metode dakwah walisongo

Dua Konsep Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Nusantara

Awal mula kedatangan Islam di Indonesia khususnya di Tanah Jawa tidak lepas dari peran Walisongo yang secara gigih berdakwah mengajarkan Islam baik di kota maupun pelosok desa bahkan di atas pendakian gunung. Proses penyebaran ajarannya tidak lepas dari kultur sosial masyarakat setempat sehingga dengan mudah mendapat respon positif di hati kaum pribumi.

Salah satu ciri khas corak penyebaranya mereka adalah berdakwah secara damai dan ramah, menghargai budaya yang berlaku di masyarakat serta mengakomodasinya dalam ajaran agama Islam tanpa sedikitpun menghilangkan entitas agama Islam. Hal inilah yang menjadi daya pikat warga untuk masuk Islam.

Daya juang yang diterapkan oleh Walisongo terbukti berhasil dalam menanamkan bibit ajaran Islam yang sempurna dengan melibatkan toleransi beragama sebagai satu kesatuan yang hidup berdampingan. Islam yang disebarkan oleh para Wali tidak ingin membongkar struktur dan relasi sosial tetapi menguatkannya dengan kekuatan ajaran Islam.

Di samping itu, Walisongo tidak hanya dianggap sebagai tokoh agama tetapi juga ahli di dalam pemerintahan yang juga dilibatkan dalam mengislamkan pembesar kerajaan yang tengah berkuasa. Walisongo merupakan agen-agen unik Jawa pada abad XV-XVI yang mampu memadukan aspek-aspek spiritual dan sekuler dalam menyiarkan Islam.

Ajaran Islam yang diperkenalkan Walisongo di Tanah Jawa hadir dengan penuh kedamaian, walaupun terkesan lamban tetapi meyakinkan. Berdasarkan fakta sejarah, bahwa dengan cara memodifikasi tradisi lokal ke dalam ajaran Islam dan tetap bersandar pada prinsip-prinsip Islam, agama baru ini dipeluk oleh bangsawan-bangsawan serta mayoritas masyarakat Jawa di pesisir utara.

Sedikitnya ada dua konsep dakwah yang diajarkan oleh walisongo  dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa yang dapat dijadikan contoh para da’i masa kini.

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Nge-Prank Wanita Tua tentang Surga

1.     Konsep Dakwah Kultural dan Toleran

Toleransi, damai dan kultural yang telah dijalankan oleh Walisongo membawa kepada moderasi Islam yang dipandang tidak kaku dalam memaknai Al-Qur’an dan bersikap toleran terhadap budaya setempat. Hal ini tidak lain, karena agama Islam membawa misi Rahmatan Lil Alamin sehingga mau tidak mau harus membawa kesejukan dan kedamaian dalam menyikapi setiap perbedaan bahkan mengayomi setiap manusia yang terlahir dari perut ibunya.

Sebagai rahmat bagi semesta, Islam harus berpadu dengan keragaman budaya apapun di dunia. Keragaman adalah keniscayaan sebagai sunnatullah yang tidak boleh ditentang. Islam rahmat akan masuk ke berbagai lini kultur dengan cara yang damai.

Walisongo sangat memahami prinsip ini, sehingga dakwah yang dikembangkan adalah dakwah yang bersifat kultural dengan cara mengembangkan kultur dan budaya yang ada. Selain itu, Walisongo masuk ke ranah budaya dengan semangat toleransi yang cukup tinggi disertai kearifan dalam memahami lokalitas.

2.     Konsep Dakwah Wasathiyah

Sikap Wasathiyah menjadi garis pemisah dua hal yang berseberangan. Penengah ini diklaim tidak membenarkan adanya pemikiran radikal dalam agama, serta sebaliknya tidak membenarkan juga upaya mengabaikan kandungan Al-Qur’an sebagai dasar hukum utama.

Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, Wasathiyah (pemahaman moderat) adalah salah satu karakteristik islam yang tidak dimiliki oleh Ideologi-ideologi lain. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Artinya : Dan demikianlah aku jadikan kalian sebagai Umat yang pertengahan.(QS. Al Baqarah: 143).

Pada dasarnya Islam Moderat (washatiyah ) akan banyak mengambil simpati di hati masyarakat, karena mereka merindukan ajaran Islam yang damai, hidup rukun, memahami perbedaan, serta ajaran Al-Qur’an Al-Karim dijalankan dengan benar. Wawasan yang dibawa oleh Islam Moderat berupa ajaran yang berada di titik tengah yang terlepas dari berbagai pemahaman yang sangat tekstual dan keras dalam memahami ajaran tersebut.

Baca Juga:  Kenapa Dinamakan ‘Asyura, Ini Jawabannya

Oleh karena itu, Wasathiyah yang dijalankan oleh Walisongo ini lebih cenderung memberikan peelajaran bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi serta tidak terjadi kerenggangan karena memaknai ajaran Islam secara berlebihan.

إياكم والغلو في الدين؛ فإنما أهلك الذين من قبلكم غلوهم في دينهم

“ Hindarilah sifat berlebihan dalam agama, karena Umat sebelum kalian hancur hanya karena sifat tersebut. (HR. Bukhari)”

Di dalam istilah ini, tercermin karakter dasar Islam yang terpenting yang membedakan manhaj Islam dari metodologi-metodologi yang ada pada paham-paham, aliran-aliran, serta falsafah lain.

Sikap Wasathiyah Islam adalah satu sikap penolakan terhadap ekstremitas dalam bentuk kezaliman dan kebathilan. Ia tidak lain merupakan cerminan dari fithrah asli manusia yang suci yang belum tercemar pengaruh-pengaruh negatif. Oleh karena itu, sudah selayaknya perbedaan sikap menjadi sebuah dinamisasi kehidupan sosial yang menjadi bagian dari masyarakat yang madani.

Keberadaan Islam Moderat merupakan warisan Walisongo di nusantara yang cukup menjadi penjaga dan pengawal konsistensi Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw. Untuk mengembalikan citra Islam yang sebenarnya, maka diperlukan moderasi agar penganut lain dapat merasakan kebenaran ajaran Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Bagikan Artikel

About Ahmad Cahyo

Avatar
Mahasiswa Program S2 PTIQ Jakarta