10 Tuntunan bagi Istri dalam Membina Keluarga Bahagia

Dr. Ali Yousif Al Subki dalam bukunya “ Nizamul Usra fil islam” mengatakan bahwa sebuah kehidupan keluarga tidak akan bahagia tanpa mengetahui hak dan kewajiban antara pasangan dalam keluarga. Hak suami adalah kewajiban istri dan hak istri adalah kewajiban suami dan juga ada hak dan kewajiban bersama bagi keduanya.

Sebuah pasangan yang memahami hak dan kewajiban masing-masing sudah barang tentu akan menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmat serta akan melahirkan generasi-generasi yang baik, bermoral dan berakhalakul karimah. Akan tetapi, sebaliknya jika kedua pasangan dalam rumah tangga tidak mengerti dan tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing sudah barang tentu kehidupan kelurganya akan jauh dari kebahagian dan kedamaian.

Bahaya yang akan timbul  apabila tidak ada kesetaraan hak dan kewajiban yang ada hanya kecurigaan, ketidak percayaan dan pada gilirannya akan menciptakan kehidupan keluarga yang tidak harmonis, lanngen dan bahagia serta akan melahirkan generasi-generasi yang tidak akan berakhlak mulia. Ali Yousif dalam bukunya itu secara rinci menjelaskan semua hak dan kewajiban kedua pasangan termasuk dalam memlilih pasangan namun untuk kali ini, penulis hanya akan menampilkan 10 tuntunan yang merupakan hak suami dan kewajiban istri dan pada tulisan selanjutnya akan disampaikan hak istri dan kewajiban suami.

1.    Kepemimpinan

Islam menggariskan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan mengingat karakteristik laki-laki itu sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan perempuan. Laki-laki memiliki postur tubuh yang lebih tahan dibanding dengan perempuan dan jiwa yang tabah serta sabar dalam menghadapi beban dan tanggung jawab.  Dalam surah An Nisa ayat 34, Allah berfirman “ Laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena kemuliaan yang telah diberikan atas sebagaian dari sebagian yang lain dan dan atas apa yang mereka belajankan dari hartanya

Dalam kehidupan keluarga, suamilah yang memiliki hak untuk menjadi pemimpin dan istri berkewajiban mentaatinya sehingga kehidupan keluarga berjalan dengan baik, karena jika terdapat dua pemimpin dalam satu rumah tangga, maka yang akan muncul adalah pertikaian. Akhirnya, pada gilirannya akan memberikan pengaruh negatif terhadap kehidupan anak-anak.

2.    Mentaati dalam hal yang bukan maksiat

Mengikuti keinginan dan perintah suami merupakan kewajiban bagi sang istri selama dalam hal-hal yang wajar dan tidak bertentangan dengan syariat agama. Istri tidak boleh menentang dan mengabaikan perintah suaminya termasuk dalam urusan sekecil apapun. Dalam Hadis Rasullulah Saw yang diriwayatkan oleh Abi Aufi ra berkata bahwa ketika Muaz bin  Jabal tiba dari Syam, ia langsung bersujud di depan Rasulullah Saw, lalu Rasulullah mengatakan kenapa ini apa wahai Muaz. Muaz menjawab wahai Rasulullah sesugguhnya saya baru saja datang dari Syam dan saya menemukan para pendeta mereka bersujud kepada Uskupnya.  Karena itu, saya juga ingin melakukan hal itu kepadaMu wahai  Rasulullah. Lalu Rasululah mengatakan jangan lakukan itu karena sesungguhnya seandainya saya memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, maka saya akan memerintahka istri untuk bersujud  kepada suaminya  dan demi jiwaku yang digemgam  oleh Allah bahwa seorang  istri tidak akan dapat menunaikan haknya terhadap tuhannya kecuali ia memberikan hak  suaminya. Wanita yang taat kepada suaminya tidak akan disentuh api neraka. Rasulullah saw bersabda ada tiga kelompok yang tidak akan disenuh api neraka, wanita yang taat kepada suaminya, anak yang berbakti kepada orang tuanya dan hakim yang adil. 

3.   Mematuhi kebijakan dalam rumah tangga

Seorang istri harus mematuhi apa yang diterapkan oleh seorang suami dalam rumah tangga dan boleh lalai terhadap ketentuan dan kebijakan tersebut. Misalnya masalah tatakrama dalam rumah tangga khususnya saat menerima tamu atau menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang lain di rumah sendiri atau di rumah orang lain. Para ulama sepakat bahwa jika seorang istri mengabaikan ketentuan suaminya maka kewajiban memberi nafkah kepadanya bisa gugur. Karena itu seorang istri harus patuh dan konsisten terhadap apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh suaminya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan syariat.

4.    Tidak boleh berpuasa kecuali atas izinnya  

Dalam satu kisah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwanya seorang wanita dari suku khatsan mendatangi Rasulullah Saw, lalu dia mengatakan wahai Rasulullah beritahukanlah kepadaku tentang hak suami atas istrinya. Saya masih gadis karena itu jika saya anggup maka saya akan melakukannya dan jika tidak maka saya tidak akan menikah. Rasulullah bersabda bahwa hak suami atas istrinya jika ia meminta maka ia harus melayaninya dan jika dia sudah mendatanginya maka ia tidak ada alasan mencegahnya, dan hak suami atas istrinya tidak boleh berpuasa sunnat kecuali atas izinnya dan jika ia tetap melakukannya maka puasanya tidak akan diterima dan tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali atas izinnya dan jika ia melakukannya maka malaikat di langit, malaikat rahmah dan malaikat azab akan melaknatinya hingga ia kembali ke rumahnya.  Lalu perempuan khatsan itu mengatakan tidak apa apa dan saya  tidak akan menikah selama-selamanya

5.    Tidak menerima tamu asing ketika suaminya sedang diluar

Salah satu hak suami atas istrinya adalah tidak mengizinkan seseorang yang tidak disukai atau orang asing memasuki rumahnya baik ketika ia ada dalam rumah maupun ketika ia sedang di luar. Hal ini untuk menghindari prasangka buruk bagi suami yang dapat menciptakan fitnah dalam kehidupan keluarga.

Baca juga : Perhatikan 8 Hal agar Menjalankan Shalat dengan Khusu’

Rasulullah saw bersabda bahwa “ tidak boleh seorang istri yang beriman mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya sementara suaminya tidak menyukainya. Rasulullah Saw saat khutbah wada di Arafah mengingatkan kepada umatnya bahwa  kalian punya hak atas istrimu dan istrimu juga punya hak  atas kalian dan salah satunya adalah tidak mengizinkan orang masuk ke dalam rumah kalian yang tidak sukai oleh suami kalian

6.     Melakukan apa yang disenangi suami

Istri yang patuh dan taat kepada suaminya akan senantiasa menggembirakan suaminya dengan melakukan hal-hal yang disenangi oleh suaminya. Dengan demikian rasa cinta dan sayang akan selalu muncul dalam hati seorang suami. Oleh karena itu seorang ayah dan ibu yang memiliki anak perempuan sejatinya mengajarkan kepada anak-anak perempuannya tentang hal-hal yang disenangi laki-laki dalam kehidupan keluarga sehingga nantinya jika berkeluarga akan mengerti dan mengetahui apa saja yang disenangi suaminya sehingga kehidupan keluarga mereka selalu damai dan bahagia.

7.    Setia terhadap suami

Setia adalah salah satu sifat terpuji dan yang paling didambakan oleh seorang laki-laki. Seorang suami yang baik selalu berharap agar istrinya setia kepadanya baik di saat ia bahagia atau disaat dia kaya maupun di saat dia miskin dan susah. Istri yang setia akan selalu mengerti kondisi yang dialami suaminya dan akan selalu mendukung dan membesarkan hati suaminya di saat suaminya sedang mengalami cobaan. Istri selalu menjadi pendamping yang setia dalam kondisi apapun yang dialami istrinya termasuk ketika ia sakit selalu melayani dan berada di sampingnya. Bukan sebaliknya menjadi musuh ketika ia sedang dalam kesusahan dan memberikan beban ketika ia sedang lemah atau sakit.   

8.    Berhias untuk suaminya

Memakai wangi-wangian dan pakaian-pakaian yang indah merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan oleh seorang istri selama dalam batas-batas kewajaran dan tidak berlebihan, karena cara itu akan membuat hati seorang suami bahagia dan senang melihat istrinya. Namun yang perlu dicatat di sini bahwa hiasan dan wangi-wangian itu dikhususnya kepada suaminya. Banyak istri yang begitu pandai mengkhiasi diri dan memakai wangi-wangian ketika ingin bepergian atau menghadiri kondangan akan tetapi jika sebaliknya ia sedang berada dalam rumahnya bersama suaminya justri mengabaikan hal itu. Kebiasaan ini sebaiknya lebih mengutamakan ketika ia sedang bersama suaminya sehingga suaminya selalu tertarik kepada istrinya.

9.    Memberikan waktu yang luang

Seorang suami berhak mendapatkan waktu-waktu luang dari istrinya untuk beristirahat. Jika ia seorang pekerja atau pegawai kantoran maka ia membutuhkan waktu-waktu luang untuk beristirahat untuk menghilangkan beban kerja di kantor atau tekanan yang diamali selama dalam jam kerja. Ia membutuhkan tenaga dan memulihkan kondisi badannya setelah bekerja seharian penuh mencari rezeki. Jika ia seorang ilmuwan atau akademisi ia membutuhkan waktu-waktu senggan untuk membaca dan merefresh pikirannya agar selalu tenang dan konsentrasi memikirkan tugas-tugasnya. Bukan sebaliknya ketika suami tiba di rumah dibebani dengan berbagai tugas karena yang demikian itu akan membuat suami semakin lelah dan dapat menimbulkan kekesalan pada istri dan anak-anaknya.  

10.   Menahan diri atau berkabung setelah suaminya meninggal

Seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, maka ia wajib berkabung selama 4 bulan 10 hari. Ini artinya ia tidak diperbolehkan berhias diri, keluar dari rumah sebelum masa itu berakhir atau yang disebut masa iddah. Saat ini banyak wanita-wanita menganggap hal seperti itu sebagai hal biasa padahal dalam Islam dilarang keras karena yang demikian itu dapat menimbulkan fitnah. Hikmahnya agar selama masa itu seorang istri yang ditinggal mati suaminya terlebih dahulu bersih dari hal-hal yang memungkinkan adanya bibit-bibit dalam rahim seorang istri yang sudah ditinggal mati suaminya karena khawatir jika ada orang lain yang melamarnya.

Comment

LEAVE A COMMENT