kitab parukunan
kitab parukunan

Fikih Nusantara (10) : Kitab Parukunan Karya Syeikh Jamaluddin al Banjari

Satu lagi kitab fikih berbahasa Melayu beraksara Jawi atau Arab Pegon. Nama lengkap penulisnya Syeikh Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari. Lahir tahun 1780 M di Banjar, Kalimantan Selatan. Ibunya bernama Go Hwat Nio, akrab dipanggil Tuan Giat, etnis Cina yang diislamkan oleh Syeikh Arsyad al Banjari kemudian dinikahi. Dengan demikian, penulis adalah anak Syeikh Arsyad al Banjari penulis kitab Sabil al Muhtadin.

Di halaman pengantar (Khutbah al Kitab) Syeikh Jamaluddin al Banjari menulis, kitab ini ditulis sebagai upaya membantu umat Islam yang telah masuk usia akil baligh dalam memahami makna dua dua kalimat syahadat, rukun Islam dan rukun Iman, bersungguh-sungguh mengamalkannya untuk mengenal dan yakin kepada Allah, mengenal utusan-utusan-Nya supaya menjadi umat Nabi Muhammad yang sebenar-benarnya sehingga masuk surga dan terlepas dari kekalnya api neraka.

Terlihat dari sini, kitab ini merupakan perpaduan fikih dengan tasawuf sebagaimana kitab Sabil al Muhtadin karya ayahnya. Kesamaan yang lain adalah sama-sama bernuansa lingkungan. Apa yang dibahas dalam dua kitab tersebut tidak akan dijumpai dalam kitab karya ulama madhab seperti al Um ataupun al Muwaththa’ dan karya ulama salaf yang lain.

Naumun begitu, kitab ini merujuk pada kitab-kitab fikih madhab Syafi’i seperti referensi yang dipakai oleh Syeikh Arsyad al Banjari dalam Sabil al Muhtadin.

Kitab ini diawali dengan Khutbah al Kitab atau pengantar penulis. Kemudian membahas rukun Iman dan rukun Islam. Setelah itu masuk pada bab air, najis, qadhaul hajah atau istinjak, bab hadas kecil dan hadas besar beserta pernak-perniknya, wudhu’, shalat, puasa, keutamaan malam nishfu Sya’ban, merawat mayit, meyakini Allah akan menyiksa orang yang durhaka, hak-hak, shalat jama’ dan shalat qashar.

Baca Juga:  Umat Islam harus mengembalikan Islam seperti awal

Semua tema tersebut berhubungan erat dengan keseharian kehidupan masyarakat Banjar. Salah satunya tampak ketika membahasa qadhaul hajah dan istinjak. Kata “Jamban” adalah WC yang didirikan di atas bantaran sungai. Sementara kata “Padang” adalah istilah untuk tanah lapang. Istilah lain yang dipakai adalah “bertungging serta mendudukkan kaki kiri”. Yang dimaksud adalah duduk bertumpu pada kaki kiri saat buang hajat.

Pada bab-bab yang lain nuansa fikih lingkungannya juga sangat lekat. Semua bahasannya disesuaikan dengan potret kehidupan masyarakat Banjar. Isinya juga ringkas dan bisa dipahami semua kalangan. Wajar kalau kemudian menjadi buku saku setiap masyarakat dalam memahami fikih.

Memang ada perdebatan tentang siapa yang menulis kitab ini. Versi cetak yang ada saat ini menyebut nama Jamaluddin al Banjari, sedangkan menurut kisah tutur masyarakat Banjar kitab ini ditulis oleh keponakan perempuan Syeikh Jamaluddin al Banjari yang berarti pula cucu Syeikh Arsyad al Banjari, yakni Fatimah Binti Syeikh Abdul Wahab Bugis.

Terlepas dari perdebatan apakah penulis kitab ini adalah paman atau ponakannya, yang jelas kitab ini sangat terkenal bahkan menjadi rujukan wajib umat Islam Banjar saat itu hingga saat ini. Dan, bahkan sampai ke manca negara.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …

sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap …