Hutang Piutang dalam islam

Fikih Hutang (3) : Etika Orang yang Berhutang

Ketika dua orang terlibat dalam sebuah kontrak apapun bentuknya, maka komunikasi antar keduanya tentu harus terjalin dengan baik. Islam mengatur hak dan kewajiban mereka masing-masing serta etika yang harus dibangun dalam komunikasi antar kedua belah pihak.

Dalam artikel sebelumnya telah dibahas etika dan adab orang yang mengutangkan (muqridl). Pada artikel kali ini juga akan diulas etika dan adab orang yang berhutang (muqtaridl). Meskipun Islam memposisikan sama antara pemberi hutang dan yang berhutang, namun pihak yang berhutang berada pada posisi orang yang membutuhkan bantuan atas kesulitan dan kebutuhan yang sedang diahadapi.

Oleh karena itu, pihak yang berhutang harus sadar diri akan bantuan yang diberikan terhadap dirinya dengan tetap menjaga etika komunikasi yang baik, maka di antara etika dan adab bagi orang yang berhutang secara garis besar terbagi dalam dua kategori. Kategori pertama seputar persiapan sebelum berhutang, antara lain sebagai berikut:

a) Didasari niat yang baik untuk melunasi

Ketika berhutang harus dilandasi niat yang baik dan berkomitmen untuk membayar. Jika dari awal sudah terbersit niat berhutang untuk menggelapkan, tidak untuk dibayar, maka sejak itu juga ia sudah melakukan perbuatan zalim dan berdosa.

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ

Artinya: “Barang siapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya, maka Allah akan tunaikan (hutang itu) untuknya. Dan barang siapa yang mengambil harta untuk menghabiskan (tidak mau membayar), maka Allah  akan membinasakannya.” (Shahih Bukhari, No. 2387).

Hadis ini menjelaskan bahwa siapapun yang mengambil harta orang lain dengan cara berhutang atau transaksi yang lain dengan niat tidak akan melunasinya, semata-mata niat menggelapkan, maka Allah akan membinasakan keberkahan harta tersebut, sehingga kosong dari kemanfaatan dan orang tersebut tetap mempunyai tanggungan yang akan dituntut di hari kiamat kelak. Sebaliknya, jika berhutang atau mengambil harta orang lain dengan niatan akan melunasinya, maka Allah akan memudahkan perantara agar hutang tersebut mampu dilunasi. (Badrudin Ahmad al-‘Aini, ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Jilid XXII, hal. 226).

Baca Juga:  Membela Tuhan dengan Amarah

b) Berhutang kepada orang shalih

Sebelum berhutang harus berusaha mencari orang yang pantas diminta pertolongan untuk mengutangkan hartanya, semisal secara ekonomi tergolong orang yang mampu. Tak kalah penting orang tersebut termasuk orang baik-baik, secara lahir berprofesi dan berpenghasilan legal dan halal secara syar’i. Harta hasil pinjaman menjadi berkah saat digunakan, sehingga dapat menentramkan jiwa orang yang berhutang. Tindakan ini merupakan langkah yang harus ditempuh agar orang yang berhutang terhindar dari harta yang tidak halal.

c) Gunakan sebaik mungkin dan untuk kebutuhan dasar

Tujuan hutang untuk hal-hal yang baik dan mendasar, bukan untuk bersenang-senang, berfoya-foya, berbangga-bangga dengan barang mewah. Kepercayaan dari pihak yang mengutangkan sebenarnya merupakan amanah yang harus ditunaikan dan dikembalikan. Dengan demikian, gunakanlah sebaik-baiknya. Nabi bersabda:

عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَهُ

Artinya: “Tangan memiliki tanggung jawab terhadap apa yang diambilnya, hingga dikembalikan.” (Sunan Ibnu Majah, No. 2491., Sunan At-Tirmidzi, No. 1313., Sunan Abu Daud, No. 3563., Sunan Al-Baihaqi, No. 17743.).

Selain itu, berhutang sepantasnya juga untuk kebutuhan pokok dan mendesak. Artinya, jika kebutuhan pokok sudah terpenuhi tanpa harus berhutang, maka sebaiknya menghindari berhutang untuk keperluan membeli rumah baru, laptop baru, handphone model terbaru, dengan tujuan berbangga-bangga dan menjaga gengsi semata.[]

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel

About Zainol Huda

Zainol Huda
Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.