Berilmu di Lidah, Bodoh di Hati dan Perbuatan

Banyak sekali orang yang mengklaim diri sebagai orang berilmu, tetapi sejatinya dia hanya berilmu di lidah saja. Secara perbuatan bisa jadi ia tidak mencerminkan orang berilmu (alim). Sementara, hatinya masih saja dipenuhi penyakit seperti benci, dendam, dengki dan penuh amarah.

Mencari orang yang berilmu tapi tawadlu dan rendah hati seperti para sahabat, tabii’in dan para ulama terdahulu (salaf) terasa amat sulit. Para ulama mengedepankan tindakan dan amal baik sebagai contoh dan pelajaran untuk diteladani. Sedangkan hari ini, banyak orang berilmu dan pandai ceramah dan fasih bersilat lidah dengan dalil-dalil agama, tetapi kadang tidak pula mencerminkan orang berilmu dalam tindakan dan hati.

Dalam suatu majlis Sayyidina Umar ra berkata : yang paling saya takutkan kepada umat ini, ialah orang yang munafiq yang berilmu.

Hadirin bertanya : bagaimana mungkin ada orang yang munafiq berilmu?

Sayyidina Umar ra menjawab : mereka yang berilmu di lidah, bodoh di hati dan perbuatan.

Nampaknya kekhawatiran Sayyidina Umar tersebut lambat laun sudah mulai terbukti dan bermunculan. Banyak orang berilmu, tetapi ia tidak mempraktekkan ilmunya dalam tindakan tetapi hanya berhenti di lisan. Rajin menyuruh orang untuk beribadah, tetapi dia tidak beribadah. Rajin menyuruh orang berkata baik, tetapi justru ia sering berkata kotor dan memaki. Rajin menyuruh orang berbuat baik, tetapi perilakunya jelek.

Jika ada orang yang hanya pandai berceramah tetapi tidak mamp mempraktekkan ceramahnya sejatinya ia tidak masuk kategori orang alim dalam kategori ulama. Nabi bersabda :

لاَيَكُوْنُ الْمَرْءُ عَالِمًاحَتَّى يَكُوْنَ بِعِلْمِهِ عَمِِِلاً

Artinya: Tidaklah seorang itu dikatakan alim sebelum berbuat menuruti ilmunya (HR Ibnu Hibban dan Baihaqi).

Seorang yang alim adalah orang yang dengan keilmuannya dia menampakkan perilaku yang terpuji. Dengan ilmunya ia menunjukkan akhlak yang baik yang menjadi contoh bagi masyarakat dan teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi umat.

Sementara orang yang hanya mampu memainkan kata indah melalui lisan tetapi tidak seindah perbuatannya sangat dibenci oleh Allah. Mereka yang hanya mampu memotivasi orang lain untuk menjaga lisannya, tetapi ia menghiasi lisannya dengan kata-kata makian dan penuh kedengkian. Allah berfirman :

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS; As-Shaf: 3).

Karena itulah, tanggungjawab orang berilmu, para ulama, para penceramah, ustad dan kiayi teramat besar karena kapasitas keilmuannya. Inilah yang dicontohkan oleh para ulama salaf, meskipun dalam perbedaan madzhab mereka saling menghormati dan menghargai. Dengan ilmu seseorang tidak menjadikan sombong dan takabbur, sebaliknya semakin rendah hati dan sopan. Ilmu bukan menjadi alat untuk menarik perhatian, tetapi mengandalkan tindakan terpuji untuk menarik hati umat.

Nabi memperingatkan: janganlah engkau mempelajari ilmu pengetahuan untuk bersombong-sombong dengan sesama orang berilmu, dan untuk bertengkar dengan orang-orang yang berpikiran lemah dan untuk menarik perhatian orang ramai kepadamu. Barang siapa berbuat demikian maka dia dalam neraka (HR Ibnu Majah dari Jabir dengan sanad shahih).    

Disarikan dari Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin.

Comment

LEAVE A COMMENT