Cerita Febri Ramdani Tertipu Khalifah ISIS

0
785

Jakarta – Pada tahun 2014 kelompok teroris yang menamakan diri sebagai Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) memproklamirkan berdirinya kekhalifahan mereka di Mosul, Irak. Sejak saat itulah berbagai macam propaganda mereka sebarkan melalui media sosial.

Propaganda yang paling banyak menyentuh masyarakat adalah janji untuk hidup sesuai dengan syariat Islam, selain itu dijanjikan pula untuk bekerja dengan gaji tinggi, pendidikan, kesehatan hingga berbagai fasilitas hidup digratiskan. Rupanya propaganda kelompok teroris ISIS di media sosial berhasil, hingga akhirnya banyak orang dari berbagai negara yang berangkat ke Irak dan Suriah sebagai tempat kekhalifahan ISIS.

Merebaknya propaganda ISIS diberbagai negara yang membuat beberapa orang berangkat ke Irak dan Syiria juga terjadi di Indonesia. Febri Ramadani, salah seorang yang kemudian berangkat ke Suriah untuk menjemput impian hidup dibawah naungan khilafah.

Awal dari cerita Febri berangkat ke Suriah dimulai dengan keberangkatan anggota keluarganya pada 2015. Febri sempat berdebat panjang dan bersikeras tidak mau berangkat bersama keluarganya ke Suriah.

Keberangkatan 26 anggota keluarganya ke Suriah sempat membuat Febri limbung dan stres, bagaimana tidak, seluruh anggota keluarganya berangkat ke Suriah meninggalkan Febri seorang diri ditengah keadaan ekonomi yang kian sulit.

Pasca keberangkatan seluruh anggotannya ke Suriah, Febri mulai mencari informasi tentang ISIS didunia maya, melihat semua propagandanya, lambat laun Febri mulai tertarik dengan berbagai iming-iming kelompok teror pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi.

Satu janji yang menyentuh pikiran Febri adalah, sang khalifah membebaskan setiap pengikutnya untuk menentukan profesi atau pendidikan yang hendak dilakoni di Suriah—tak harus berperang.

Semuanya tampak sesuai dengan syariat Islam yang dipahami oleh Febri. Karenanya, tanggal 26 September 2016, Febri angkat kaki dari Tanah Air, menyusul keluarganya.

“Awalnya saya tak setuju, ragu, apa benar ISIS di Suriah menjalakna syariat Islam. Semua keluargaku pergi karena ekonomi kami lagi di bawah. Mereka meninggalkan saya,” kata Febri.

Febri kekinian menuliskan perjalanan hidupnya dan diterbitkan menjadi buku berjudul “300 Hari di Bumi Syam: Catatan Perjalanan Mantan Pengikut ISIS”. Buku itu didiskusikan olehnya di Aula Gedung IASTH, Kampus Universitas Indonesia, Salemba seperti dikutip dari laman suara.com, Selasa (11/2/2020).

Menembus barikade

TAK mudah menembus masuk Suriah ketika perang antara ISIS dan pasukan koalisi internasional tengah berkecamuk.

Dua bulan sebelum tahun 2016 berakhir, Febri dibantu salah satu kerabat pergi ke Suriah.

Kerabatnya itu pula, yang setahun sebelumnya, membantu keluarga Febri menyeberang ke Suriah, ikut ISIS.

Febri harus menempuh jalan memutar. Lebih dulu, kerabatnya memberangkatkan Febri ke Istanbul, Turki.

Selama di Istanbul, Febri menggunakan visa turis. Lima hari dia di kota penuh kenangan era peralihan tersebut, sebelum berangkat ke perbatasan Turki – Suriah.

Kerabatnya meminta Febri menunggu di salah satu titik kota Istanbul yang akan memberangkatnnya ke perbatasan memakai bus.

“Busnya cukup besar, berkapasitas 50 orang. Kami dibawa ke perbatasan lewat jalan setapak,” kata Febri.

Sesampainya di perbatasan, Febri menyerahkan KTP dan Paspor Indonesia kepada ISIS. Febri dan lainnya lantas disuruh lari, masuk ke wilayah Suriah.

Salah kelompok

FEBRI yang lugu tak mengenal sekat-sekat organisasi yang bertikai di Suriah, meski sama-sama berpredikat teroris.

Akibatnya, Febri justru ditangkap dan menjadi tahanan. Ia mengira memasuki kawasan ISIS, ternyata kamp milik Jabhat Al Nusra yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

“Saya ditangkap selama sebulan, saya tak tahu. Kami bernegosiasi, dan akhirnya dibebaskan setelah mengaku sebagai relawan kemanusiaan.”

Hancurnya impian

TIDAK ada impian indah Febri yang tersisa saat benar-benar masuk ke wilayah ISIS di Suriah.

Tak ada pendidikan gratis. Kesehatan cuma-cuma, ternyata hanya bualan. Di Suriah, hanya ada kota yang sudah hancur lebur akibat perang.

“Saat saya masuk sudah berbeda, sudah ada bendera-benderanya. Tapi kok beda sama yang dipropagandakan. Kok hancur semua.”

Satu-satunya impian yang tersisa bagi Febri adalah bertemu dengan keluarga besarnya. Sudah setahun tak bertemu, maka rindu harus terbayar lunas.

Di Suriah, Febri bertemu salah satu WNI yang juga menjadi pengikut ISIS. WNI itu mengakui mengetahui keluarga Febri dan akhirnya mempertemukan mereka.

“Akhirnya saya bertemu keluarga dan alhamdulillah ibu masih hidup. Memang ada beberapa yang  sudah meninggal.”

Pertemuan mereka berlangsung singkat. Febri hanya diberikan waktu dua hari untuk temu kangen bersama keluarga yang sudah tak lagi lengkap.

Selanjutnya, Febri diharuskan mengikuti wajib militer oleh ISIS. Tak ada pendidikan gratis, apalagi kebebasan memilih profesi seperti dijanjikan sang khalifah.

“Aku baru tahu, keluargaku marah saat melihatku di Suriah. Mereka berharap aku tak menyusul mereka. Sebab, mereka juga ingin kembali ke Indonesia.”

Segala kebusukan ISIS akhirnya diketahui Febri, bukan dari siapa-siapa, tapi justru dari keluarganya sendiri yang dulu meninggalkannya demi ke Suriah.

“Mereka bilang kenapa kamu ke sini. Kami sudah mau pulang ke Indonesia. Kami enggak dapat apa yang dijanjikan ISIS, kami justru diancam. Mereka jelaskan keburukan ISIS. Saya kaget.”

Febri dan keluarganya berembuk, mencari jalan untuk kembali ke Indonesia. Ia lantas mendapat pertolongan dari penduduk lokal agar bisa keluar dari wilayah ISIS.

Penduduk lokal meminta Febri lebih dulu menyerahkan diri ke Pasukan Demokratik Suriah. Sesudahnya, ia dan keluarga dipenjara selama 2 bulan agar bisa mendapat perlindungan KBRI. “Usai 2 bulan dipenjara, kami dipertemukan dengan KBRI. Kami dijemput di perbatasan Irak – Suriah, di sana ada Kemenlu dan Dubes RI. Kami dibawa untuk proses pemulangan.”