haman
haman

Haman: Kisah Politikus Rakus pada Zaman Fir’aun yang Diceritakan Al-Quran

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair, namun hancur di tangan politikus

Dr. Muhammad Iqbal

Haman adalah aktor intelektual dan konseptor politik Fir’aun. Namanya diabadikan di dalam al Qur’an. Ia sebagai penyokong ide untuk setiap kebijakan Fir’aun. Sayangnya, kiprah Haman dalam kerajaan Fir’aun hanya mencari untung buat dirinya sendiri/kelompoknya.

Haman disebut sebanyak enam kali dalam al Qur’an. Salah satunya dalam surat Ghafir ayat 36-37.

“Dan berkatalah Fir’aun, “Wahai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanya membawa kerugian”.

Bisa dikatakan, Haman yang digambarkan dalam al Qur’an adalah politikus yang tidak beretika. Baginya, berpolitik adalah bagaimana mendapatkan posisi strategis dan keuntungan tanpa memperhatikan kebajikan politik.

Haman adalah salah seorang pembesar dalam lingkaran kerajaan Fir’aun. Kreator kebijakan sehingga Fir’aun kebal hukum. Namun, ia hanya membodohi dan mengendalikan setiap kebijakan Fir’aun. Haman adalah simbol intelektual sekaligus politisi yang merancang segala bentuk kebijakan dan peraturan negara demi uang.

Tentu Haman tidak sendirian. Ia bersama kelompoknya. Komplotan intelektual dan politisi yang mencari untung untuk kelompoknya sendiri, tanpa peduli dampak negatifnya. Para penjilat yang merancang kebijakan “asal tuan senang”.

Lihat bagaimana Haman ketika mendapat perintah pembangunan menara tinggi dalam ayat di atas. Proyek ini ia kerjakan dengan senang hati. Seandainya ia politisi yang baik, sebagai abdi negara yang bijak, tentu ia akan meninjau ulang keputusan untuk membangun proyek menara tinggi tersebut. Atas dasar rasional apakah, Fir’aun meminta dibangunkan menara tinggi untuk mengintip Tuhan Musa?

Tetapi, karena Haman tipe politisi “penjilat”, kebijakan apapun didukungnya untuk melayani ambisi dan kesenangan penguasa, meskipun tidak masuk akal.

Dalam ayat yang lain disebutkan, “Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun dan berkata: (apakah) kami akan mendapatkan upah, jika kami yang menang”? (QS. al A’raf: 113).

Ayat di atas menggambarkan, bagaimana orang-orang yang ada di pusaran kekuasaan Fir’aun. Motif kerja mereka orientasinya adalah duit. Bagi Haman dan kelompoknya, tidak penting apakah negara sejahtera, adil dan aman, yang penting mereka dapat untung. Hanya berpikir bagaimana jabatan mereka aman, membangun oligarki kerajaan dengan berlindung di bawah penguasa yang mudah diatur dan ditipu.

Haman sangat lihai memanfaatkan celah kelemahan Fir’aun yang memiliki obsesi untuk menjadi Tuhan. Obsesi ini yang menjadi penyebab kehancuran Fir’aun karena pemerintahannya selalu diliputi kezaliman. Negara tidak stabil dan akhirnya hancur. Haman dan komplotannya tidak peduli akan hal itu, yang penting dapat untung, kebijakan apapun, benar atau salah, akan dibuatnya.

Fir’aun memang seorang raja yang sangat berkuasa, tetapi dirinya tidak sadar kalau dipengaruhi, dicucuk hidungnya bak kerbau sehingga mudah dikuasai. Tidak lain adalah Haman yang mengendalikan Fir’aun. Duet raja zalim dan politikus busuk mencatatkan tinta hitam prestasi buruk raja Fir’aun.

Perlu diketahui, posisi Haman dan komplotannya dalam kerajaan Fir’aun hampir sama dengan kabinet menteri yang kita kenal sekarang. Seperti dijelaskan dalam al Qur’an.

“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah wahai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta” (QS. al Qashash: 38).

Al Malaa’u dalam ayat ini adalah sebutan untuk pembesar-pembesar kerajaan dan Haman sebagai pemimpinnya. Karena orientasi Haman dan sekutunya tidak lain keuntungan dan duit, kebijakan apapun, tidak masuk akal sekalipun, akan didukung sekalipun akibatnya terhadap pemerintahan sangat fatal.

Setiap kisah yang diceritakan dalam al Qur’an adalah ibrah (pelajaran) bagi kita semua. Tentu, reinkarnasi Haman akan ada di setiap masa, di setiap negara di belahan bumi ini Haman dan komplotannya selalu hadir. Siapa? Politikus bandit yang mencari keuntungan dengan berlindung dibalik penguasa. Mereka yang menempuh segala cara demi mendapatkan keuntungan, sekalipun harus menipu bahkan membunuh.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

sunat perempuan

Hukum Fikih tentang Sunat bagi Perempuan

Sunat atau khitan pada perempuan merupakan fenomena sosial yang bisa ditemukan diberbagai belahan dunia, termasuk …

mendidik anak

Supaya Sukses Mendidik Anak, Kenali Empat Model Anak dalam al Qur’an

Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya bergembira, bukan murung atau menanggung sedih tak berujung. Mereka ingin …