Ahmadiyah
Ahmadiyah

Haruskah Afirmasi Hak Beragama Ahmadiyah? [1]: Sejarah Berdirinya Ahmadiyah

Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang akan mengafirmasi kelompok Syiah dan Ahmadiyah menuai kontroversi di masyarakat. Bahkan sebagian ada yang menilai bahwa pernyataan tersebut terkesan tergesa-gesa dan akan menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.

Belakangan, Menag Yaqut Cholil Qaumas mengklarifikasi pernyataannya sebagaimana yang sudah beredar luas di masyarakat dan kadung menjadi ‘isu’ liar. Ia menegaskan bahwa sebagai warga negara, bukan hanya jemaah Syiah dan Ahmadiyah yang mendapatkan perlindungan, melainkan semua warga negara sama di mata hukum.

Perkembangan mutakhir keberagamaan sebagaimana di atas memantik penulis untuk menggali lebih dalam tentang jemaah Ahmadiyah. Harapannya, masyarakat dapat memperoleh informasi yang utuh terkait sepakterjang dan lainnya tentang jemaah Ahmadiyah. Informasi ini penting untuk masyarakat agar tidak mudah terjebak pada isu yang seringkali dibumbui dengan motif-motif tertentu.

Sejarah Berdirinya Ahmadiyah

Jemaat Ahmadiyah pertama kali didirikan pada tahun 1889 M (1306 H), di Qadian, India, oleh Mirza Ghulam Ahmad (M. Solikhin, 2013: 76). Secara singkat, dapat dikemukakan bahwa perjalanan spiritual MGA (Mirza Ghulam Ahmad) sebelum mendirikan Ahmadiyah dapat ditelisik dari beberapa peristiwa, seperti pada tahun 1886 H, ia melakukan khalwat di Hoshiapur selama 40 hari dan kemudian mendakwakan diri sebagai mujaddid Muslim, dengan pengakuan atas bimbingan Allah Swt. (M. Burney, 1955: 10-20).

Kemudian pada tahun 1908 M, ia menulis risalah Al-Wasiat. Dalam risalahnya itu, MGA meramalkan kewafatannya dan berwasiat untuk merumuskan perjuangan Islam dengan mengorbankan harta dan jiwanya. Pada usia 40 tahun, MGA mengaku bermimpi kedatangan malaikat dan menasihatinya agar menjalankan ibadah puasa sesuai dengan sunnah para Rasul Allah dan waliyullah untuk memungkinkan dirinya menerima rahmat Ilahi. Oleh karena itu, ia pun menjalankan puasa delapan atau sembilan bulan lamanya. (M. Sholikhin, 2013: 75-77).

Baca Juga:  Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (1) : Mengenal Tauhid Ala Salafi Wahabi

Berdasarkan proses kemunculannya dan konsep doktrinialnya, Ahmadiyah bisa disebut sebagai salah satu sekte dalam Islam. Sebagaimana yang diyakini oleh Jemaat Ahmadiyah, bahwa ajaran utamanya bertumpu pada posisi Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Mahdi dan al-Masih, sebagai juru selamat manusia di akhir zaman. (Hazrat Mirza Thahir Ahmad, 1986). Pandangan Ahmadiyah, bahwa Nabi Isa putra Maryam telah wafat sebagaimana manusia secara alamiah atau wajar. Doktrin ini diambil dari hadi nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah:

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “bagaimanakah (sikap) kamu sekalian apabila Ibnu Maryam datang (bersamamu), sedangkan imammu berasal dari kalananmu. [HR. Bukhari, No. 325].

Hadis tersebut dipahami bahwa, kata “imam” menunjukkan pada kedatangan seorang penolong dari umat Islam sendiri, bukan dari golongan lain seperti Bani Israil. (Iskandar Zulkarnain, 2005: 34). Khalifah Masih ke-II pun menguatkan akan pemahaman ini, bahwa Ghulam Ahmad adalah sosok seorang yang mempunyai perangai kenabian yang dijanjikan untuk menjadi imam (khalifah). (Basyirudin Mahmud Ahmad, 1980: 30).

Dengan demikian, keseluruhan proses dakwah dan perjuangan yang dilakukan oleh kelompok Ahmadiyah semua diorientasikan dalam rangka proses penyelamatan manusia oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Masih yang dijanjikan. (Rahmat Ali, 1992: 97).  Penyelamatan oleh Imam Mahdi akhir zama ini pula-lah yang menjadi inti keseluruhan dakwah Ahmadiyah.

Bentuk kegiatan Jemaat Ahmadiyah adalah memperjuangkan dan mengembangkan ide-ide kemahdian dan mencapai cita-citanya, yaitu mendakwahkan MGA sebagai Nabi dan memang jemaat Ahmadiyah menghormati MGA selayaknya seorang rasul Allah. (H.A.R. Gibb, 1995: 104).

Pada perkembangannya, dalam doktrin Ahmadiyah terdapat konsep khilafah. Namun, konsep khilafah Ahmadiyah berbeda dengan konsep khilafah kelompok atau organisasi Islam lainnya. Doktrin khalifah al-Masih didasarkan dan dimotivasi oleh wasiat Mirza Ghulam Ahmad mengenai keharusan khalifah yang menggantikannya.

Baca Juga:  Adab Menghadapi Pemimpin : Oposisi Yes, Caci Maki No!

Selain itu juga didasarkan pada hadis Nabi yang menggambarkan hakikat seorang khalifah dibandingkan dengan pemimpin negara. (lihat Mirza Ghulam Ahmad, Filsafat Ajaran Islam, terj. Mukhlis Ilyas, Neratja Press). Munculnya institusi khilafat ini sebagai bentuk perintah yang disampaikan oleh MGA sebelum meninggal dunia, sebagaimana yang ia tulis dalam Al-Wasiat.

Sebagaimana dijelaskan oleh Kunto Sofianto (2009: 73), khalifatul Masi I sebagai penerus MGA adalah Hakim Nuruddin (1908-1914), Khalifatul Masih II adalah Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (1965-1982), Khalifatul Masih III adalah Mirza Nasir Ahmad (1982-2003) dan Khalifatul Masih V, yakni Mirza Masroor Ahmad (2003-sekarang–2020).

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir