abdullah bin masud
abdullah bin masud

Enam Ahli Fikih Pada Masa Sahabat (3) : Abdullah bin Mas’ud

Termaktub dalam Tarikh al Tasyri’al Islami karya Mana’ Qaththan, nama lengkapnya Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil al Hudzali. Setelah ayahnya meninggal, ia pergi ke Makkah bermaksud mencari pekerjaan. Disini ia bekerja sebagai penggembala kambing milik  ‘Uqbah bin Abi Mu’ith.

Suatu hari, saat sedang menggembala kambing tuannya ia bertemu dengan dua orang laki-laki. Singkat kisah, dua orang tersebut adalah Rasulullah bersama sahabatnya Abu Bakar. Perjumpaan itu pula yang menjadi sebab ia memeluk Islam setelah Rasulullah menyampaikan kebenaran agama yang dirisalahkan Allah kepadanya. Abdullah bin Mas’ud merupakan orang keenam yang pertama masuk Islam. Ia adalah sahabat pertama yang mengeraskan bacaan al Qur’an dan memperdengarkannya kepada orang Quraisy.

Ibnu Mas’ud selalu menemani Nabi, hampir tidak pernah berpisah dengan beliau. Kemanapun Rasulullah bepergian Ibnu Mas’ud selalu menyertai dengan membawa sandal, siwak dan peralatan mandi beliau. Sampai-sampai Abu Musa mengira Ibnu Mas’ud adalah kerabat Nabi.

Diantara keistimewaan Ibnu Mas’ud yaitu kefasihannya membaca al Qur’an. Nabi berkata, “Satu dari keistimewaan Ibnu Mas’ud adalah kemampuannya membaca al Qur’an sangat baik, sama seperti ketika ayat tersebut diturunkan, karena itu ikutilah bacaannya”.

‘Uqbah bin ‘Amr pernah berkata, “Saya tidak menemukan seseorang yang pengetahuannya terhadap wahyu melebihi Ibnu Mas’ud.

Kemampuannya yang baik dalam memahami makna-makna ayat al Qur’an dan banyaknya hadis yang ia terima dari Nabi menyebabkan dirinya tercetak sebagai sosok sahabat yang ahli dalam disiplin fikih.

Metode Istinbat Hukum Abdullah bin Mas’ud

Seringnya bersama Nabi membuat Ibnu Mas’ud tertempa secara intelektual dan ruhani. Hal ini tampak kentara dalam beberapa istinbat hukumnya yang lebih banyak mengacu pada perintah-perintah dan apa yang ia ingat dari Nabi. Tentu saja hal ini juga didukung oleh penguasaannya yang sempurna terhadap makna ayat-ayat al Qur’an. Tegas kata, nalar fikih yang dibangun oleh Ibnu Mas’ud berdasar pada al Qur’an dan hadis.

Baca Juga:  Haruskah Afirmasi Hak Beragama Ahmadiyah [2]: Latar Belakang Berdirinya Ahmadiyah

Di samping dua sumber hukum primer tersebut, Ibnu Mas’ud juga kerap kali menggunakan ra’yu (nalar) ketika memutuskan hukum apabila tidak ada nash yang jelas dan tegas (sharih) dalam al Qur’an dan hadis. Namun, tetap mengacu pada prinsip-prinsip universal dan illat yang ada dalam al Qur’an dan hadis. Pada periode berikutnya metode ini dibakukan dengan nama qiyas dengan variannya.

Salah satu contoh nalar ijtihad Ibnu Mas’ud adalah ketika ia ditanya tentang mahar perempuan yang ditinggal suaminya dan belum disetubuhi. Seingatnya, hal ini belum pernah terjadi pada masa Nabi, maka nalar ijtihadnya yang kemudian diperankan untuk memutuskan hukum persoalan tersebut. Menurutnya, perempuan tersebut harus diberi mahar seukuran rata-rata perempuan dengan status sosial yang sama atau mahar mitsil. Lebih lanjut ia berpendapat perempuan tersebut berhak atas warisan suami yang meninggal dan berlaku Iddah untuknya. Menurut Ma’qil Ibnu Sinan, dulu Rasulullah pernah memutuskan hal yang sama. Boleh jadi Ibnu Mas’ud tidak mendengar keputusan Nabi yang demikian.

Pendapat Ibnu Mas’ud ini berbeda dengan ijtihad Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit yang menyatakan perempuan tersebut tidak berhak menerima maskawin, hanya memperoleh bagian dari harta warisan suami.

Fakta ini membuktikan bahwa beda pendapat telah terjadi sejak masa sahabat. Akan tetapi, mereka sangat bijaksana dalam menyikapi perbedaan tersebut. Satu dengan yang lain tetap saling menghormati tanpa caci maki dan klaim merasa paling benar.

Ijtihad Ibnu Mas’ud berikutnya adalah tidak semua pencuri dihukum potong tangan. Padahal jelas sekali dalam al Qur’an surat al Maidah ayat 38 menyatakan semua pencuri, laki-laki atau perempuan, harus dipotong tangannya. Nabi pun memotong tangan pencuri baju besi seharga tiga dirham sebagaimana hadis riwayat Ibnu Umar dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Demikian juga hadis dari Aisyah riwayat Bukhari dan Muslim yang mengabarkan Nabi memotong tangan pencuri yang mencuri sebanyak seperempat dirham atau lebih. Sementara hadis dari Abu Hurairah menyatakan pencuri baru dipotong tangannya kalau mencuri minimal lima dirham. Akan tetapi Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa pencuri tidak dipotong tangannya ketika mencuri kurang dari sepuluh dirham. Sufyan al Tsauri mengikuti pendapat Ibnu Mas’ud.

Baca Juga:  Jejak Ulama Nusantara (3) : Mbah Maksum dan Rahasia Amalan Shalawat Nariyah

Contoh lain, Ibnu Mas’ud mensyaratkan saksi untuk talak dan rujuk. Rujuk harus disaksikan oleh dua orang. Dan, talak tiga kali sekaligus menurutnya jatuh tiga talak. Padahal, tidak ada satu nash pun dalam al Qur’an yang mengharuskan saksi ketika rujuk.

Inilah beberapa contoh ijtihad Ibnu Mas’ud yang sampai saat ini banyak diikuti oleh umat Islam. Pendapat beliau banyak diikuti oleh ulama-ulama kufah. Kepiawaian Ibnu Mas’ud dalam pemahaman yang mendalam terhadap al Qur’an dan hadis menempatkan dirinya sebagai salah satu dari enam ahli fikih dari kalangan sahabat. Semua sahabat bahkan mengakui terhadap kedalaman ilmu beliau.

 

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

dakwah menarik simpati

Dakwah Nabi Menarik Simpati, Bukan Anarki

Sejak dulu, musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Hasrat membunuh manusia-manusia berotak reptil yang menjadi penyebab …

prinsip perdamaian

Melindungi dan Menjamin Keamanan adalah Perintah Agama

Apapun bentuk dan modelnya, radikalisme yang mengarah pada terorisme merupakan tindakan yang tidak sesuai syariat …