miratut thullab
miratut thullab

Fikih Nusantara (7): Kitab Mir’at al Thullab Karya Syeikh Abdurrauf al Sinkili

Ulama salaf tajam penanya bukan nyaring mikrofonnya. Produktif menulis untuk membangun peradaban Islam. Tidak banyak cakap, apalagi membual. Tradisi yang menghasilkan karya-karya sebagai khazanah keilmuan keislaman itu dilanjutkan oleh para ulama Nusantara yang memang akrab dengan peradaban keilmuan tanah timur tengah.

Di antara deretan nama ulama Nusantara tercatat Abdurrauf al Sinkili, putra asli Aceh yang lahir di Singkil, pesisir barat Aceh. Menulis banyak karya. Diantaranya, ‘Umdat al Muhtajin ila Suluk Maslak al Mufridin, Lubb al Kasyf wa al Bayan li ma Yarahu al Muhtadhar bi al ‘Iyan, al Faraidh, Mir’at al Thullab, Tarjuman al Mustafid, Al Arba’in Haditsan li al Imam al Nawawiyah, Al Mawa’iz al Badi’, dan masih banyak lagi.

Judul lengkap kitab ini adalah Mir’atu al Thullab fi Tashili Ma’rifat al Ahkam al Syar’iyyah li al Malik al Wahhab. Karya yang ditulis dengan Arab Pegon ini disebut sebagai karya pertama ulama Nusantara yang berbahasa Melayu kuno. Tebalnya 650 halaman dan ditulis tangan.

Kitab ini merujuk pada kitab-kitab fikih klasik karya ulama-ulama aliran madhab Imam Syafi’i. Sebab memang Syaikh Abdurrauf al Sinkili adalah ulama aliran madhab Syafi’i, madhab fikih yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam saat itu, hingga saat ini.

Ditulis dengan pola tanya jawab. Kitab ini semacam dokumentasi atas beberapa pertanyaan masalah keseharian masyarakat kala itu kepada Syaikh Abdurrauf al Sinkili dan kemudian ditulis oleh beliau. Yang menarik dari tulisan beliau, setiap kali menjawab persoalan hukum selalu berhati-hati dan melihat latar sosio-kultural sehingga kitab ini benar-benar bercorak alam Nusantara.

Tidak hanya itu, kitab yang selesai ditulis pada 1074 H/1663 M ini menjadi pijakan kesultanan Aceh dalam memutuskan suatu perkara. Karena salah satu faktor yang menghentak Syaikh Abdurrauf al Sinkili menulis kitab ini karena permintaan Sultan Aceh Shafiyyatuddin. Kemudian, hakim (Qadhi) kesultanan Aceh menggunakan kitab ini sebagai pedoman memutuskan hukum disamping karya Syaikh Nuruddin al Raniri, Al Shirath al Mustaqim.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (5): Kitab Sullam al Raja Karya Usman Said Tungkal

Nilai lebih yang dimiliki kitab Mir’at al Thullab adalah bahasannya yang melampaui kitab fikih pada biasanya. Kitab ini tidak hanya membahas soal ibadah, namun juga merambah kepada pembahasan politik, sosial, ekonomi dan budaya.

Sebagai referensi utama, Syaikh Abdurrauf al Sinkili merujuk pada kitab Fathu al Wahhab karya Syaikh Zakaria al Anshari, dua karya Ibnu Hajar al Haitami yaitu Fathu al Jawwad dan Tuhfatu al Muhtaj, karya Imam Ramli Nihayatu al Muhtaj, Tafsir al Baidhawi karya Ibnu Umar al Baidhawi, dan Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi.

Referensi-referensi di atas cukup membuktikan koneksi intelektual (sanad keilmuan) Syaikh Abdurrauf al Sinkili. Karena memang dalam rentang 19 tahun beliau nyantri di Timur Tengah. Tegasnya, sanad keilmuan Abdurrauf bin Ali al Jawi al Fansuri al Sinkili nyambung kepada ulama-ulama salaf.

Oleh karena itu, selayaknya kita semua untuk mengoleksi, membaca dan mempedomani maha karya ini, untuk melestarikan warisan para ulama, dan pastinya untuk selalu mengenang nama ulama besar Syaikh Abdurrauf al Sinkili yang disapa akrab oleh umat Islam Aceh dengan Tengku Syiah Kuala.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

khutbah jumat singkat

Khutbah Jumat Singkat Tanda Khatib Paham Agama

Kebiasaan membaca khutbah Jum’at dengan durasi waktu yang lama banyak dijumpai di masjid-masjid, terutama di …

idhah al bab

Fikih Nusantara (30): Kitab Idhah Al Bab Karya Syaikh Daud bin Abdullah al Fathani

Pattani, Thailand Selatan sekarang, tidak hanya tanahnya yang subur, negeri yang berbatasan dengan Malaysia ini …