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, Shalawat Nahdlatain, Shalawat Nahdlatul Wathan, Shalawat Miftah Bab Rahmah Allah, Shalawat al-Mab'uts Rahmah li al-‘Alamin. Sedang karya dalam bahasa Indonesia dan Sasak seperti Batu Ngompal, Anak Nunggal, Taqrirat Batu Ngompal dan Wasiat Renungan Masa I dan II.

Pada akhir tahun 1997 masyarakat NTB dikejutkan dengan berpulangnya Tuan Guru Pancor atau Syeh Maulana Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke Rahmatullah bertepatan dengan hari, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M / 18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Warisan perjuangannya tersebar dalam bentuk 1.060 sekolah Nahdlatul Wathan di 18 provinsi.

Comment

LEAVE A COMMENT