fathul mujib
fathul mujib

Fikih Nusantara (4): Kitab Fathul Mujib al Qarib Karya Dr. (H.C) KH. Afifuddin Muhajir, M. Ag

Kiai Afifuddin Muhajir, akrab disapa Kiai Afif, lahir di Jerengoan, Sampang, Madura 20 Mei 1955. Ayahnya bernama Kiai Muhajir dan ibunya Nyai Zuhriyah.

Semua jenjang pendidikan beliau tekuni di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukurejo, Situbondo. Termasuk gelar strata satu. Hanya program strata dua yang beliau selesaikan di Universitas Islam Malang (UNISMA) karena di Pesantren Sukorejo waktu itu belum membuka program magister.

Kemampuan beliau bukan hanya dibidang fikih, namun juga ushul fikih. Kepakarannya dalam dua disiplin ilmu ini yang menyebabkan beliau dijuluki “Fakih Ushuli dari Timur”. Dari timur maksudnya adalah tempat tinggal beliau di Sukorejo, Situbondo yang letaknya dibelahan timur pulau Jawa.

Kepakaran dan kealimannya telah diakui tidak saja oleh para kiai di tataran tanah Nusantara, namun melambung sampai tingkat dunia. Salah satu buktinya adalah pengakuan Dr. Wahbah al Zuhaili yang memberi catatan pengantar kitab Fathu al Qarib al Mujib. Wahbah al Zuhaili menyebut Kiai Afifuddin sebagai orang yang alim dan menulis kitab ini dengan kualitas tinggi. Wajar kalau kemudian dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh UIN Walisongo Semarang Jawa Tengah dalam bidang Fikih-Ushul fikih.

Sekelumit Tentang Kitab Fathu al Mujib al Qarib

Judul lengkap kitab ini adalah Fathu al Mujib al Qarib fi Hilli Alfadz al Taqrib. Dari judul ini sudah bisa diterka bahwa kitab ini mensyarahi kitab Taqrib karya Ahmad bin al Husain bin Ahmad al Ashfahani, yang popoler dengan sebutan Abu Syuja’. Dengan demikian kitab ini sama dengan kitab Fathu al Qarib al Mujib karya Syaikh Muhammad bin Qasim al Ghazi dan kitab-kitab lain syarah kitab Taqrib.

Telah maklum, kitab Taqrib memiliki pesona dan daya tarik luar biasa. Banyak ulama yang menulis syarah dan hasyiyah untuknya. Dan, di Nusantara kitab Taqrib tersebut sangat digandrungi oleh para santri dan pegiat ilmu fikih serta menjadi bahan ajar utama di pesantren-pesantren.

Baca Juga:  Benarkah Sistem Pemerintahan Indonesia Sesuai Syari’at Islam? (Bagian 1)

Faktor inilah yang membuat Kiai Afifuddin tertarik ikut andil mensyarahinya. Namun begitu, seperti ditulis dalam muqaddimahnya, bukan berarti Kiai Afifuddin menganggap kitab-kitab syarah Taqrib yang telah ada memiliki mutu rendah, bahkan sebenarnya semua kitab-kitab tersebut lebih dari cukup. Justru, kitab Fathu al Mujib al Qarib banyak memungut penjelasan dari kitab-kitab syarah Taqrib tersebut.

Yang berbeda dari kitab karya Kiai Afifuddin ini adalah dari segi redaksi bahasa yang disesuaikan dengan zaman saat ini sehingga mudah sekali dipahami. Kalimat-kalimat yang dipandang sulit dijelaskan dengan kalimat yang sederhana dan datar sehingga sangat mudah ketika membaca dan ketika memahami maksudnya.

Nilai plus lainnya, semua istilah untuk takaran dan jarak langsung dikonversi ke dalam istilah Indonesia. Seperti liter, ons, dan kilometer. Dengan demikian, pembaca tidak kebingungan dan tidak perlu repot-repot menentukan berapa takaran satu mud, satu sha’, dan berapa jarak satu parsakh dan seterusnya.

Sebagai Syarah kitab Taqrib, sistematika penulisannya disesuaikan dengan kitab tersebut. Dimulai dari tema thaharah (bersuci) dan ditutup dengan bahasan budak.

Dr. Wahbah al Zuhaili yang memberi catatan pengantar kitab karya Faqih Ushuli dari Timur ini menyebut kitab ini layak dijadikan hujjah dan pegangan untuk mempelajari dan memahami fikih madhab Syafi’i.

Dengan demikian, kitab ini layak dijadikan referensi dan inspirasi untuk terus melanggengkan tradisi tulis menulis serta untuk menambah daftar koleksi kitab sebagai upaya melestarikan karya-karya ulama Nusantara.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

khutbah jumat singkat

Khutbah Jumat Singkat Tanda Khatib Paham Agama

Kebiasaan membaca khutbah Jum’at dengan durasi waktu yang lama banyak dijumpai di masjid-masjid, terutama di …

idhah al bab

Fikih Nusantara (30): Kitab Idhah Al Bab Karya Syaikh Daud bin Abdullah al Fathani

Pattani, Thailand Selatan sekarang, tidak hanya tanahnya yang subur, negeri yang berbatasan dengan Malaysia ini …