hari anak nasional dalam al-quran
hari anak nasional

Hari Anak Nasional Selaras Perhatian Al-Quran terhadap Anak, Ini Buktinya

 Sesungguhnya usaha yang paling baik untuk dinikmati adalah hasil jerih payah tangan sendiri dan seorang anak adalah merupakan usaha dari orang tuanya”(H.R. Ahmad).

 

Setiap tanggal 23 Juli bangsa Indonesia memperingati hari Anak. Peringatan ini selaras dengan peringatan nasional lainnya seperti hari ibu, hari pahlawan dan hari kemerdekaan. Peringatan menjadi penting sebagai pengingat agar kita selalu mempunyai pedoman. Sejatinya, tidak perlu mencari dalil untuk menghukumi peringatan nasional seperti itu. Kadang kita juga harus mencari dalil untuk persoalan yang sejatinya itu bermanfaat.

Peringatan Hari Anak Nasional adalah sebuah momentum mengingat untuk selalu peduli dengan anak. Semangat ini sesuai dengan semangat al-Quran yang berperan penting sebagai pengingat dan pedoman bagi manusia. Bahkan al-Quran, memberikan perhatian terhadap anak sebagai pengingat bagi umatnya.

Al-Quran ternyata mempunyai perpsepktif yang ramah dan peduli terhadap anak. Banyak sekali cerita-cerita dalam al-Quran yang menggambarkan tentang anak. Al-Quran menceritakan kisah anak-anak Nabi dari kecil seperti Nabi Ismail dan Nabi Yusuf. Bahkan ada surat khusus tentang nasehat Lukman yang sangat luar biasa yang menjadi pedoman dalam memberikan perhatian dan kepedulian terhadap anak.

Selain kisah-kisah itu, Al-Quran juga memberikan beberapa kriteria penting bagaimana manusia mendidik anak. Al-Quran memberikan beberapa kategori anak agar kitab isa memberikan pengarahan dan tujuan mendidik anak.

Anak Memperindah Tatanan Keluarga

Al-Quran mendudukan anak sebagai perhiasan dunia. Dalam Al-Quran disebutkan, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, namun amal yang kekal dan shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS: Al-Kahfi:46)”.

Banyak sekali keluarga yang tidak mempunyai anak dan selalu berusaha untuk memilikinya. Bersyukurlah mereka yang mempunyai anak sebagai bagian kebahagian dan hiasan keluarga. Anak adalah buah kebahagiaan yang tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan. Perhiasaan dunia dan keluarga harus terus dirawat agar ia menjadi penghias sepanjang masa.

Baca Juga:  Fikih Waria : Lucinta Luna, Pria atau Wanita, atau Wanita Pria?!

Anak sebagai Penyejuk Keluarga dari Hingar Bingar Masalah

Al-Quran juga mendudukkan anak sebagai penyejuk mata atau hati (qurrata a’yun). “Ya Tuhan kami, anugerahi kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami pemimpinan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS: Al-Furqan: 74).

Anak adalah karunia yang memberikan kesejukan dalam keluarga. Orang tua pulang ke rumah dengan pekerjaan yang melelahkan dapat tersenyum ketika melihat anaknya yang shaleh dan shalehah menyambut dengan kesopanan dan kasih sayang. Anak adalah penyejuk penat orang tua dari hingar bingar masalah.

Anak sebagai Ujian Keimananmu

Selain sebagai anugerah, anak juga menjadi sarana Tuhan memberikan ujian keimanan kepada manusia. Allah berfirman, “Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah ujian.”(QS: Al-Anfal:28). Dalam ayat lain Allah mengingatkan setiap orang tua yang beriman: ”Janganlah sampai harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS: Al-Munafiqun:9).

Terkadang demi alasan anak orang tua bisa melakukan apapun bahkan hal yang dilarang agama dan melanggar keimanan. Anak adalah ujian keimanan. Memberikan kebahagian terhadap bukan berarti mengorbankan segalanya.

Jangan Sampai Anak Menjadi Musuh Orangtua

Terkadang anak juga bisa menjadi musuh orang tua. Al-Quran telah memberikan peringatan untuk tidak salah mendidik anak.  “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.”. (QS: At-Taghabun:14).

Ketika anak sudah melakukan pembangkangan di situlah ia menjadi musuh orang tua. Namun, bukan berarti anak harus dilawan dengan kekerasan. Pada momen inilah sejatinya, orang tua bisa berintropeksi diri bahwa ada kesalahan dalam mendidik anak.

Baca Juga:  Kartini dan Tafsir Fāiḍ al-Raḥmān :

Sejak awal Nabi telah mengatakan bahwa ”Setiap anak itu dilahirkan menurut fithrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (H.R. Bukhari). Orang tua dan lingkungan yang membentuk karakter, perilaku dan sifat anak.

Karena itulah, anak bukan obyek sasaran kesalahan, tetapi bagaimana metode orang tua sejak dini harus memperhatikan proses pembentukan sifat, watak dan perilaku anak. Orang tua harus selalu berusaha mendidik dengan baik. Dan ingatlah kekuatan doa untuk selalu memanjatkan doa agar anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah berbakti kepada orang tua, agama dan negara.

Selamat Hari Anak Nasional 2022

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

menteri agama menag yaqut cholil qoumas memberikan pesan khusus

Menag Sepakat IPNU Sebagai Benteng Penghalau Radikalisme di Sekolah

JAKARTA – Salah satu pintu masuknya radikalisme di dunia pendidikan yaitu melalui kegiatan ekstra kulikuler …

salman rushdie diserang

Salman Rushdie Ditikam Berkali-kali Hingga Terancam Nyawa, Media Iran Puji Penikamnya: Bravo

Jakarta – Salman Rushdie penulis novel ‘The Satanic Verses’ Ayat-ayat setan telah lama mendapatkan ancaman …