adab tertawa
tertawa terbahak

Dai Jenaka Jama’ah Tertawa, Ini Adab Tertawa dalam Islam

Di mana ada pengajian yang penceramahnya lucu, kocak dan jenaka pasti ramai peminatnya. Sebaliknya, kalau dai yang serius sekalipun bobot ceramahnya berkualitas tidak begitu disenangi. Tentu saja tidak ada masalah menyelingi ceramah dengan guyonan untuk sekadar menghilangkan jenuh jamaah. Namun menjadi masalah kalau guyonannya terlalu berlebih-lebihan.

Menjadi ironis apabila pengajian berlangsung di dalam masjid dan para jamaah tertawa terbahak-bahak. Menghadiri pengajian tentu niatnya adalah ingin mengaji, bukan ingin mendapat hiburan dari pelawak. Karenanya, para penceramah mestinya lebih mendahulukan kualitas ceramah dari sekedar membuat jamaah tertawa.

Untuk itu, penting kita mengetahui adab tertawa seperti yang diajarkan oleh Nabi.

Dalam Sunan al Nasa’i diceritakan, Simak bin Harb pernah bertanya kepada Jabir bin Samurah: “Apakah engkau pernah duduk bersama Rasulullah”? Ia menjawab: “Ya, apabila Rasulullah shalat fajar beliau duduk di tempat shalatnya sampai matahari terbit. Para sahabat bercerita tentang kisah-kisah jahiliah, membaca syair dan tertawa. Sedangkan Rasulullah hanya tersenyum”. (HR. Nasa’i)

Di tengah tawa para sahabatnya Rasulullah hanya tersenyum. Beliau tidak ikut tertawa. Beliau mengajarkan bagaimana seharusnya meluapkan kegembiraan. Perlu diingat, Nabi adalah sosok yang sangat humoris, namun ketika mendapati hal lucu yang mengundang tawa beliau hanya tersenyum dengan sedikit tertawa, tidak lebih dari itu.

Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidai pernah melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit dalam mulutnya. Beliau hanya terbiasa tersenyum”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah. Beliau hanya tersenyum dan tidak tertawa terbahak-bahak ketika mendapati hal lucu atau sedang bergembira. Teladan beliau kepada umatnya semestinya ditiru oleh umat Islam. Dalam kondisi sedang bersenda gurau saja Rasulullah tidak pernah tertawa terbahak-bahak, apalagi di majlis pengajian.

Baca Juga:  Berpuasa Secara Kaffah Menurut Imam Ghazali

Penceramah humoris memang perlu, namun sebatas membuat jamaah senang mengikuti pengajian sehingga mereka menjadi rileks dan mudah mencerna materi pengajian. Namun begitu, para jamaah semestinya menyadari kalau tertawa berlebihan, apalagi sampai terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal adalah dilarang.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

silaturrahmi non muslim

Silaturahmi Kepada Orang Tua dan Saudara Non Muslim, Bolehkah?

Meskipun hari raya Idul Fitri telah berlalu, namun sebagian masyarakat muslim tetap memanfaatkan momentum Syawal …

shalat saat adzan

Shalat Saat Adzan Dikumandangkan?

Tujuan azan adalah untuk memanggil umat shalat berjamaah, sekaligus penanda waktu shalat telah tiba. Seperti …