Dakwah Rasul
Cara Dakwah Rasul yang Banyak Diabaikan Para Pendakwah

Cara Dakwah Rasul yang Banyak Diabaikan Para Pendakwah

Datanglah pemuda brandal menemui Nabi saat Beliau berkumpul dengan Para Shahabatnya. Dengan suara lantang si Pemuda berkata kepada Nabi. “idzinkan saya berbuat zina wahai Rasulullah..!” Spontan, apa yang dikatakan pemuda itu menyulut amarah Para Shahabat Nabi.

Melihat gejala yang tidak baik, akhirnya Nabi meminta Para Sahabatnya untuk tetap tenang menahan diri. Dengan penuh sahaja dan ketenangan Nabi meminta si Pemuda duduk di hadapannya. Terlihat jelas bagaimana Nabi memperlakukan si Pemuda ini dengan begitu terhormat.

Lalu Nabi berkata : “Apakah kau bersedia seandainya kau berzina dengan ibumu?” tentu tidak Ya Rasul. Jawab si Pemuda. Lalu nabi mengulangi perkataannya: “ Apakah kamu bersedia berzina dengan saudarimu sendiri?” tentu tidak ya Rasul.  Jawabnya, rupa-rupanya si Pemuda mulai menemukan jawabannya.

Mendadak Si Pemuda berdiri lalu berkata: “kalau begitu berdoalah untukku wahai Rasul” ! maka, Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, jagalah kemaluan pemuda ini, sucikan hatinya  dan ampuni dosa dosanya”. Kemudian, Pemuda itu Berdiri seraya berkata: tidak ada seorangpun di Dunia ini yang aku cintai melebihi Rasulullah, Pemuda itupun berlalu dari hadapan Rasulullah. Anis al-Mu’minin, sahfuk Sa’dullah al-Mukhtar, 21.

Hikmah dari cerita di atas bahwa dakwah tidak harus menghina, tidak harus mencaci, tidak harus menjatuhkan. Tetapi dakwah harus dilakukan dengan cara yang santun dan bijaksana. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah didalam menghadapi Pemuda berandal itu sesuai dengan al-Qur’an surat al-Nahl ayat 125 :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah/berdakwahlah kepada manusia untuk berjalan dijalan Tuhanmu dengan cara yang hikmah, bijaksana dan peringatan yang baik, dan bantahlah mereka dengan bantahan yang baik”.

Baca Juga:  Empat Penyebab Kesedihan menurut Imam Al Ghazali

Dan ternyata menurut pengakuan Nabi sendiri, bahwa metode dakwah Rasul adalah hikmah dan mau’idhah al-Hasanah. Nabi bersabda :

عن أبي ليلى الأشعري صاحب رسول الله صلى الله عليه و سلم عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال تمسكوا بطاعة أئمتكم ولا تخالفوهم فإن طاعتهم طاعة الله وإن معصيتهم معصية الله وإن الله إنما بعثني أدعو إلى سبيله بالحكمة والموعظة الحسنة

Dari Abu Laili al-Asy’ari, Salah seorang Shahabat Rasul, dari Rasulullah saw. Beliau bersabda: “berpegang teguhlah kalian dengan kepatuhan kepada Pemimpin kalian, janganlah kalian membantah, membangkang mereka, karena kepatuhan kalian kepada mereka adalah kepatuhan kepada Allah, dan pembangkangan kalian adalah pembangkangan kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengutusku untuk mengajak kalian kepada jalan Allah dengan cara hikmah (bijaksana) dan cara mau’idhah al-Hasanah (peringatan yang baik). al-Mu’jam al-Kabir, Al-Thabrani, 22/373 No. 935

Secara dhahir hadits ini menegaskan tentang metode dakwah rasul yaitu metode dakwah dengan hikmah dan metode dakwah mau’idhah al-hasanah.

Jalaluddin al-Mahalli dan jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam tafsir al-Jalalain: bahwa yang dimaksud dengan cara hikmah itu adalah dengan cara-cara al-Qur’an, sementara yang dimaksud dengan mau’idha al-Hasanah (peringatan yang baik) itu adalah dengan cara penuh kesantunan baik bahasa, perilaku maupun hatinya. Tafsir al-Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli dan jalaluddin al-Suyuthi.

Adakah para pendakwah di Indonesia yang melakukan dakwahnya dengan cara cara Rasulullah?! Berdakwah dengan hikmah dan mau’idhah al-hasanah!

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo