shalat witir
shalat witir

Fikih Shalat Sunah (9): Shalat Witir Wajib, Kok Bisa?

Sebagian umat Islam mengenal shalat witir pada bulan Ramadan, karena shalat sunah ini menjadi rangkaian ibadah shalat tarawih yang dilakukan dalam rangka menghidupkan malam-malam di bulan yang penuh barakah tersebut. Mungkin saja sebagian kecil kalangan umat Islam mengira shalat witir hanya ada di bulan Ramadan. Atau meskipun toh tahu mungkin tak banyak yang mengerjakan, kecuali hanya di bulan Ramadan. Padahal shalat witir ini menempati urutan pertama dari aspek keutamaan setelah shalat sunah yang mengiringi shalat fardu, rawatib (qabliyah-ba’diyah).

Imam Nawawi dalam Majmu’-nya menuturkan bahwa shalat sunah (nawafil)  yang paling utama untuk kategori yang tidak dianjurkan berjemaah, adalah shalat sunah rawatib, lalu urutan berikutnya adalah shalat witir atau shalat sunah fajar. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/522). Terdapat beberapa hadis yang menerangkan keutamaan shalat witir, antara lain hadis berikut:

إِنَّ اللهَ أَمَدَّكُمْ بِصَلاَةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ الْوِتْرُ جَعَلَهُ اللهُ لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ اْلعِشَاءِ إِلىَ أَنْ يَّطْلَعَ اْلفَجْرُ.

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan amal tambahan bagi kalian sebuah shalat yang lebih baik bagi kalian daripada unta merah, yaitu shalat witir, dan Allah telah menjadikan witir berada di antara shalat Isya’ hingga terbit fajar”. (Sunan at-Tirmidzi, No. 452).

Dalam masyarakat Arab unta yang berwarna merah merupakan simbol harta yang dibanggakan, karena unta merah lebih berharga dari pada unta warna lain. Sungguh menjadi suatu kebanggan yang luar biasa jika terdapat harta yang melebihi unta merah. Tentu melampaui alam pikir mereka. Perbandingan tersebut menggambarkan betapa besar keutamaan shalat witir. (Muhammad Asyraf bin Amir, ‘Aun al-Ma’bud ‘ala Syarh Suna Abi Daud (Digital Library, al-Maktabah al-Syamilah, al-Ishdar al-Tsani, 2005), III/353).

Kesunnahan Shalat Witir

Menurut jumhur ulama selain Hanafiyah, hukum shalat witir adalah sunah muakadah. Tidak dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjemaah, kecuali pada bulan Ramadan. Disebut witir karena jumlah rakaatnya selalu ganjil, dimulai dari satu, tiga, lima, hingga sebelas rakaat. Status muakadah ini benar-benar sangat kuat, sehingga Syekh Zaruq, ulama bermazhab Maliki menyandangkan label fasik bagi orang yang meninggalkan shalat witir, karena dianggap meremehkan sunah. Pendapat ini senada dengan pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa orang yang secara sengaja meninggalkan shalat witir dikategorikan sebagai orang yang kurang baik (rajulun su’), dan persaksiannya tidak pantas diterima.

Baca Juga:  Menimbang Mudharat Terorisme Pasca Kepulangan WNI Eks ISIS dalam Kacamata Fikih

Selain itu, shalat witir juga termasuk dari tiga shalat sunah yang diwajibkan untuk Nabi Muhammad bersanding dengan shalat Duha dan shalat Idul Adha. (Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdirrahman Al-Hatthab, Mawahib al-Jalil (Dar al-Ridwan, tt.), II/339., Manshur bin Yunus bin Idris al-Buhuti, Syarh Muntaha al-Iradat (Beirut: Muassisah al-Risalah, Cet. I, 2000), I/485-486., Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Beirut: Dar al-Fikr, Cet II, 1985), I/818).

Sedangkan menurut Hanafiyah shalat witir adalah wajib, bukan sunah muakadah lagi. Dalam mazhab Hanafi fardu ada dua macam. Pertama, fardu dalam pelaksanaan dan keyakinan (‘amalan wa ‘ilman). Seperti shalat maktubah dari aspek pelaksanaan tidak boleh ditinggalkan, dan wajib diyakini status kefarduannya, sehingga siapapun yang mengingkari dihukumi kafir. Kedua, fardu dalam pelaksanaan saja (‘amalan faqath). Seperti shalat witir, dari aspek pelaksanaan wajib dikerjakan, namun orang yang mengingkari kewajiban shalat witir tidak sampai berstatus kafir. Fardu macam kedua ini dalam mazhab Hanafi disebut dengan wajib, sehingga fardu dan wajib merupakan istilah yang berbeda. (Muhammad Amin bin Umar Abidin, Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar (Mekah: Dar Alam al-Kutub, tt.), II/438).

Jumlah Rakaat dan Tata Cara Shalat Witir

Menurut ulama Hanafiyah shalat witir terdiri dari tiga rakaat dengan satu salam tanpa dipisah, layaknya shalat magrib, yakni menggunakan tahiyat awal. Namun, jika lupa tidak melaksanakan tahiyat awal dan sudah tegak berdiri untuk rakaat ketiga, maka tidak perlu turun untuk mengulangi lagi, bahkan jika kembali turun shalatnya menjadi batal. Kemudian pada rakaat ketiga sebelum rukuk membaca doa qunut. (Muhammad Amin bin Umar Abidin, Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar (Mekah: Dar Alam al-Kutub, tt.), II/441).

Baca Juga:  Mengambil Barakah Tulisan Al Qur’an Pengobatan, Bid’ah Atau Wasilah?

Sedangkan ulama Malikiyah menyatakan bahwa jumlah rakaat shalat witir hanyalah satu dengan didahului shalat sunah, baik sunah ba’diyah Isya maupun sunah mutlak, dengan jumlah rakaat genap dimulai dari dua, empat, enam, dan seterusnya. (Shalih Abdussami’ al-Abiy, Al-Tsamar al-Daniy, 117).

Sementara menurut Syafiiyah dan Hanabilah jumlah minimal rakaat shalat witir adalah satu dan maksimal 11 rakaat. Menurut Syafiiyah, jika melaksanakan shalat witir lebih dari satu rakaat, maka boleh dikerjakan sekaligus dalam rangkaian satu salam, semisal tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas rakaat. Atau boleh juga dipisah dengan salam dalam setiap dua rakaat dengan niat bahwa dua rakaat tersebut adalah bagian dari witir (rak’ataini minal witri). Jika hanya mencukupkan tiga rakaat lebih utama disambung dalam kondisi berjemaah, jika sendirian lebih baik dipisah. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/507).

Dalam hal pelaksanaan jumlah rakaat, ulama Hanabilah lebih detail. Jika hendak melaksanakan shalat witir sejumlah 11 rakaat, maka setiap dua rakaat salam, lalu diakhiri satu rakaat. Jika melaksanakan dengan jumlah sembilan rakaat, maka menggunakan tahiyat awal pada rakaat kedelapan dilanjutkan tahiyat akhir pada rakaat kesembilan. Jika melaksanakan dengan jumlah tujuh atau lima rakaat, maka dilakukan sekaligus dalam satu salam dan tanpa tahiyat awal. Jika mencukupkan hanya tiga rakaat, maka boleh disambung dan dipisah. Sama dengan Hanafiyah, kalangan Hanabilah juga mensunahkan membaca doa qunut setelah rukuk pada rakaat terakhir. Sementara Syafiiyah hanya mensunahkan qunut witir pada paruh waktu kedua dari bulan Ramadan. (Manshur bin Yunus bin Idris al-Buhuti, Syarh Muntaha al-Iradat (Beirut: Muassisah al-Risalah, Cet. I, 2000), I/489-491).

Baca Juga:  Faqid Al-Thahuraini: Bolehkah Shalat Tanpa Wudhu dan Tayamum untuk Petugas Medis Covid-19 ?

Seluruh ulama mazhab sepakat bahwa surat yang dianjurkan untuk dibaca setelah fatihah dalam shalat witir adalah surat Al-A’la (87) pada rakaat pertama, surat Al-Kafirun (109) pada rakaat kedua, dan surat Al-Ikhlas (112) pada rakaat ketiga. Perbedaan terjadi pada rakaat ketiga (terakhir). Kelompok Malikiyah dan Syafiiyah menambahkan dua surat lagi selain surat Al-Ikhlas, yakni surat mu’awwidzatain: Al-Falaq (113) dan An-Nas (114). Jika shalat witir lebih dari tiga rakaat maka anjuran tersebut dibaca pada tiga rakaat yang terakhir. (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, tt.), III/511., Shalih Abdussami’ al-Abiy, Al-Tsamar al-Daniy, 118).

Waktu Shalat Witir

Menurut jumhur ulama waktu shalat witir setelah shalat isya hingga terbit fajar (masuk waktu subuh). Sementara menurut Hanafiyah bersamaan dengan shalat isya, tetapi praktiknya harus berurutan, isya terlebih dahulu baru shalat witir. Jika dilaksanakan sebelum isya, maka tidak sah karena tidak mencukupi syarat tertib. Lebih afdal shalat witir dilakukan sebagai penutup shalat malam. Namun jika dilakukan di awal waktu, kemudian melaksanakan shalat tahajud, maka tidak perlu diulang lagi. Bagi orang yang mempunyai keyakinan akan bangun dan melaksanakan shalat malam, maka lebih utama shalat witir di akhir malam. Akan tetapi, bagi mereka yang yakin tidak akan bangun malam, lebih baik dilaksanakan setelah shalat sunah ba’diyah isya. (Muhammad Zuhaili, al-Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. III, 2011), I/375., Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Beirut: Dar al-Fikr, Cet II, 1985), I/822-824).

Niat Shalat Witir

1. Satu rakaat

أُصَلِّيْ سُنَّةَاْلوِتْرِ رَكْعَةً  لِلهِ تَعَالَى.

(Ushalli sunnatal witri rak’atan lillahi ta’ala)

2.         Tiga rakaat sekaligus

أُصَلِّيْ سُنَّةَاْلوِتْرِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ  لِلهِ تَعَالَى.

(Ushalli sunnatal witri tsalatsa raka’atin lillahi ta’ala)

3.         Dua rakaat-dua rakaat

أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ مِنَ اْلوِتْرِ لِلهِ تَعَالَى.

(Ushalli sunnatan rak’ataini minal witri lillahi ta’ala)

 

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Keterbatasan Sebuah Pengakuan

Kodrat alam menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah pertarungan dua kutub yang berlawanan, min-plus. Kehidupan …

saksi dan sumpah

Kaidah Fikih: Fungsi Saksi dan Sumpah dalam Sebuah Sengketa

Seseorang yang memiliki prinsip terkategorikan sebagai orang yang kuat dan berkarakter. Prinsip menentukan sikap dan …