menyaringkan bacaan dzikir
macam dzikir

Menyaringkan Bacaan Dzikir Setelah Shalat, Ini Dalilnya !

Tidak diragukan lagi bahwa berdzikir kepada Allah swt merupakan amaliyah thoyyibah (amalan yang baik), yang hukumnya sunnah. Kesunnahan ini tidak terikat dengan waktu dan tempat. Karena jelas dalil tentang berdzikir tidak dibatasi dengan waktu dan tempat. Seperti firman Allah swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

Lebih-lebih, secara spesifik berdzikir setelah shalat maktubah memang anjuran tersendiri di samping anjuran secara umum tadi. Dalam ayat 103 surat An Nisa’ dijelaskan:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring” (QS. An Nisa’: 103)

Hanya saja, ada sebagian kelompok yang merasa gerah jika dzikir setelah shalat maktubah dinyaringkan secara bersama-sama dengan panduan seorang imam. Bahkan yang demikian dianggap perbuatan bid’ah munkaroh, sebagaimana ditegaskan dalam Fatawa as Sabkah al Islamiyah[1].

Dalil Menyaringkan Bacaan Dzikir

Menyaringkan bacaan dzikir setelah shalat maktubah sebenarnya biasa dilakukan di masa Rasulullah saw, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Abbas ra:

إِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Sesungguhnya menyaringkan suara dengan dzikir ketika orang-orang selesai melaksanakan shalat maktubah, sudah ada di masa Nabi saw” (HR. Bukhari dan lainnya)

Riwayat ini menunjukkan bahwa menyaringkan bacaan dzikir setelah selesai shalat maktubah sudah kebiasaan orang-orang zaman dahulu, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup. Sebab itu, berdasarkan hadits ini, Ibn Hajar al Atsqalani tidak mempermasalahkan menyaringkan dzikir setelah shalat maktubah. Dalam Fathul Bari ia berkata:

Baca Juga:  Perbedaan Pendapat Ulama Fikih Tentang Hukum Anjing

وَفِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى جَوَازِ الْجَهْرِ بِالذِّكْرِ عَقِبَ الصَّلَاةِ

Artinya: “Pada hadits tersebut, dalil kebolehan menyaringkan dzikir setelah shalat”[2]

Sampai di sini, tidak ada seorang ulama’ pun yang berpendapat berdzikir setelah shalat termasuk perkara bid’ah mungkaroh. Perbedaan pendapat di kalangan ulama’ hanya pada mana yang lebih utama antara menyaringkan bacaan dzikir atau memelankan saja. Jika menggunakan argumentasi imam Mutawalli sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajar al Haitami, maka menyaringkan lebih utama, karena melihat aspek keumuman dalil[3].

Wallahu a’lam


[1] Fatawa As Syabkah, Juz 2, Hal 3428

[2] Ibn Hajar al Atsqalani, Fathu al Bari, Juz 2, Hal 325

[3] Ibn Hajar al Haitami, al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, Juz 1, Hal 158

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

talqin mayit

Sunnah Dituduh Bid’ah (3) : Hukum Talqin Mayit Setelah Pemakaman

Talqin adalah mendekte atau menuntun seseorang untuk mengucapkan sesuatu. Ulama’ membagi talqin kepada dua macam; …

dzikir berjamaah

Sunnah Dituduh Bid’ah (2) : Hukum Dzikir Berjamaah

Sudah maklum dalam masyarakat muslim Indonesia, setelah shalat maktubah diiringi dengan dzikir-dzikir thayyibah bersama-sama; makmum …