gagasan perdamain dalam al-quran
Alquran

Al-Quran dan Gagasan Perdamaian

Dalam perdebatan kontemporer mengenai akar Muslim radikalisme dan karakter agama Islam, dirasa penting untuk kembali ke sumber utama yaitu Al-Quran. Dalam kitab suci umat Islam itu memiliki beberapa ayat tentang perang serta perdamaian. Masalahnya, ayat-ayat yang berbicara perdamaian kurang dihargai.

Al-Quran, yang diyakini oleh umat Islam merupakan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, seorang pedagang yang berasal dari Mekah antara 610 dan 632 Masehi.

Nabi Muhammad merupakan satu dari serangkaian panjang nabi atau utusan manusia dari satu Tuhan, berdiri dalam garis tegas yang mencangkup Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman, Yunus, dan Isa al-Masih. Setiap rasul Tuhan, menurut Muslim, telah menegaskan kembali keesaan Tuhan dan kebutuhan untuk memiliki iman serta menjalani kehidupan dengan penuh moral.

Kemungkinan, karena muncul selama perang besar di abad ketujuh antara kekaisaran Bizantium dan Iran, as-Salam atau perdamaian menjadi perhatian yang mendalam bagi Al-Quran. Sebuah surat ke 97 (al-Qadr) dari Al-Quran mengomentari wahyu pertama yang diberikan kepada Nabi Muhammad, di tahun 610 Masehi, ketika beliau sedang bermeditasi di sebuah gua di Gunung Hira dekat kota Mekah.

Surat itu berbicara mengenai turunyya malaikat dan Ruh (Jibril) pada malam paling mulia ketika wahyu diturunkan, kemudian diakhiri dengan ayat:

سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”

Ada yang menyebutkan kata Salam juga dimaknai sebagai damai. Jelas ayat ini mengidentifikasi malam wahyu, yang mana wahyu itu turun dengan penuh rasa damai.

Perdamaian dalam bahasa Semit seperti Ibrani dan Arab tidak hanya dipahami sebagai kenihilan atas konflik, tetapi lebih sebagai konsepsi positif, yaitu kesejahteraan. Sebagaimana dikatakan pada surat ke-97 di Al-Quran yang membawa kedamaian batin bagi orang-orang yang percaya.

Baca Juga:  Islam Terdzalimi di Tengah Pandemi?

Al-Quran mengatakan bahwa Nabi Muhammad bahwa beliau diutus sebagai pemberi peringatan kepada umatnya dan kepada dunia, bahwa Hari Penghakiman akan datang, ketika orang-orang akan dibangkitkan kembali dari kubur mereka dan dihakimi atas segala perbuatannya oleh Tuhan.

Yang baik, atau orang-orang di sebelah kanan akan masuk surga, sedangkan yang jahat akan dimasukkan ke dalam siksa neraka. Surga, digambarkan di dalam Al-Quran bahwa selalu diliputi oleh kedamaian.

Dalam surat Qaf ayat 34, Allah berfirman bahwa orang-orang saleh yang masuk surga disambut oleh para malaikat dengan mengatakan,

ٱدْخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلْخُلُودِ

“‘Masuklah dengan damai!’ Itu adalah hari keabadian.”

Dalam tafsir al-Wajiz Syeikh Wahbah az-Zuhaili ayat tersebut diartikan, “Maka dikatakan kepada mereka: “Masuklah ke dalam surga. Kalian selamat dari ketakutan dan azab. Salam Kami untuk kalian. Hari itu adalah hari keabadian dalam surga.”

Sementara dalam tafsir ringkas Kementerian Agama Republik Indonesia disebutkan sebagai penghormatan kepada mereka, para malaikat berkata, “Masuklah ke dalam surga dengan aman, tanpa dihalangi, dan damai, penuh ketenteraman.” Maka bergembiralah dan bersenang-senanglah kalian semua. Itulah hari yang abadi, tidak ada kematian dan kesulitan sesudah itu.

Mereka di dalamnya, yakni di dalam surga, memperoleh apa yang me-reka kehendaki, berupa segala macam kenikmatan dan pada kami ada tambahannya, kenikmatan yang tidak ada taranya yang tidak pernah terlintas oleh pikiran.

Di surga, surat al-Waqiah ayat 90-91 menjanjikan, “Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).” Begitupun dalam surat al-Hasyr ayat 23 mengungkapkan bahwa perdamaian adalah salah satu dari nama-nama Allah, “Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Pada periode 613-622 Masehi, ketika penulis sejarah Muslim menyatakan bahwa para penyembah dewa-dewa pagan Arab lokal melecehkan beberapa sahabat generasi pertama yang sudah percaya akan pesan Nabi Muhammad, tertuang dalam surat al-Furqon ayat 63,

Baca Juga:  Musyawarah: Ajaran Islam dalam Mencari Solusi Keumatan

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,”

Al-Qur’an dengan jelas memuji golongan generasi pertama para sahabat yang telah percaya atas kebenaran Islam yang memberikan sisi lain dari pipinya dalam menghadapi hinaan dan gangguan dari orang-orang kafir di Mekah.

Pada periode 622-632 Masehi, Nabi Muhammad dan para sahabat geberasi awal berhijrah ke kota terdekat Madinah karena penganiayaan dan merasa dibatasi untuk berperang dengan orang-orang kafir Mekah yang agresif. Bahkan di tengah konflik, perdamaian tetap menjadi tujuan utama dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam surat al-Baqoroh ayat 190,

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Ahli tafsir dan para cendekiawan Muslim telah mencatat bahwa ayat ini secara implisit melarang untuk membunuh orang lemah dan bukan pejuang, termasuk wanita dan anak-anak.

Adapun dalam surat al-Anfal ayat 61 menuntut bahwa jika musuh menuntut perdamaian dengan syarat-syarat yang adil, tawaran itu harus diterima.

وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Dan memang, ketika konflik dengan kafir Mekah pada akhirnya diselesaikan dengan kekalahan di sisi Mekah, negoisasi, serta perjanjian, dalam sejarah Islam dikenal dengan istilah Fathul Makkah. Kemudian ketika orang-orang Muslim berkuasa di Mekah, tidak ditemukan pembalasan massal kepada kafir Mekah yang dulunya menyiksa mereka.

Baca Juga:  Bahaya Nalar Berfikir Kaum Takfiri

Oleh karena itu, cita-cita perdamaian memenuhi konsep-konsep keagamaan dalam Al-Quran. Wahyu turun pada malam yang penuh kedamaian. Perdamaian adalah puncak surga Muslim. Allah adalah damai. Sementara ayat-ayat ini membahas cita-cita spiritual, mereka memiliki implikasi bagi pandangan Al-Quran tentang perilaku manusia yang benar.

Al-Quran dengan jelas melihat penggambaran surga, di mana tidak ada pembicaraan tentang dosa, sebagai model bagaimana seseorang harus bermoral baik dalam kehidupan ini. Dalam komunitas yang ideal itu, baik Muslim maupun non-Muslim saling menyapa dengan doa untuk kedamaian dan kesejahteraan mereka.

Dan di dunia ini, bahkan mereka yang mengejek dan mempermalukan seorang Muslim harus menerima doa penuh perdamaian. Bagi mereka yang mengutip Al-Quran sebagian atau secara selektif untuk membenarkan kekerasan, tampak jelas bahwa mereka mengabaikan beberapa bagian terpenting dari kitab suci.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Hasan Izzurrahman

Avatar of Muhammad Hasan Izzurrahman

Check Also

islam timur tengah

Selalu Digambarkan Agama Kekerasan, Apa yang Hilang dalam Ajaran Islam?

Islam, media Barat cenderung mengabadikan stereotip bahwa Islam adalah agama kekerasan dan kaum perempuannya selalu …

perayaan idul adha

Idul Adha di Masa Pandemi : Sejarah dan Makna Perayaan

Idul Adha, atau dalam bahasa Arab (الأضحى) secara harfiah diterjemahkan sebagai hari raya qurban, sementara …