Antara Malu Dan Tidak Tahu Malu

Antara Malu Dan Tidak Tahu Malu

Dari Abdullah bin Umar berkata, "Rasulullah bersabda, "Malu termasuk sebagian dari iman." (Muttafaq Alaih)

Secara bahasa, haya' atau malu berarti perubahan perasaan yang terjadi pada seseorang karena takut dirinya dicela. Dalam syariat Islam, malu merupakan akhlak yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan buruk dan mencegahnya dari hal-hal yang dapat melanggar hak orang lain.

Rasa malu adalah sifat yang melekat pada seseorang, ia ada pada manusia secara alamiah. Meskipun malu itu adalah naluri dan alamiah, namun penggunaannya menurut konteks syariat perlu disertai ilmu dan niat. Oleh karena itu, rasa malu disebut bagian dari iman.Karena sifat alamiahnya, terkadang rasa malu itu muncul dari sebuah usaha, muktasib. Artinya, ia bisa diupayakan oleh manusia.

Makna rasa malu sebagai bagian dari iman adalah seorang yang memiliki rasa malu, maka orang tersebut akan mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, sehingga fungsinya sama seperti iman yang dapat mencegahnya dari perbuatan maksiat pula.

Ibnu Qutaibah berkata, "Maksud hadis di atas, rasa malu yang ada pada diri seseorang akan mencegah dirinya dari perbuatan tercela yang dilarang oleh agama, sebagaimana juga iman yang dapat mencegahnya dari perbuatan yang sama. Malu juga disebut sebagai iman karena malu menempati posisi iman dan berfungsi seperti layaknya iman. Perasaan malu merupakan gabungan dari sifat takut dan menjaga kehormatan. Di dalam hadits yang lain disebutkan:

"Perasaan malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan."

Yang dikehendaki oleh hadis ini adalah sifat malu yang syar'i. Sebab perasaan malu yang mengakibatkan seseorang tidak melakukan kewajiban tidak termasuk dalam kategori malu menurut istilah syar'i. Bahkan, itu merupakan sifat yang lemah dan terhina. Hanya saja tetap dikatakan sebagai rasa malu karena ada kemiripan dengan sifat malu menurut istilah syar'i.

Baca Juga : Bahaya Penyakit Bakhil (Kikir) dan Obat Penawarnya

Argumen lain, bahwa kebaikan itu lebih banyak terdapat pada diri seorang pemalu. Atau jika seseorang memiliki sifat pemalu berarti ia memiliki sifat yang baik, walaupun terkadang ia melakukan kekeliruan.

Al-Qurthubi berkata dalam kitab al Mufhim fi Syarhi Muslim, "Rasulullah memiliki dua sifat malu; pertama,  malu muktasib, yakni malu melakukan perbuatan maksiat. Kedua, malu ghariizi, yaitu tabiat atau naluri. Sifat malu ghariizi yang ada pada diri beliau menyebabkan beliau lebih pemalu daripada seorang perawan yang berada di tempat pingitannya. Sedangkan sifat malu muktasib membawa Rasulullah kepada derajat yang paling tinggi.

Bila Rasa Malu Sudah Hilang

Kebalikan dari malu adalah tidak tahu malu. Dari Abu Mas'ud berkata, "Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya sebagian yang ditemukan oleh manusia dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: Apabila engkau tidak tahu malu kerjakanlah apa yang engkau mau." (HR. Al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan perkataan nabi-nabi terdahulu adalah perkataan yang disepakati oleh seluruh nabi dan tidak dimansukhkan (dihapus) seperti syariat-syariat mereka yang lain. Karena apa yang tertera di dalam hadits adalah perkara yang sesuai untuk akal seluruh umat manusia.

Ada dua pendapat yang bisa dikemukakan tentang maksud sabda beliau, "kerjakanlah apa yang engkau inginkan". Pertama, menyimpan makna khabar, yakni kamu melakukan apa yang kamu mau. Akan tetapi, diungkapkan dalam bentuk perintah sebagai isyarat bahwa sifat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan maksiat adalah sifat malu. Jika rasa malu sudah hilang, maka akan muncul berbagai dorongan untuk melakukan perbuatan maksiat, hingga seolah-olah maksiat itu menjadi perbuatan yang diperintahkan. Atau perintah di sini maksudnya sebagai ancaman. Yakni, silahkan lakukan sesuka hatimu, karena Allah pasti akan membalasnya.

Kedua, hadis ini memberi kesan untuk memperhatikan apa saja dikehendaki, jika ada sesuatu yang kamu tidak malu untuk mengerjakannya, maka kerjakanlah dan jika ada perkara yang kamu merasa malu untuk mengerjakannya, maka tinggalkanlah. Dan jangan kamu pedulikan orang sekitar.

Oleh karena itu, hendaklah rasa malu ini dipupuk dalam diri kita supaya senantiasa malu kalau tidak mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan merasa malu kalau tidak mengindahkan  laranganNya. Dan yang lebih penting lagi, membuang rasa tidak tahu malu supaya kita menjadi orang selamat.

Wallahu A’lam

*Faizatul Ummah

Comment

LEAVE A COMMENT