indonesia raya
indonesia raya

Cinta Tanah Air Bagian dari Syariat

Cinta tanah air merupakan perasaan yang wajib tumbuh bersemi dalam setiap relung jiwa Rakyat Indonesia. Sikap cinta tanah air yang dimiliki oleh setiap individu dapat berbeda pantulannya, dapat tercermin dari perilaku untuk membela dan melindungi tanah airnya, rela berkorban demi kepentingan bangsa, mencintai adat, budaya, serta lingkungan.


Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan terhadap bangsa. Semua itu terangkum dalam tujuan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Lagu kebangsaan dapat membentuk identitas nasional suatu negara dan dapat digunakan sebagai ekspresi dalam menunjukkan nasionalisme dan patriotisme.

Ekspresi seperti itu pernah di lakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama.

عن أنس رضي الله عنه ، ” أن النبي صلى الله عليه وسلم ، كان إذا قدم من سفر ، فنظر إلى جدرات المدينة ، أوضع راحلته وإن كان على دابة حركها من حبها ” *

“dari Anas ra. Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama Ketika datang dari bepergian, dan (dari kejauhan) mulai melihat dinding-dinding kota Madinah, Beliau mempercepat jalan kendaraan yang ditunggangi. Bahkan beliau sampai menghentak-hentakkan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya, Madinah”. HR. Bukhari,1796

Syaikh Badruddin al-‘Aini al-Hanafi menyimpulkan bahwa komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat dari Nabi sejatinya hendak mengkomunikasikan pesan-pesan tentang bahwa cinta tanah air itu merupakan bagian dari syari’at Islam. ‘Umdah al-Qari, 15/439

nasionalisme (cinta tanah air) dalam kesadaran normative idiil kita mungkin sudah dianggap bersifat ‘given’, seolah olah bendanya sudah ada, seolah olah sudah jelas bentuknya, seolah olah sudah jelas wujudnya dan jelas pula sifat sifatnya. Konsekwensi logis dari kesadaran ini pun mungkin jelas: pemahaman kita terhadap nasionalisme.

Baca Juga:  ''MUI Berkhidmah'' Sebar Dai di Bumi Papua

Nasionalisme yang hidup dalam denyut nadi sosial, sesungguhnya masih terus berlangsung mencari jati diri. Karena pada dasarnya, segala sesuatu dalam proses sosial masik sibuk membentuk dirinya. Maka, sejatinya, menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” merupakan serpihan kecil dari proses nasionalisme. Bongkahannya adalah “membangun insan yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah”.

Diam-diam banyak di kalangan umat, para pencetus kebijakan, para fungsionaris Lembaga Pendidikan, dan para pemikir masa depan umat berada dalam kegelisahan, bahkan mungkin tegang, menghadapi perubahan perubahan zaman yang belum sangat jelas sosoknya, namun nyaris sangat jelas ancamannya. Dan jika ini dibiarkan, maka berarti pula nasionalisme dalam serangan penyakit akut yang muncul dan bisa memburuk secara mendadak.

Ini hal serius yang mendesak untuk segera ditangani, dengan cara apa? Dengan cara mencetuskan sebuah sistem Pendidikan yang ideal. Sebuah sistem yang memiliki ‘balance’ antara intektual, emosional, dan spiritual guna “membangun insan yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah” sebagai cita cita luhur nasionalisme.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …