dinar dirham
dinar dirham

Gagal Paham Kembali ke Sunnah: Apakah Mu’amalah dalam Islam Harus Memakai Dinar dan Dirham?

Belakang muncul gerakan mua’amalah berbasis dinar dan dirham. Gerakan ini nampaknya semakin melebar dari daerah satu ke daerah yang lain. Ciri khas dari pasar muamalah yang dilakukan adalah transaksi yang menggunakan alat tukar dinar atau dirham, bukan rupiah seperti lazimnya transaksi di Indonesia.

Transaksi seperti ini telah berlangsung dibeberapa tempat di Indonesia. Salah satunya yang viral di media sosial adalah pasar mua’amalah di Depok. Dalam salah satu wawancara dengan pengawas pasar misalnya terungkap bahwa agenda besar dari pasar muamalah adalah mengembalik “sunnah” dan cara muamalah islami.

Sebenarnya gerakan kembali ke dinar dan dirham tersebut telah ada sejak tahun 1999 atas inisiatif seseorang yang menganut paham anti mata uang fiat (fiat currency) sebagai alat tukar. Diduga, gerakan ini semacam money changer yang bertujuan mengonversi mata uang rupiah ataupun mata uang lain negara di dunia menjadi mata uang dinar atau dirham.

Sempat stagnan, pada tahun 2003 gerakan ini kembali gencar disuarakan. Dan belakangan muncul diberbagai tempat di Indonesia. Bahkan telah berdiri perusahaan yang khusus  menerbitkan Dinar di Indonesia.

Gerakan kembali ke dinar atau dirham ini katanya untuk mencontoh langsung transaksi yang dilakukan oleh Nabi. Menurut mereka ini adalah bentuk transaksi sunnah sebab Nabi pernah melakukannya. Ya, agenda besar seperti mereka propagandakan adalah mengembalikan sunnah. Betulkah muamalah dengan dinar dan dirham adalah bagian dari sunnah? Lalu, transaksi yang islami itu seperti apa? Benarkah demikian? Apakah semua mua’amalah dalam Islam harus memakai atau dirham?

Muamalah Dinar dan Dirham dalam Pandangan Islam

Penting diketahui, jika dinar maupun dirham tidak ditetapkan secara resmi di suatu negara maka statusnya tak lebih hanya menjadi produk atau komuditi seperti barang yang lain. Keduanya hanya berfungsi sebagai perhiasan atau barang bernilai. Bukan alat tukar. Hanya bisa diperjualbelikan saja atau disimpan.

Baca Juga:  Kunci Terkabulnya Doa sesuai Surat Al-Baqarah 45-46

Dengan demikian, dalam pandangan syariat Islam tidak dibenarkan menjadikan dinar atau dirham sebagai alat tukar di suatu negara yang tidak menggunakan keduanya sebagai alat tukar resmi. Seperti di Indonesia yang menggunakan mata uang rupiah sebagai alat tukar. Sebab bila penggunaan alat tukar dirham atau dinar tersebut dibiarkan, cepat atau lambat akan menggangu perekonomian negara. Dampak paling buruk adalah turunnya nilai rupiah di negeri sendiri. Dan ini adalah mudharat yang besar.

Islam mengajarkan kepada umatnya supaya taat terhadap peraturan yang dibuat oleh negara di mana ia tinggal sebagai wujud cinta tanah air yang sangat dianjurkan oleh Nabi.

Syaikh Bujairimi dalam kitabnya Bujairimi ‘ala al Khatib menulis, bila seorang pemimpin memerintahkan sesuatu yang hukumnya wajib maka hukum wajib tersebut menjadi lebih kuat. Jika ia memerintahkan yang sunnah, maka perbuatan yang hukumnya sunnah tersebut menjadi wajib. Jika memerintahkan yang mubah namun mendatangkan maslahat, seperti larangan merokok, maka wajib diikuti. Namun jika pemimpin memerintahkan yang haram, makruh atau mubah tetapi tidak mendatangkan maslahat, maka tidak wajib untuk taat.

Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhatu al Thalibin dan Majmu ‘Syarh al Muhaddzab menegaskan, bila seseorang merusak barang orang lain, maka ganti ruginya ditetapkan berdasarkan nuqud (mata uang) negeri itu. Jika di negeri tersebut berlaku dua jenis nuqud atau lebih dan tidak ada yang lebih diutamakan di antara keduanya, maka hakim boleh menetapkan harga barang tersebut dengan salah satunya.

Bagaimana bila suatu ketika ada ‘urud (komuditi) yang berlaku umum sebagai alat tukar di negeri tersebut? Apakah boleh dialihkan dengan menyebut nilai barang tersebut? Ada dua pendapat. Pendapat yang paling shahih mengatakan dialihkan kepada barang (komoditas) yang berlaku layaknya nuqud. Sampai kemudian Imam Nawawi mengatakan, sebagaimana transaksi ditetapkan berdasarkan nuqud yang berlaku di suatu negeri, maka segala sifat yang berkaitan dengan nuqud ghalib (mata uang yang berlaku) juga disediakan dengan nuqud (emas dan perak).

Baca Juga:  Cara Menebus Dosa Ketika Kamu Terlanjur Menuduh Kafir, Bid'ah dan Munafik kepada Sesama Muslim

Dari sini bisa dipahami, tidak boleh menggunakan dinar atau dirham sebagai alat tukar karena negara telah memberlakukan rupiah sebagai mata uang resmi sebenarnya adalah perintah syariat Islam. Kedudukan dirham dan dinar di Indonesia tidak lebih hanya barang perhiasan saja. Maka bila mencapai jumlah tertentu wajib dikeluarkan zakatnya. Dan haram hukumnya bila dipakai oleh laki-laki. Konsekeensi lain, jika dinar atau dirham dijadikan alat tukar di Indonesia yang resmi menggunakan rupiah, maka status dinar atau dirham adalah termasuk benda ribawi.

Indonesia telah membuat undang-undang bahwa alat tukar resmi yang berlaku adalah rupiah. Bentuk mata uang selain rupiah tidak benarkan bila dijadikan alat pembayaran. Dengan demikian, berdasar beberap referensi di atas, tindakan kembali ke dinar atau dirham adalah bentuk pelanggaran terhadap syariat Islam.

Sunnah Melakukan Transaksi dengan Dinar atau Dirham?

Kata uang (nuqud) tidak dijumpai dalam nushush al syari’ah (teks keagamaan), baik di al Qur’an maupun hadist. Penggunaan dinar dan dirham telah berlaku di Arab sebelum Nabi lahir. Orang Arab menyebut dinar untuk mata uang emas dan dirham untuk mata uang perak.

Mereka juga menggunakan istilah wariq untuk menunjuk dirham perak dan ‘ain untuk dinar emas. Lain dari itu, mereka juga menggunakan istilah fulus sebagai alat tukar tambahan untuk membeli barang-barang yang harganya murah. Nabi tidak merubah hal ini sehingga penggunaan keduanya tetap berlangsung.

Dalam fikih penyebutan mata uang adalah dinar, dirham dan fulus. Khusus dinar dan dirham para ulama menyebutnya naqdain. Imam Syarkhasy dalam al Mabsuth menulis, nuqud hanya bisa digunakan untuk transaksi untuk suatu nilai barang, karenanya nuqud tidak bisa dihargai berdasarkan bendanya. Sedangkan uang adalah apa yang digunakan oleh manusia sebagai standar nilai harga, media transaksi dan simpanan.

Baca Juga:  Resmi Ditangkap Densus 88, Begini Jejak Zulkarnaen di JI

Berdasarkan ini, kita tahu bahwa ulama fikih mendefinisikan uang berdasar pada fungsinya dalam mu’amalah. Yakni, sebagai standar nilai harga barang dan jasa, sebagai media tukar barang dan jasa, dan sebagai alat simpanan. Dengan demikian, mata uang adalah alat tukar yang ditetapkan oleh pemerintah dan berlaku secara umum serta dikuatkan dengan undang-undang.

Sebagaimana telah disebutkan, Islam tidak menunjuk mata uang tertentu untuk dipakai oleh umat Islam sebagai alat tukar. Bukankah Rasulullah Menyekutukan dinar dan dirham? Toh walaupun beliau menyebut keduanya tidak berarti mata uang yang harus dipakai adalah sebatas keduanya saja.

Dengan dalil apa hal ini bisa dibuktikan? Pertama semua nushush al syari’ah yang menyebut dinar dan dirham tidak menyebut keduanya sebagai satu-satunya alat transaksi dalam mu’amalah. Kedua, mua’amalah dalam Islam sifatnya dinamis, tidak kaku. Diserahkan sepenuhnya kepada kreativitas manusia senyampang tidak ada kedzaliman di dalamnya. Dan, ketiga, semua uang yang ada saat ini, semisal rupiah, bisa dianalogikan (qiyas) kepada dirham atau dinar dari segi ia sebagai alat tukar, standar nilai barang dan simpanan.

Dengan demikian, penggunaan dinar atau dirham sebagai cara Nabi karena Nabi melakukan transaksi memakai keduanya mengikut tradisi orang Arab. Sedangkan mata uang saat ini, seperti rupiah, ringgit, dolar dan sebagainya juga sunnah karena fungsinya sama dengan dinar dan dirham.

Oleh karena itu, bila di suatu negara menetapkan uang tertentu, bukan dinar dan dirham, kewajiban penduduknya untuk menaati. Kenapa demikian, karena bila memaksa menggunakan dirham dan dinar, beresiko terjadinya dampak buruk terhadap tatanan ekonomi negara tersebut. Dan, ini adalah mafsadah. Sedangkan mafsadah harus dihilangkan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

murtad

Murtad Kemudian Islam Lagi, Apakah Shalatnya Wajib Qadha’?

Kita mendapat kabar Nania Yusuf alias Nania Idol yang murtad pada tahun 2009 lalu kini …