Brigjen R A Nurwakhid SE MM
Brigjen R A Nurwakhid SE MM

Cegah Murid-Murid Sekolah Terpapar, Guru Wajib Paham Bahaya Radikalisme

Bandar Lampung – Pendidik atau guru harus memahami bahaya penyebaran  paham radikal terorisme.Faktor guru ini snagat penting untuk mencegah masuknya paham tersebut kepada murid-murid sekolah maupun terhadap lingkungan masyarakat di sekitarnya  Karena guru ini bisa menjadi pintu masuk sekaligus pintu keluar radikalisme di kalangan remaja.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhis, SE, MM, saat saat memberikan pembekalan Pencegahan Paham Radikalisme dan Terorisme  kepada  1.054  Kepala Sekolah tingkat SMA /SMK se-Provinsi Lampung secara daring dan luring dalam acara Dialog Kebangsaan Harmonisasi Bangsa. Acara tersebut berlangsung  di Aula Kantor Gubernur Provinsi Lampung, Bandar Lampung, Sabtu (18/12/2021).

“Bahaya paham radikalisme dan terorisme ini sangat penting untuk dipahami oleh para guru. Karena guru itu bisa menjadi pintu masuk sekaligus pintu keluar radikalisme di kalangan remaja atau pun pemuda para generasi Z atau generasi milenial,” ujar Ahmad Nurwakhid.

Ia menjelaskan, bisa menjadi pintu masuk radikalisme kalau para guru justru menamankan dan mengajarkan hal-hal yang intoleran, radikal, hate speech, anti pemerintah dan sebagainya.

“Tetapi bisa menjadi pintu keluar dan menjadi vaksin secara ideologis kalau para guru dan kepala sekolah ini menanamkan hal-hal yang moderat, hal yang mendinginkan, mendamaikan, mempersatukan, cinta tanah air dan bangsa, menanamkan akhlakul kharimah, mencintai Pancasila sebagai ideologi negara dan lain sebagainya. Sehingga sangat relevan dan sangat penting untuk mereka pahami,” kata Nurwakhid.

Menurutnya, hal itu harus dilakukan karena berdasarkan hasil survei sebesar  12,2% yang merupakan indeks potensi radikalisme, yang mana 85% nya adalah para generasi milenial yaitu generasi berumur antara 20 sampai 39 tahun. Kemudian yang kedua adalah generasi Z yang merupakan antara umur 14 sampai 19 tahun.

Baca Juga:  Bomber Makassar Dari Kalangan Milenial, DPR: Buat Program Moderasi Beragama Untuk Generasi Muda

“Kebetulan para Kepala Sekolah SMA dan SMK ini bisa hadir untuk mengetahui seperti apa ciri-ciri orang yang terpapar paham radikalisme dan terorisme. Ini sangat relevan supaya apa yang saya sampaikan tadi bisa disosialisasikan kepada para siswanya. Karena ini juga merupakan bagian dari pada kesiapsiagaan nasional sekaligus juga menanamkan moderasi berbangsa dan beragama,” ujar mantan Kabagbanops Densus 88/Anti Teror Polri ini.

Nurwakhid menambahkan, radikalisme dan terorisme ini merupakan virus yang dapat menyerang siapa saja. Virus tersebut tidak memandang suku, agama, pendidikan, dan sebagainya. Ia mencontohkan Dr. Azhari yang merupakan orang pintar atau Insinyur dapat menjadi teroris, begitu juga dengan Osamah Bin Ladin. Terorisme sendiri, lanjutnya tidak ada kaitannya dengan agama. Namun, teroris ini terkait dengan pemahaman agama yang menyimpang.

“Jadi, agama teroris ini biasanya didominasi agama yang menjadi mayoritas di suatu daerah, jadi bukan Islam saja. Seperti KKB di Papua itu yang melakukan agama Kristen karena mayoritas disana Kristen. Begitu juga di Myanmar ada Biksu yang membuat umat Islam Rohingya terusir dan pergi ke Bangladesh,” tuturnya.

Untuk itu, virus-virus radikalisme ini perlu diberikan vaksin. Salah satunya dengan mengadakan Dialog Kebangsaan seperti ini sebagai upaya untuk menyamakan persepsi, terutama untuk kepala sekolah yang untuk selanjutnya dapat diteruskan kepada tenaga pendidik dan siswa disekolah masing-masing. Bahkan dirinya juga mengamati masih ada juga guru yang  terpengaruh radikalisme dan terorisme.

“ASN (Aparatur Sipil Negara)  itu ada 19,2 % yang masuk dalam Index Potensi Radikalisme. Ciri-cirinya mereka ini sudah anti Pancasila, pro khilafah. Mereka sudah intoleran terhadap keragaman dan perbedaan. Mereka sudah eksklusif terhadap perubahan, dan mereka juga anti terhadap pemerintahan yang sah, mereka juga anti terhadap budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.

Baca Juga:  Habib Luthfi: Nasiolisme Adalah Benteng Utama Melawan Radikalisme dan Terorisme

Untuk itu ia sangat mengapresiasi Pemerintah Provinsi Lampung yang telah menggelar acara Dialog Kebangsaan yang menghadirkan seluruh Kepala Sekolah tingkat SMA/SMK. Karena  ini merupakan kegiatan yang memiliki nilai strategis.

“Kegiatan ini seperti semacam training of trainer. Dimana kami memberikan vaksinasi ideologi dan sekaligus men training supaya mereka menjadi trainer untuk menyebarkan kepada seluruh siswa maupun masyarakat di sekitarnya.  Karena kegiatan seperti ini sebagai upaya pencegahan terhadap paham radikal terorisme ini yang menjadi amanah dari undang-undang nomor 5 tahun 2018 tentang penanggulangan terorisme dan Peraturan Pemerintah nomor 77 tahun 2019,” pungkas Nurwakhid.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …