hidayah adalah misteri ilahi
hidayah adalah misteri ilahi

Hidayah adalah Misteri Ilahi, Manusia Hanya Berdakwah

Hidayah merupakan pangkal dari segala kebaikan. Biasanya identik dengan dimulainya kebaikan dalam diri seseorang. Terkadang ada istilah “sudah dan belum mendapat hidayah”. Hidayah terkait dengan keteguhan keimanan seseorang. Namun, dalam menggapai hidayah, manusia tidak mungkin bisa mencapai dan memberikannya kepada orang lain karena ia merupakan wewenang Allah yang diberikan kepada makhluk yang dipilih.

Terkadang hidayah datang tidak terduga. Banyak cerita orang masuk Islam hanya dengan mendengar al-Quran atau mendengar adzan. Tetapi banyak pula mereka yang sudah berdampingan dengan bunyi al-Quran dan keramaian adzan juga tidak mampu terketuk. Hidayah adalah misteri ilahi.

Terdapat tiga tingkatan hidayah menurut Imam Ghazali. Pertama, berupa kemampuan mengenal dan membedakan kebaikan dan keburukan. Kemampuan ini sesungguhnya diberikan oleh Allah kepada semua manusia baik melalui kecerdasan intelektualnya maupun melalui informasi dari para Nabi dan Rasul Allah.

Kedua, berupa peningkatan kualitas hidup manusia yang terus membaik dari waktu ke waktu. Kualitas hidup itu meliputi kualitas iman, kualitas ilmu, dan kualitas kerja.

Ketiga, berupa pencerahan jiwa. Orang yang memperoleh hidayah dalam bentuk ini mencapai tingkat kesempurnaan dan kematangan jiwa. Pikiran dan jiwanya menjadi terang, bahkan seluruh hidupnya menjadi terang benderang karena pencahayaan Ilahi yang tidak pernah putus.

Kisah Misteri Hidayah

Terdapat kisah menarik yang menceritakan tentang keutamaan hidayah yang bisa kita teladani. Kisah tentang Abu Thalib dan Umar bin Khatab yang memiliki cerita bertolak belakang mengenai hidayah yang diberikan Allah. Abu Thalib yang merupakan paman Nabi Muhammad yang telah banyak memfasilitasi dalam menyebarkan risalah Islam pada masa awal Islam dikenalkan oleh Nabi Muhammad. Bukan hanya memfasilitasi, namun Abu Thalib juga melindungi Nabi Muhammad dari banyaknya serangan dari kaum Quraisy, namun sayangnya ketika beliau meninggal dunia dalam keadaan belum masuk Islam.

Baca Juga:  Keutamaan Umat Nabi Muhammad SAW dalam Kitab Taurat

Sebaliknya, Umar bin Khatab yang dengan tegas dan terang-terangan memusuhi syiar yang dilakukan oleh Rasulullah, bahkan sempat memiliki niat untuk membunuh Rasulullah, namun dengan membaca surah Thaha, Beliau seperti terhipnotis dengan kandungan ayat tersebut dan membuatnya tergerak untuk mengikuti Rasulullah dengan langkah awal mengislamkan diri “bersyahadat” di depan Rasulullah.

Di sinilah letak misteri kehidupan terutama menyangkut hidayah Allah. Meskipun Rasulullah terus menerus berdoa untuk Abu Thalib dan Umar bin Khatab untuk dilunakkan hatinya dan mau mengkaruniakan hidayah kepada keduanya, namun tetap saja kuasa ada di tangan Allah. Doa Rasul kepada Allah agar mengaruniakan hidayah kepada pamannya Abu Thalib tidak dikabulkan-Nya. Sedangkan doa untuk Umar dikabulkannya.

Dalam surat Al-Qashash ayat 56 Allah menjelaskan, “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Maksud dari ayat tersebut ialah, sesungguhnya Rasulullah tidak memiliki kuasa berupa hidayah, karena kuasa tersebut berada di tangan Allah, Dia memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya untuk menuju keimanan. Allah lebih mengetahui orang-orang yang pantas menerima hidayah.

Dakwah dan Hidayah

Yang perlu diperhatikan, kewajiban dari seorang manusia hanyalah menyampaikan dakwah dengan cara yang baik. Masalah keimanan tergantung dari kuasa Allah siapa yang nantinya akan diberikan taufiq serta hidayahnya. Maka ketika kita sudah mencoba berusaha menyampaikan kebenaran dan mengingatkan dalam kebaikan sudah gugur kewajiban kita, sekalipun orang yang kita dakwahi adalah orang yang sangat kita cintai.

Tertuliskan dalam surat an-Nahl ayat 125, Allah berfirman, “Suruhlah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan merek adengan cara yang paling baik dan ramah”.

Inilah tuntunan kita dalam menyampaikan dakwah. Tak boleh menyampaikan dakwah yang mengandung unsur ancaman, memaksa, terlebih di jalan kekerasan. Allah telah memberikan suri tauladan yang baik yakni Nabi Muhammad SAW. Sudah sepantasya kita sebagai umatnya untuk menjadi umat yang sombong dengan meyampaikan dakwah dengan cara kekerasan karena Nabi Muhammad tidak pernah sekalipun memberikan contoh yang buruk kepada umatnya.

Baca Juga:  7 Alasan Doa tak dikabulkan oleh Allah

Dalam menyebarkan ajaran Islam yang paling efektif adalah bukan dengan paksaan, ancaman, dan kekerasan, tetapi dengan akhlak mulia. Kekerasan tidak efektif untuk membangunkan kesadaran, tapi sangat efektif untuk melahirkan kekerasan baru. Alasannya, dalam setiap manusia mempunyai naluri untuk membela diri mereka bila diserang. Kekerasan dirasakan sebagai penyerangan, sedangkan akhlak mulia dirasakan sebagai persahabatan.

Dakwah pada akhirnya bukan untuk memberikan hidayah, tetapi mengajak pada jalan menjemput hidayah. Namun, pemberian hidayah sepenuhnya datang dari Allah. Manusia tidak bisa memberikan hidayah sekalipun dengan paksaan. Berdakwahlah dengan sungguh-sungguh dan selanjutnya serahkan pada Allah untuk memberikan hidayah.

 

Bagikan Artikel ini:

About Ernawati

Avatar of Ernawati

Check Also

sunan kalijaga

Sunan Kalijaga dan Tradisi Unik di Hari Raya Idul Adha

Terdapat tradisi yang cukup unik yang datang dari keluarga besar Sunan Kalijaga di setiap 10 …

doa dan air mata

Doa dengan Air Mata Menembus Batas Dimensi: Yang Mustahil Menjadi Berhasil

Doa bukan sekedar permintan tetapi memberikan makna tersendiri bagi umat beragama, termasuk muslim. Doa merupakan …