kitab al nadlhah al hasaniyah
kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha dengan giat dan tekun untuk mewariskan ilmu agama dengan berpaham Ahlussunah wal Jama’ah atau Aswaja. Hal ini bisa dilihat dan dibuktikan dengan karya-karya mereka. Dalam bidang fikih, misalnya, semua merujuk pada kitab-kitab madzhab. Dan mayoritas mereka mengikuti madhab Syafi’i.Dari sekian banyak karya yang ada semuanya menunjukkan fakta yang demikian.

Kitab ini menjadi salah satu pusaka yang diwariskan kepada umat Islam khususnya di Indonesia, ditulis oleh seorang ulama yang memiliki nasab bersambung hingga kepada Nabi melalui jalur Siti Fatimah istri Sayyidina Ali. Yaitu, Sayyid Muhsin Ali al Musawa yang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada hari Jum’at tanggal 18 Muharram 1323 H/ 24 Maret 1905 M.

Ditulis sebagai komentar terhadap kitab Al Tuhfah al Saniyyah karya Syaikh Hasan bin Muhammad Masyath. Seluruhnya menggunakan bahasa Arab layaknya kitab-kitab fikih Timur Tengah. Alhasil, untuk bisa membaca dan memahaminya dibutuhkan penguasaan terhadap ilmu nahwu dan sharaf. Dua disiplin ilmu yang menjadi syarat mutlak untuk bisa membaca tek Arab gundul seperti kitab ini.

Kitab ini sangat istimewa karena membahas khusus satu kajian yang menjadi materi langka untuk saat ini dalam ilmu fikih. Yakni, bahasan ilmu faraidh. Satu bab dalam fikih yang mengatur hukum-hukum mengenai pembagian harta warisan. Yang menguasai ilmu faraidh saat ini juga terbilang sangat langka. Wajar kalau ada perkataan yang bilang bahwa ilmu faraidh adalah ilmu yang akan pertama kali dicabut oleh Allah.

Bagi kalangan pesantren sendiri, ilmu faraidh hampir sama tingkat kesulitannya dengan ilmu matematika. Sebab memang ilmu faraidh juga menggunakan rumus hitung yang rumit dan sulit. Dibutuhkan kepiawaian dalam membaca dan cermat dalam memahami rumus-rumus ilmu waris tersebut.

Baca Juga:  Mengenal Kitab-kitab Fikih Madzhab Syafi’i

Dengan demikian, kita bisa tahu bahwa Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani adalah seorang ulama yang alim al ‘allamah dalam bidang fikih. Kalau ilmu faraidh bisa diuraikan secara gamblang dan detail seperti pada kitab yang ditulisnya ini, bisa dipastikan bab-bab lain dalam fikih juga telah sempurna dikuasainya.

Kitab ini dimulai dengan membahas definisi ilmu faraidh dari dimensi bahasa dan fikih lebih dulu. Kemudian kegunaan dan manfaat mempelajarinya. Berikutnya penjelasan difokuskan pada siapa yang termasuk ke dalam ahli waris dan berapa bagian masing-masing.

Lebih menarik lagi, sehingga kitab ini sangat mudah dikuasai sekalipun bagi pemula, beliau membuat bagan-bagan yang menjadi rumus untuk menentukan jumlah bagian masing-masing ahli waris dalam banyak ragam dan kondisi. Tentu hal ini lebih memudahkan.

Dengan demikian, penting bagi generasi sekarang untuk tidak melupakan ilmu faraidh. Sebab bagaimanapun dan sampai kapanpun, ilmu ini tetap akan dibutuhkan ketika ada orang yang meninggal dan meninggalkan harta warisan. Bila tidak dibagi berdasarkan ilmu faraidh sama saja kita tidak mengindahkan hukum-hukum Islam.

Oleh karenanya, kitab ini dan juga kitab-kitab semisal, menjadi solusi terbaik untuk memahami ilmu faraidh. Sangat riskan kalau umat Islam Nusantara, apalagi pegiat ilmu pengetahuan keagamaan apabila sampai tidak mengoleksi dan mempelajari kitab yang sangat penting ini.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab wishah al ifrah

Fikih Nusantara (32): Kitab Wisyah al Ifrah Wa Isbah al Falah Karya Muhammad bin Isma’il Daud al Fathani

Kitab berbahasa Melayu yang ditulis dengan aksara Jawi ini sekali lagi membuktikan semangat ulama-ulama Melayu …

sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap …