Syaikh Abdul Qodir

Futuhul Ghaib; Mendalami Makna Spiritual ala Abdul Qadir al-Jailani

Sebagai umat muslim tentu kita tidak asing dengan nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077–1166 M). beliau adalah seorang ulama tersohor karena memiliki kemantapan sisi batin. Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga terkenal sebagai Sultanul Auliya’ (Pemimpin Para Wali). Selain memiliki kemantapan dalam sisi batin, Syekh Abdul Qadir juga memiliki kealiman dan keilmuan yang mendalam.

Ajaran Sufisme yang dibawa oleh Syekh Abdul Qadir begitu massif tersebar sejak dari zamannya hingga sekarang. Menurut beberapa riwayat ulama, Sang Begawan Sufi dikenal lantaran berbagai karamah yang dimiliki, bahkan di kalangan islam tradisional, Syekh Abdul Qadir memiliki mukjizat seperti para nabi.

Namun, penghargaan terhadap kebesaran Syekh Abdul Qadir sesungguhnya bukan hanya lantaran itu. Seperti batu karang yang terlihat dari samudera spiritualitas yang dalam, karamah hanyalah buah dari kedalaman ilmunya. Jika pun sisi khawariq ‘adat (perkara-perkara luar biasa) yang dimiliki oleh Syekh Abdul Qadir tidak menarik, namun tidak ada yang dapat menyangkal dan meragukan kapasitas dan kematangan ruhaninya.

Spiritualitas Tazkiyah an-Nafs

Melihat kondisi zaman saat ini, di mana materi menempati posisi tertinggi, spirit ruhani Syekh Abdul Qadir lah yang menurut penuils penting untuk diadopsi dan dijadikan patron dalam kehidupan masyarakat modern hari ini. Agar terlepas dari jeratan materialisme yang semakin menekan, umat membutuhkan revolusi spiritual agar memiliki kekuatan landasan dalam menghadapi kehidupan.

Spiritualitas yang dibawa oleh Syekh Abdul Qadir sebagaimana tokoh-tokoh sufi lainnya adalah spiritualitas penyucian diri (tazkiyah an-nafs). Spritualitas penyucian diri ini membantu memusnahkan hal-hal yang bersifat materialistik untuk menghadap Tuhan Yang Satu. Spiritualitas ini bukan semata-mata imitasi bernomenklatur agama yang semata-mata bertujuan pada provan keduniaan.

Dalam kitab Futuhul Ghaib (Ilham-Ilham Gaib), kedalaman dari sisi batiniah Syekh Abdul Qadir dapat kita peroleh dan rasakan. Dalam pembahasannya, Futuhul Ghaib berisi 78 pembahasan yang terdiri tentang suluk (jalan menuju Tuhan), syariat, akhlak, hakikat, kewalian, ilham, dan lainnya. Kitab ini bisa dikatakan sebagai kumpulan pengalaman ruhani dan penyingkapan-penyingkapan ilahi yang diperlihatkan di depan mata Syekh Abdul Qadir dalam kapasitasnya sebagai ‘Kekasih Tuhan’.

Baca Juga:  Nasehat Imam Ghazali Agar Mendapatkan Kedudukan yang Mulia di Hadapan Allah

Meski kitab Futuhul Ghaib bukan hasil dari tulisan Syeikh Abdul Qadir sendiri. Namun, semua pengajaran yang termuat di dalamnya merupakan kumpulan materi pengajian yang diampu oleh Syeikh Abdul Qadir sendiri semasa di Bagdad dan Irak.

Ada beberapa alasan mengapa bukan Syeikh Abdul Qadir sendiri yang menulis isi dari kitab Futuhul Ghaib dan beberapa kitab lainnya seperti al-Fath ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani yang juga berisi pembahasan tentang pendalaman spiritualitas hidup manusia. Hal itu dikarenakan kesibukan Syeikh Abdul Qadir dalam berdakwah dan membimbing masyarakat membuatnya tidak memiliki cukup waktu untuk mencatat setiap pengajaran yang ia berikan.

Namun, melalui muridnya Zain al-Marshafi yang mentraskip lembaran kajian yang di dakwahkan oleh Syekh Abdul Qadir lah sebuah kitab legendaris yang menjadi rujukan banyak ulama sufi Islam itu terbukukan.

Tugas Seorang Guru dan Murid

Dalam kitab Futuhul Ghaib, Syekh Abdul Qadir menjelaskan tugas utama seorang guru spiritual terhadap sang murid. Syekh Abdul Qadir berpendapat bahwa seorang guru spiritual harus mampu membuat mudridnya terlepas dari ikatan-ikatan makhluk dan nafsu terhadap dunia.

Hal ini dilakukan agar seorang murid dapat memurnikan kecintaan dan menumbuhkan rasa kasih terhadap Sang Maha Kasih. Jika sang murid telah dianggap lulus dalam tahapan ini maka sang guru harus menyapih murid tersebut dari susuan spiritualnya sebab tugasnya telah usai.

Dalam kitab Futuhul Ghaib pada bagian ke-17, hubungan antara guru spiritual dengan sang murid dijelaskan oleh Syekh Abdul Qadir demikian;

Untuk menghancurkan hawa nafsu dan kehendak yang ada dalam diri seorang murid, seorang guru spiritual akan terus dibutuhkan. Namun, begitu hawa nafsu dan kehendak dalam diri seoang murid musnah. Maka, keberadaan guru tidak lagi dibutuhkan. Sebab, pada dirinya tidak ada lagi noda dan kekurangan.”

Baca Juga:  Bukti Islam Itu Humanis: 4 Pesan Rasulullah Saw Saat Pertama Kali Tiba Di Madinah

Dalam rangka mengembalikan spiritualitas ke khittahnya, memahami isi dari kitab Futuhul Ghaib sangatlah penting. Sebab, di sinilah kita akan memahami tujuan laku spiritual yang menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama dan mengesampingkan segala sesuatu di luar Tuhan.

Seorang murid dan guru spiritual harus memiliki kesamaan visi dalam upaya mencapai puncak spiritualitas. Menyucikan jiwa dari segala kotoran dan hawa nafsu (tazkiyat an-nafs min al-adran al-khalqiyyah wa al-ahwa’ an-nafsiyyah). Pengembaraan menuju puncak spiritual akan mengalami disorientasi jika visi yang dibawa diluar dari tazkiyat an-nafs min al-adran al-khalqiyyah wa al-ahwa’ an-nafsiyyah. Pembahasan ini secara serius disinggung oleh Syekh Abdul Qadir dalam Futuhul Ghaib;

Barangsiapa menghendaki sampai akhirat, diwajibkan kepada mereka untuk zuhud terhadap dunia. Barangsiapa menghendaki Allah, wajib bagi mereka untuk zuhud terhadap akhirat. Sebab itulah, mereka harus mengesampingkan dunia demi akhirat, dan mengesampingkan akhirat demi Tuhannya.”

Hubungan Antar Manusia Dalam Futuhul Ghaib

Pesan-pesan toleransi, tertanamnya rendah hati dalam diri seseorang, inklusifitas dalam beragama, serta cara memandang adanya eksistensi sang ‘liyan’ juga teramat kental disampaikan Syaikh Abdul Qadir dalam kitab Futuhul Ghaib. Salah satu wujud paling nyata dari laku spiritual yang dijalani oleh seseorang adalah tumbuh dan terbentuknya karakter unggul (al-akhlaq al-karimah) dalam hubungan horizontal kepada sesama manusia.

Sikap rendah hati menurut Syekh Abdul Qadir harus ditanamkan di atas prinsip bahwa seorang hamba tidak diperkenankan menilai orang lain semata-mata atas apa yang diperbuat hari ini, kemarin, dan di masa lalu. Sebab, penilaian itu tidak semata-mata dapat menentukan tingkat keimanan seseorang terhadap Tuhannya.

Memaknai Syirik Menurut Syeikh Abdul Qadir

Dalam memberikan tafsir terhadap hakikat syirik, Syeikh Abdul Qadir dalam Futuhul Gaib berbeda pendapat dengan kebanyakan ulama aliran syariat. Syirik dalam pandangan Syeikh Abdul Qadir bukan semata-mata perbuatan menyembah berhala. Melainkan ketundukan seseorang dalam mengikuti hawa nafsunya hingga menyandarkan hatinya pada sesuatu selain Allah baik di dunia maupun di akhirat. “Jika kau tenggelamkan dirimu pada sesuatu selain Allah, maka kau telah menyekutukan-Nya” demikian tegasnya.

Baca Juga:  Perhatikan 8 Hal agar Menjalankan Shalat dengan Khusu’

Melalui keterangan yang demikian kita dapat melihat bahwa substansi dari ajaran pemurnian tauhid. Pemurnian tauhid yang dimaksud Syeikh Abdul Qadir bukan semata mata menghindari perbuatan yang fokus pada hal-hal yang tidak kasat mata seperti yang dipahami oleh paham keagamaan garis kanan.

Pemurnian tauhid menurut Syeikh Abdul Qadir bukan sekedar perbuatan yang menjauhi perdukunan, penyembahan berhala, mempercayai ramalan dan lainnya. Melainkan segala upaya yang bergantung kepada sesama makhluk bahkan terhadap diri sendiri, bukan sekedar perbuatan yang tidak kasat mata.

Kitab Futuhul Ghaib telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai macam versi. Salah satunya adalah Revelations of The Unseen: Jalan Rahasia Menuju Allah. Buku ini diterjemahkan langsung dari naskah asli Futuhul Ghaib berbahasa Arab. Meski terjemahan, buku Revelations of The Unseen: Jalan Rahasia Menuju Allah cukup baik dalam upaya penerjemahannya sehingga tidak banyak makna dari naskah aslinya yang jauh berbeda.

Bagikan Artikel

About S. Fitriatul Maratul Ulya

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia sekaligus Pengurus PMII Cabang Kota Semarang Periode XXXVIII