dekat dengan rasulullah
Nabi Muhammad

Dusta Mimpi Bertemu Rasulullah Itu Berat dan Keji serta Ancamannya Neraka, Maka Hati-hatilah!

Media sosial seolah tak pernah lengah. Selalu ada hal yang ramai dibicarakan (viral). Teranyar, warganet ‘disibukkan’ polemik cerita Hasan Haikal yang mengaku ‘mimpi’ bertemu Rasulullah. Cerita tersebut ia sampaikan ketika memberikan sambutan pada acara pemakanan para laskar FPI yang meninggal dunia.

Sebagaimana dikutip dari kanal Akhbar Islam Kaffah, Dalam kesempatan tersebut, Haikal Hassan awalnya bercerita ketika anaknya meninggal dunia. Ketika itulah dia bercerita ‘mimpi’ Rasulullah menemui dua anaknya. Video Haikal Hassan bercerita soal mimpi itu kemudian banyak diunggah ulang oleh akun YouTube lain. Lalu muncul juga narasi Haikal Hassan mendapat bisikan Rasulullah.

Terlepas apakah cerita Haikal Hasan itu benar atau sekedar hendak meraih motif lain, penulis tergelitik untuk mengupas perihal bagaimana cara mengetahui bahwa sosok yang ada dalam mimpi seorang itu benar-benar Rasulullah atau bukan.

Hal itu penting dikaji lantaran, Allah telah memberikan kemampuan kepada jin dan setan untuk menjelma dalam wujud yang baik maupun buruk dalam diri manusia, salah satunya melalui mimpi. Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia dan mengikuti aliran darah.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad).

Meskipun begitu, Allah membatasi keistimewaan jin dan setan untuk tidak bisa menjelma ke dalam mimpi manusia itu dalam sosok Rasulullah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah: “Barangsiapa melihatku, maka ia telah melihat kebenaran karena setan tidak bisa menjelma dan rupaku.” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, barangsiapa bermimpi ketemu Rasulullah, berarti ia benar-benar telah melihat beliau, dan tak ada keraguan sedikit pun. Namun, persoalannya kemudian adalah, mimpi tidak bisa disaksikan oleh orang lain sehingga ketika ada orang yang mengaku bertemu Rasulullah, bisa jadi benar-benar terjadi atau justru ia hanya klaim belaka.

Baca Juga:  Belajar Prinsip Dakwah Melalui Surat al-Ghasiyah

Tiga Cara

Para ulama, dalam konteks masalah di atas, menjelaskan bagaimana orang yang bermimpi bertemu bisa mengetahui bahwa sosok Rasulullah yang ia lihat dalam mimpinya benar-benar Nabi Muhammad atau bukan.

Sebagaimana dikutip dari Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz dalam Ra’aitu an-Nabiyya Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Mi’atu Qisshatain min Ru’an an-Nabiy (2015: 22-25), setidaknya ada tiga cara, yaitu:

Pertama, sosok yang ia lihat dalam tidur itu berkata kepadanya, seperti, “Aku Adalah Rasulullah”, atau “Aku Muhammad bin Abdullah”, bisa juga “Aku adalah Nabimu,” dan ungkapan-ungkapan lain yang mengandung arti yang sama.

Jika dalam mimpi itu Rasulullah langsung memperkenalkan diri beliau, maka tidak ada keraguan lagi bahwa sosok yang ada dalam mimpi tersebut benar-benar Rasulullah, bukan yang lainnya.

Kedua, terbesit dalam hati orang yang bermimpi dan ia sangat yakin bahwa yang ia lihat dalam mata terpejam (tidur) itu adalah Nabi Muhammad tanpa ada seorang pun yang memberitahunya.

Cara yang ketiga ini mengandalkan kebersihan hati, kejujuran dan perasaan dari orang yang bersangkutan. Jadi, tidak ada motif apapun orang ini. Ia semata-mata karena benar-benar mimpi Rasulullah.

Ketiga, dalam mimpinya, ia bertemu seseorang yang mengatakan kepadanya, “Sungguh, orang yang kau lihat…,” atau “orang yang akan kulihat atau berbicara kepadamu…” juga “orang yang akan menemuimu/ akan kutemui adalah Nabi Muhammad SAW.”

Perkataan orang tersebut bisa dalam bentuk wujudnya (wajahnya) atau sekedar hanya terdengar suara saja. Cara ketiga ini lebih mengandalkan isyarat.

Demikianlah tiga cara bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa mimpinya itu benar-benar bertemu Rasulullah atau bukan. Dan yang tak kalah pentingnya dalam kaitannya dengan mimpi bertemu Rasulullah adalah jangan sampai kita berdusta perihal mimpi.

Baca Juga:  Tahun baru dan Hadits “Barangsiapa yang Hari Ini Lebih Baik dari Hari Kemarin”

Sebab, dusta adalah perbuatan yang dilarang atau diharamkan dalam Islam. QS. Ali Imran ayat 61, menegaskan bahwa Allah akan melaknat orang yang dusta. Begitu juga dalam ayat lain, seperti QS. Az-Zumar: 3, Allah akan membiarkan (tidak memberi petunjuk) bagi orang-orang yang dusta dan ingkar.

Apalagi jika dusta itu atas nama Nabi, tentu ganjarannya amat berat. Terlebih dusta itu jika dilakukan oleh orang yang dilabeli sebagai ahli agama, seperti Ustadz, kyai dan lainnya. Tentu balasannya sangat nyata, yakni neraka. Naudzubillah..

Dengan demikian, jika seorang mengaku bermimpi Nabi sembari berkata: “Aku bermimpi ketemu Rasulullah,” sementara ia tidak memiliki bukti yang kuat dan logis, janganlah latah mengatakan hal itu di depan umum. Sebab, sekali lagi, dusta itu termasuk dusta yang paling berat dan keji.

Bagikan Artikel ini:

About Fauziyatus Syarifah

Avatar of Fauziyatus Syarifah
Mahasiswi magister program PAI UIN Walisongo Semarang

Check Also

kh ahmad dahlan

3 Kiat Menuju Masyarakat Tangguh dan Beradab Ala KH Ahmad Dahlan

Nama KH. Ahmad Dahlan sangat moncer dikalangan bangsa Indonesia karena ia termasuk orang yang memiliki …

jihad kemerdekaan

Agustus Bulan Perjuangan : Inilah 3 Bentuk Jihad Bela Negara yang Dianjurkan Agama!

Bagi rakyat Indonesia, Agustus adalah bulan perjuangan. Pernyataan ini tentu saja tidak berlebihan mengingat pada …