istighfar anak
istighfar

Dahsyatnya Istighfar Anak untuk Orang Tuanya yang telah Meninggal

Judul ini ditulis oleh Abul Hasan al Hakkari dalam kitabnya Hadiyyatu al Ahya li al Mayyit wa ma Washala Ilaihim. Mengejutkan memang, disaat gencar-gencarnya kampanye sebagian kecil kelompok muslim yang mengatakan pahala bacaan al Qur’an, tahlil, dan doa yang dihadiahkan untuk orang yang telah meninggal merupakan perbuatan sia-sia, tidak memberi manfaat kepada mereka dan bid’ah, justru dibantah oleh hadis Nabi.

Ada banyak hadis yang memastikan pahala membaca al Qur’an, tahlil dan sebagainya dimana pahalanya dihadiahkan untuk orang yang telah meninggal sangat bermanfaat dan sampai kepada mereka.

Lebih mengejutkan, hadis Nabi riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah yang menceritakan kedahsyatan istighfar seorang anak yang mampu meninggikan derajat orang tuanya di surga.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seorang hamba-Nya yang shaleh di surga. Ia bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhanku, bagaimana semua ini (menjadi) milikku”?  Allah menjawab, “Karena sebab istighfar anakmu untuk dirimu”.

Sungguh dahsyat istighfar anak untuk orang tuanya yang telah meninggal. Derajatnya diangkat oleh Allah. Lazimnya, istighfar atau permohonan ampun ini dibaca setelah shalat. Bahkan, istighfar anak untuk orang tuanya yang telah meninggal disematkan dalam wirid setelah shalat lima waktu.

Dalam tradisi keagamaan Ahlussunah wal Jama’ah wirid sesudah shalat dibuka dengan istighfar. Kalimat permohonan ampun kepada Allah untuk dirinya, orang tua dan semua umat Islam yang lebih dulu menghadap pencipta. Alhasil, tradisi ini mendidik seseorang memintakan ampun untuk orang tuanya minimal lima kali sehari.

Tentu kebahagian tak terkira bagi orang tua yang anaknya selalu rutin memintakan ampun untuk dirinya. Derajatnya akan diangkat dan ditinggikan oleh Allah.

Baca Juga:  Kamu Mencintai Rasul, Mana Buktinya? Rasul Lebih Mencintaimu!

Maka, bagaiman mungkin amaliah seperti ini dituduh sebagai bid’ah?. Ada dua kemungkinan jawaban. Pertama, kelompok yang hobi membid’ahkan amaliah seperti ini dan amalan-amalan yang lain tidak menguasai ilmu agama secara sempurna. Kedua, memilki tujuan politis tertentu. Mereka sengaja membuat isu-isu supaya mudah menyulut kebencian diantara masyarakat.

Untuk itulah, sebagai bentuk bakti anak kepad orang tua, seorang anak harus senantiasa beristighfar untuk kedua orang tuanya.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

dakwah menarik simpati

Dakwah Nabi Menarik Simpati, Bukan Anarki

Sejak dulu, musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Hasrat membunuh manusia-manusia berotak reptil yang menjadi penyebab …

prinsip perdamaian

Melindungi dan Menjamin Keamanan adalah Perintah Agama

Apapun bentuk dan modelnya, radikalisme yang mengarah pada terorisme merupakan tindakan yang tidak sesuai syariat …