nabi idris
nabi idris

Cerita Nabi Idris untuk Anak (2) : Nabi yang Cerdas yang Mewariskan Tradisi Menulis

Dengan kecerdasan ilmu yang beliau miliki, Nabi Idris juga dikenal sebagai manusia pertama yang menulis menggunakan pena. Allah telah menganugerahkan 30 lembaran yang berisikan tentang petunjuk dari Allah yang harus disampaikan oleh Nabi Idris kepada umatnya.

Diketahui bahwa, ilmuwan pernah menemukan beberapa potongan naskah kuno (Kitab Henokh) yang diklaim memiliki keterkaitan dengan Nabi Idris. Isi dari naskah tersebut adalah tentang peradaban tertua di bumi Lemuria di Atlantis yang telah hilang. Tak hanya itu, ada pula naskah yang berisi tentang prediksi akan adanya banjir besar yang akan terjadi di bumi.

Selain kecerdasan yang beliau miliki, Nabi Idris juga dikenal sebagai nabi yang memiliki kreativitas yang cukup tinggi. Beliau senang menggambar, menjahit baju dan membuat sandal untuk kakinya supaya tidak terluka.

Sebelumnya, manusia dahulu terbiasa menggunakan kulit binatang sebagai pakaian. Kulit binatang tersebut dipakai apa adanya untuk menutupi alat vital manusia. Dengan keahliannya, Nabi Idris mampu menyulap kulit binatang tersebut menjadi baju yang mampu menutupi seluruh badannya dan melindungi diri dari cuaca dingin dan panas.

Pengetahuan dalam memotong dan menjahit kulit binatang untuk dijadikan pakaian baru digunakan oleh Nabi Idris saja. lambat laun melihat keefektifan baju yang di gunakan Nabi Idris membuat umatnya mengikuti cara berpakaian Nabi Idris dengan membuat baju dari kulit hewan.

Kemuliaan Nabi Idris membuatnya diangkat pada martabat dan tempat yang tinggi di surga. Akhlak Idris tak hanya di sukai manusia saja, bahkan ahklaknyapun juga disukai oleh para malaikat. Malaikat Izrail bahkan secara khusus meminta kepada Allah untuk bertemu dan menemani Nabi Idris.

Allahpun mengabulkan permohonan Malaikat Izrail untuk menemui Nabi Idris. Setelah sampainya malaikat kebumi, malaikat izrail bertemu dengan Nabi Idris, malaikat tersebut memberi salam dan kemudian duduk dan berbincang-bincang.

Baca Juga:  Tampilan dan Pakaian Sunnah (1) : Cara Berpakaian Ala Rasulullah Saw

Nabi Idris: “Wahai Tuan, bolehkah saya tahu, siapakah Tuan yang sebenarnya?”

Malaikat Izrail: “Saya adalah Malaikat Maut.”

Nabi Idris: “Tuankah yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk?”

Malaikat Izrail: “Benar ya Idris.”

Nabi Idris: “apakah Tuan juga telah mencabut nyawa-nyawa makhluk?”

Malaikat Izrail: “Wahai Idris, selama ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.”

Nabi Idris: “Wahai Malaikat, apakah tujuan Tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

Malaikat Izrail: “Saya datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu.”

Nabi Idris: “Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, yaitu agar Tuan mencabut nyawaku, kemudian Tuan mohonkan kepada Allah agar Allah menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu.”

Malaikat Izrail: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan keizinan Allah.”

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Izrail, agar ia mencabut nyawa Idris AS. Maka dicabutlah nyawa Idris saat itu juga dan Nabi Idris pun merasakan kematian ketika itu.

Sewaktu malaikat Izrail melihat kematian Nabi Idris, maka menangislah Malaikat Izrail karena kasihan kepadanya. Setelah meninggal, Allahpun menghidupkan kembali Nabi Idris yang telah tiada. Merasakan kembali hidup, Nabi Idris tak kuasa menahan tangisnya. Beliau tidak mampu membayangkan jika manusia megalami sakaratul maut dengan kedahsyatan yang Beliau rasakan tadi.

Nabi Iadrispun merasa tidak tega jika umatnya sengsara di penghujung kematiannya. Karena pengalaman itulah, Nabi Idris semakin giat mengajak umatnya untuk senantiasa berbuat kebaikan dan jujur untuk hal-hal kebenaran.

Baca Juga:  Bilal bin Rabah dan Semangat Menggapai Ketaqwaan

Dari kisah Nabi Idris ini terdapat sejumlah hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Kisah Nabi Idris, mampu menjadi contoh untuk dunia pendidikan saat ini. Selain itu, kreativitas dan kejujuran yang dimiliki juga bisa menjadi contoh baik bagi umat manusia hingga saat ini.

Bagikan Artikel

About Inke Indah Fauziah