bahasa
bahasa

Dengan Bahasa, Menembus Dunia

“Batas bahasaku adalah batas duniaku”. Ujar seorang filsuf Jerman Ludwig von Wittgenstein. Jauh sebelum filsuf berpengaruh abad 20 tersebut, al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13 telah menyampaikan tujuan penciptaan manusia dengan beragam bangsa dan etnis adalah agar saling mengenal. Jika zaman dahulu interaksi  antar bangsa dibatasi oleh jarak geografis, di era digital saat ini batas dan jarak itu tidak berlaku selama bahasa sebagai alat dapat dikuasai. Bahasa selain menjadi alat berfikir dan memetakan pemikiran umat manusia, juga sebagai alat komunikasi global.

Setelah menguasai bahasa, sarana yang digunakan bisa dipilih,  misalnya literasi dan koorporasi. Literasi merupakan salah satu sarana silaturrahmi pengetahuan, sedangkan koorporasi merupakan  kerjasama dengan tujuan tertentu atau sekedar memperkuat solidaritas  antar sesama. Literasi akademik seperti jurnal ilmiah merupakan salah satu sarana pertukaran ilmu pengetahuan yang bisa berdampak luas jika disertai dengan konferensi internasional dan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Selain itu, literasi yang memuat inisiatif atau gagasan yang pantas disalurkan dan dipublikasikan melalui media online perlu menggunakan bahasa internasional yang baik dan benar. Bahasa internasional dimaksud adalah yang digunakan secara luas dalam perdagangan, pertukaran ilmu pengetahuan dan kebijakan internasional, yaitu bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Rusia, Arab dan Mandarin. Dalam dunia perdagangan, para eksportir Indonesia menyebut pasar global bisa ditembus dengan tiga bahasa; Inggris, Arab dan Mandarin.

Sebagai contoh, Saya pribadi; Dr. Ribut Nur Huda telah mengajukan gagasan kebahasaan yang saya narasikan dengan bahasa Arab dalam format jurnal penelitian, dan saya ajukan ke Pusat Penddikan Bahasa Arab Negara-Negara Teluk. Alhamdulillah, riset diterima untuk dipresentasikan dalam Konferensi Internasional Sharjah, UEA pada Januari 2023. Artinya, bahasa Arab membantu upaya internasionalisasi gagasan yang ditahap awal akan mengundang  kontroversi mengingat kesimpulannya bahwa keterampilan bahasa ada dua; berbicara dan mendengar, bukan empat sebagaimana Nabi Muhammad Saw sosok yang dikenal bahasanya paling fasih dan hanya dengan mendengar dan berbicara tanpa membaca dan menulis, alias Ummi.  Judul riset tersebut adalah “Meninjau Kembali Keterampilan Bahasa: Studi Epistemologis Atas Pengalaman Indonesia”.

Ala kulli hal, Warga Indonesia di era “lintas batas” saat ini secara nasionalisme adalah warga Indonesia, tetapi secara multikulturalisme  adalah warga dunia. Setidaknya, momentum piala dunia Qatar menegaskan posisi generasi milenial tentang arti solidaritas global. Jaringan yang luas dan otak yang mumpuni menjadi penentu bagi peran generasi mendatang. Jamak diketahui, diantara ciri pemimpin unggul adalah memiliki prinsip bahwa hidup adalah sebuah petualangan. Dengan prinsip ini, bahasa yang santun dan pemikiran yang moderat bisa menembus global dan mewarnai dunia. Terlebih generasi milenial, apalagi zilenial akan banyak dikendalikan oleh media sosial atau dunia maya.

Sekali lagi, pemimpin harus siap menghadapi tantangan global dengan penguasaan bahasa Asing. Bagi kalangan akademisi, peran perdamaian dan pengembangan bisa dilakukan dengan menulis jurnal ilmiah internasional atau menangkal peredaran gerakans trans-nasional di media sosial. Bagi budayawan atau negarawan, bisa mengekspor keunikan budaya dan bahasa Indonesia atau bahasa lokal Nusantara ke kancah global berdasarkan kontribusi yang layak untuk disumbangkan.

Di dunia pendidikan, bahasa sebisa mungkin ditampakkan minimalis, alias tidak ribet dan ramah lingkungan (baca: kehidupan). Terutama bahasa Arab di Indonesia yang masih dicitrakan sulit dan njlimet. Padahal orang Arab di daerah asal mereka berbahasa Arab lancar-lancar saja. Kebutuhan masyarakat umum kepada bahasa (bukan pemahaman tentang bahasa) dipengaruhi oleh ekonomi, kebutuhan kepada ekonomi dipengaruhi oleh budaya dan budaya dipengaruhi oleh gaya hidup.

Oleh karena itu, dengan kemampuan bahasa yang dimiliki, seseorang bisa memiliki  gaya hidup yang lebih produktif. Jika mengolah kata bisa untuk menghemat bahasa, maka menghemat bahasa bisa untuk mengolah waktu. Menghemat waktu jelas berpengaruh bagi penghematan ekonomi. Lebih dari itu, hemat waktu merupakan kunci utama keberhasilan menurut Islam sebagimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-‘Ashar yang diawali dengan kata “demi masa”. Wallahu A’lam.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort