tertawa melebihi batas
tertawa melebihi batas

Hati-Hati, Jangan Melucu dengan Berbohong dan Tertawa Melebihi Batas

Tertawa ialah perilaku manusiawi. Seringkali seseorang mengekspresikan kegembiraan terhadap sesuatu dengan tertawa. Banyak orang sampai tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan atau mendengar sesuatu yang lucu Tak sedikit pula orang-orang di antara kita menjadikan melucu demi menghasilkan uang. Lantas, bagaimana Islam menyikapi fenomena melucu dan apakah ada batasan untuk tertawa?

Islam sebagai agama sempurna dan rahmatanlil’alamin  tentu memberikan pedoman kepada pemeluknya agar senantiasa selamat dunia dan akhirat. Sebagai ajaran, Islam pun selalu tidak merekomendasikan hal-hal yang melebihi batas. Selain tentunya mengharamkam hal-hal yang berbau kebohongan dalam segala rupa.

Haram Melucu dengan Dasar Berbohong

Manusia yang diciptakan lengkap dengan perasaan-perasaan dan pengekspresiannya ini seyogyanya harus tahu juga bagaimana cara mengaturnya agar nantinya tak membahayakan dirinya. Sebagaimana membuat orang bahagia, sampai dengan tertawa sebenarnya baik. Namun jika dilakukan dengan dasar berbohong, seperti itu malah haram hukumnya.  Allah menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl [16]: 105).

Betapapun niat kita baik, namun jika dilakukan dengan cara buruk, maka hasil akhirnya akan buruk pula. Niat kita ingin suasana yang hening atau kacau menjadi riang gembira itu bagus. Supaya perasaan hati orang-orang disitu menjadi penuh semangat dan memunculkan aura positif. Akan tetapi candaan atau melucu yang kita lakukan itu dengan mengarang-ngarang cerita, apalagi membuka aib seseorang, itulah yang tak diperbolehkan.

Sekedar dan sewajarnya saja kita buat orang lain gembira. Karena sesungguhnya yang membuat seseorang merasakan kelucuan atau kegembiraan adalah dalam dirinya sendiri Yakinlah, tanpa memaksakan berbohong pun kita pasti akan membuat orang lain yang merasa galau jadi tertawa gembira. Jangan sampai, rumah yang dijanjikan nabi SAW untuk orang-orang yang berakhlakul karimah, termasuk orang yang melucu tanpa berbohong itu sirna. Nabi SAW bersabda:

Baca Juga:  Khutbah Jumat Singkat Tanda Khatib Paham Agama

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir Surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun mengandung kebenaran. Aku juga menjamin rumah di tengah Surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan meskipun bercanda. Dan rumah di puncak Surga bagi siapa saja yang memperbaiki akhlaknya (sampai berakhlakul karimah atau akhlak yang baik)”. (HR. Abu Dawud)

Jangan Tertawa Melebihi Batas

Yang jadi contoh sempurna umat Islam berperilaku, tentu saja nabi SAW. Segala perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau semasa hidupnya inilah yang jadi pegangan kita umatnya. Mengenai tertawa, nabi SAW pun pernah melakukannya. Karena beliau juga sama dengan kita, sama-sama manusia yang diberi Allah berbagai perasaan hati. Namun yang digaris bawahi disini adalah beliau selalu mengatur perilakunya untuk tidak melebihi batas.

Nabi SAW jarang tertawa, apalagi sampai terbahak-bahak. Beliau seringnya itu tersenyum. Karena menebar senyum jauh lebih bermanfaat dan bernilai pahala. Namun apabila sampai keceplosan tertawa, pasti nabi SAW akan menutup lisannya agar tak kelihatan giginya. Karena beliau tahu, seringnya tertawa dan bahkan sampai terbahak-bahak itu kategori melebihi batas, yang  akan berakibat fatal. Nabi SAW pun berpesan dalam sebuah hadist:

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati” (HR. At-Tirmizi)

Selain berakibat matinya hati, tertawa melebihi batas juga berakibat seseorang melupakan kematian. Artinya orang tersebut akan melalaikan bekal kematiannya, yang tak lain tak bukan adalah ibadah dan amal saleh. Nabi SAW juga bernah mengingatkan untuk menyedikitkan tertawa dan perbanyak menangis, agar meniru beliau. Ibnu Umar RA meriwayatkan nabi SAW bersabda:

“Ingatlah demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku ketahui niscaya kamu sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Terakhir, pesan peringatan yang sama juga pernah disampaikan oleh nabi Musa AS mengenai hal di atas. Pesan itu tercantum dalam shuhuf atau lembaran kitab Nabi Musa AS. Dikatakan:

Baca Juga:  Berikut Cara Menyikapi Rindu dalam Islam

“Aku heran kepada orang yang meyakini adanya neraka, bagaimana ia bisa tertawa?Aku heran kepada orang yang yang meyakini kematian, bagaimana ia bisa gembira?Aku heran pada orang yang meyakini takdir, bagaimana ia susah? Aku heran dengan orang yang meyakini sirnanya dunia dan penghuninya akan tertbalik, bagaimana ia merasa tenteram di dunia?. [ Faidh al-Qadiir I/124 ]. Wa Allahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

lelah

Jangan Khawatir, 7 Lelah Inilah yang Disukai Allah

Pasti kita sudah familiar dengan kalimat “biar lelah asal lillah” atau “semoga lelah ini membawa …

penyebaran hoax

Tafsir Surat An-Nur Ayat 15 : 3 Cara Penyebaran Hoax yang Wajib Diwaspadai

Mudahnya mendapatkan berita atau informasi dewasa ini selain berdampak baik bagi kehidupan bermasyarakat, juga diketahui …