Bahaya Menggunjing dan Adu Domba

Pernahkah di antara kita mendengar gosip dan bagaimana kita meresponnya? Banyak di antara kita justru larut dalam perbincangan gosip yang sesungguhnya mengasyikkan tetapi sangat berbahaya. Pernahkah anda berpikir ketika sedang menggunjing, bagaimana jika posisi anda yang sedang digunjing.

Tentu saja semua orang tidak mau digunjing. Tetapi jika anda sudah mendapati diri sedang digunjing orang bagaimana sikap kita. Dalam pergaulan sosial tidak ada satupun yang imun terhadap gunjingan, bahkan sekaliber ulama seperti Imam Syafii pernah digunjing. Marilah kita contoh dari sikap Imam Syafii saat merespon gosip, gunjingan dan adu domba.

Suatu saat Imam Syafi’i, salah satu ulama besar pendiri madzhab Syafii,  didatangi seseorang yang menyampaikan sebuah berita bahwa si fulan dalam suatu pertemuan telah bercerita buruk tentang beliau. Lalu, apa sikap Imam Syafi’i? Bukannya marah, Beliau justru mendatangi orang yang telah menceritakan sang imam dan menyampaikan terima kasih.

Tentu saja, orang yang melaporkan ke Imam Syafii itu merasa heran dan bertanya-tanya kenapa justru mengucapkan terima kasih pada si Fulan. Imam Syafii mengatakan “saya telah menyampaikan terima kasih kepadanya karena sesungguhnya ia telah melimpahkan kebaikannya ke dalam timbangan kebaikanku tanpa saya harus berbuat kebaikan dan kejelekan saya telah dilimpahkan kepadanya”.

Itulah salah satu resiko yang harus ditanggung jika kita suka menceritakan aib orang kepada orang lain. Seluruh amal kebaikannya terhapus sementara dosa orang yang diguncing dan diadu domba akan mengalir kepada mereka yang suka melakukan itu. Itulah bahaya orang yang suka menggunjing dan mengadu domba.

Hukum Adu Domba dalam Islam

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya “apakah engkau mengetahui siapakah di antara umatku yang bangkrut?”. Lalu sahabat menjawab bahwa mereka yang  bangkrut adalah yang tidak punya harta dan uang di antara kami. Nabi bersabda “sesungguhnya orang-orang yang bangkrut di antara umatku pada hari kiamat itu adalah mereka yang datang di hari kemudian dengan banyak kebaikan, sholat, puasa, zakat, sedekah dan kebaikan, tetapi pada waktu yang sama ia juga telah mencaci maki ini dan itu, memakan harta orang ini dan itu, dan menumpahkan darah ini dan itu lalu seluruh pahala sholat, zakat dan sedekahnya dilimpahkan kepada mereka yang telah digunjing, dicaci, ditipu dan dibunuh, setelah kebaikan dan pahalanya habis maka seluruh dosa dan kesalahan orang-orang yang pernah digunjing dan dicaci dan dibunuh dilimpahkan kepadanya lalu dilemparkan ke dalam surga. Mereka itulah umatku yang bangkrut”.

Menurut sejumlah ulama bahwa ketika seseorang menggunjing, mengadu domba dan memutarbalikkan fakta maka itu adalah wujud dari lemahnya keimanan orang tersebut. Dalam Islam perbuatan tersebut disebut sebagai Namimah. Namimah adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama dengan berbagai dalil baik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Dalam suatu hadist perbuatan namimah justu menjadi penghalang bagi seseorang untuk masuk surga:

Artinya; Tidak akan masuk surga orang-orang yang suka menggunjing atau mengadu doma (namima).

 

Hadis lain:

 

Artinya; Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah belahkan orang ramai),-

 

Beberapa hal yang mendorong seseorang untuk melakukan sifat ini antara lain;

1.   tidak mengerti bahwa sifat ini diharamkan dalam agama,

2.   kesombongan dan kedengkian yang memenuhi jiwanya,

3.   senang berkumpul dengan orang yang jahat dan suka menggunjing

4.   dan tingginya keinginan untuk mengetahui kondisi setiap orang karena faktor kecemburuan.

 

Seorang muslim sejatinya menjunjung tinggi prilaku yang terpuji, baik dari segi tingka laku maupun komunikasi dan pada waktu yang sama menghindari perilaku negatif seperti menggunjing dan mengadu domba karena hal yang demikian itu sangat berbahaya terhadap kehidupan seseorang.

Menurut para ulama bahwa dampak namimah antara lain dapat

1.   merusak hubungan antara satu dengan yang lain, merusak kerukunan hidup seseorang,

2.   menimbulkan kondisi yang tidak kondusif,

3.   mengurangi riski orang lain.

4.   dan yang lebih parah lagi dapat mengakibatkan pembunuhan atau konflik antara sesama. Sebaliknya perilaku dan tindak tanduk serta komunikasi akan menghasilkan sesuatu yang positif.

 

Sebagaimana firman Allah Swt sebagai berikut:

 

Artinya: Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, yaitu: kalimah yang baik adalah sebagai sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh, dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Dia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa dengan izin Tuhannya. Dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat (mendapat pelajaran). Dan perumpamaan Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup. (Surah Ibrahim, Ayat 24- 26).

 

Umat Islam harus menjaga hubungan sosial dengan mengedepankan perkataan yang baik dengan tidak suka menggunjing, memfitnah, menghasut dan mengadu domba. Mungkin kita tidak sadar bahwa bahaya adu domba dan menggunjing tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga merusak seluruh pahala kebaikan yang dimiliki seseorang.

 

Marilah hiasi pergaulan sehari-hari dengan akhlak Nabi yang selalu mengedepankan perkatan yang baik. 

Comment

LEAVE A COMMENT