Dilema Pendidikan Agama Islam Di Tengah Pandemik
Dilema Pendidikan Agama Islam Di Tengah Pandemik

Pandemik Covid-19 membuat sebagian besar sektor perekonomian mengalami kesulitan, kelumpuhan, bahkan hingga kebangkrutan. Tak terkecuali institusi pendidikan, mereka terpaksa mengalihkan jadwal sekolah tatap muka menjadi serba daring. Tidak mudah dalam menghadapi situasi demikian. Sekolah dan tenaga pendidik harus benar-benar siap meskipun sebenarnya gugup dan gagap.

Ada baik dan buruk dari pembelajaran dengan sistem daring. Baiknya, karena guru dan siswa tidak harus keluar rumah melewati badai Covid-19 yang cukup mengerikan. Dengan pembelajaran daring, selain untuk menjaga sesama masyarakat dari penularan virus Covid-19, juga sembari menjadi ajang memperkenalkan kepada masyarakat jenis dan kegunaan teknologi digital seperti zoom, google meet, google classroom dan lain sebagainya yang awalnya mereka sangat kudet, menjadi lebih update.

Buruknya, karena sistem pembelajaran daring dinilai kurang efektif bagi sebagian besar orang. Sebab, belum tentu orang tua siswa paham dengan materi yang diajarkan. Bahkan, beberapa orang tua ada yang tidak memiliki latar belakang pendidikan apapun, atau mungkin hanya lulusan SD, SMP dan beraneka ragam lainnya. Tidak semua keluarga memiliki alat elektronik canggih bernama gawai ataupun laptop. Beberapa keluarga terpaksa meminjam ke tetangga dekat demi anaknya agar bisa ikut pembelajaran daring.

Dilema Pendidikan Agama Islam

Ketidakefektifan yang paling menonjol tercermin dalam Pendidikan Agama Islam. Dimana biasanya di sekolah, guru memberikan referensi pembelajaran yang luas dengan sumber-sumber yang jelas keshahihannya, menjadi kurang efektif tanpa adanya sentuhan langsung guru agama.

Beberapa tugas sekolah mengharuskan siswa mencari sumber-sumber jawaban, seringkali siswa justru mencarinya melalui internet. Sedangkan, kita tahu bahwa tidak semua sumber di internet bisa dipercaya dan bertanggung jawab. Alih-alih memberikan wawasan, beberapa situs di internet justru mengajak pembacanya jatuh ke dalam jurang ketersesatan dalam memahami ajaran agama.

Tentu ini menjadi dilema yang sangat meresahkan bagi para guru agama. Terlebih, banyak masyarakat yang kecenderungan belajar agama dari situs-situs internet atau Youtube sangat tinggi. Sebenarnya bukan jadi masalah jika situs dan konten syiarnya tepat. Namun, bagaimana jika justru mereka terjebak dalam situs-situs semisal jebakan kaum ekstrimis radikalis untuk merekrut lebih banyak pasukan teroris? Tentu akan menjadi permasalahan yang sangat berat sekaligus berbahaya!

Sejak sebelum pandemik Covid-19 pertama kali menginfeksi warga Wuhan di China, ISIS beserta kelompok teroris lainnya telah banyak berkuasa dan menyebar doktrin ahumanis mereka melalui situs dan konten di internet. Sehingga, jika tidak betul-betul waspada, mudah saja seseorang terjebak ke dalam jurang magnet ISIS. Siswa sangat butuh pembimbingan yang ekstra dari berbagai pihak. Baik keluarga maupun guru agama di sekolah.

Ketidakefektifan lain dirasakan ketika menggunakan aplikasi meeting online seperti zoom atau google meet. Mata pelajaran PAI sangat membutuhkan pembimbingan ekstra dari guru agama, supaya siswa lebih termonitor dalam belajar.

Bagaimana solusinya?

Untuk menghadirkan Pendidikan Agama Islam terbaik memang harus melalui pertemuan langsung/luring. Sehingga siswa-siswi mendapat pembelajaran dan pembimbingan yang sama. Sebab, tiap siswa memiliki daya ingat dan kemampuan memahami ilmu yang berbeda. Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam menjadi pembimbing siswa, terlebih dalam pengetahuan agama. Hal tesebut dikarenakam tidak semua orang tua siswa paham dengan ilmu agama. Sehingga orang tua cenderung memasrahkan semuanya kepada Guru agama.

Namun, di tengah situasi yang tidak memungkinkan seperti saat ini, pembelajaran daring terpaksa harus berlanjut. Terlebih di wilayah zona merah. Sehingga mau tidak mau, tetap harus menggunakan aplikasi zoom, google meet dan lain sebagainya. Orang tua harus menyempatkan diri untuk membimbing anak-anaknya dalam belajar. Meskipun sepenuhnya Guru agama yang memberikan arahan-arahan.

Sayangnya tidak semua orang tua sempat membimbing anak, beberapa diantaranya sangat sibuk mengurusi pekerjaan yang meskipun di tengah pandemik tetap berlangsung. Hal ini pun menjadi dilematik bagi orang tua dan Guru agama.

Langkah paling efektif untuk mengatasi problem ini, ialah mendatangkan guru pembimbing yang tepat untuk anak. Tentu, dengan mematuhi segala protokol kesehatan yang ada. Meskipun biayanya cukup mahal. Atau bisa juga mengarahkan anak melalui bimbingan daring kepada guru agama yang kompeten. Namun tetap kurang efektif bagi kalangan yang memiliki keterbatasan biaya dan akses internet.

Kita akui, Indonesia memang cukup gagap menjalani tantangan kebiasaan baru di tengah pandemik Covid-19 yang menguras energi dan emosional. Kualitas signal internet yang kurang baik di beberapa daerah, gangguan teknis, ketersediaan alat elektronik penunjang pembelajaran, dan lain sebagainya cukup membuat kita mengelus dada. Bahkan, beberapa sekolah terpaksa membuka kelas khusus bagi mereka yang terkendala dalam mengikuti sistem pembelajaran daring. Tentu kelas tersebut dibuka dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan.

Akhirnya, dilematik ini menuntut orang tua beserta guru agama berinovasi sekreatif mungkin dalam membimbing dan mencerdaskan anak. Dibutuhkan pemikiran extraordinary untuk bisa memecahkan permasalahan ini. Sebab sekali lagi, akan menjadi pendidikan yang amat buruk ketika membiarkan anak didik ketergantungan akan akses situs-situs internet, terlebih dalam mendalami pengetahuan agama. Karena tidak semua situs internet menghadirkan pengetahuan-pengetahuan keagamaan yang shahih, berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan.